Rehabilitasi Jalan dan Pembangunan Tanggul Laut Dimulai

Proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana di Sulteng

- Periklanan -

PALU- Pembangunan rehabiltasi dan rekonstruksi jalan nasional dan non nasional pasca bencana serta pembangunan tanggul laut Silae, Lere, Besusu barat dan Talise (silebeta) dimulakan. Wakil menteri PUPR, John Wempi Wetipo bersama Gubernur Sulteng H. Longki Djanggola secara resmi melakukan groundbreaking rehab rekon, dengan penghamparan aspal pertama, ditandai pemecahan kendi di Finisher, di ruas jalan nasional, kelurahan Silae, Minggu (24/11).

Dilaporkan Komandan Satuan Tugas (Satgas) penanganan bencana, Arie Setiadi, ruas jalan nasional meliputi Tompe, dalam kota Palu, Surumana 48 KM, plus 21 jembatan. Jalan non nasional meliputi Palupi-Simoro, Kalukubula-Kalawara, Biromaru-Palolo dan akses jalan di hunian tetap.

Serta pembangunan tanggul pantai Silebeta, yang akan membentang mulai dari ujung jalan cumi-cumi hingga kawasan penggaraman sepanjang 7 kilometer.

‘’Kegiatan ini merupakan bagian dari rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana di provinsi Sulawesi Tengah,’’ terang Arie Setiadi.

Disamping kegiatan-kegiatan tersebut, Dijelaskan Satgas saat ini pihaknya tengah melakukan pengolahan lahan dan penyiapan prasaran permukiman di Duyu, Pombewe, Tondo dan Talise.

Selain itu lanjut Arie Setiadi, rehabilitasi irigasi gumbasa tahap I seluas 1.070 Hektar yang direncanakan besok (Hari ini), pengaliran tahap I yang akan dilaksanakan Wamen PUPR kurang leboh 500 Hektar.

Selanjutnya yang saat ini juga tengah dikerjakan penyusunan desain rehab rekon Kampus Untad, Kampus IAIN, dan RSUD Anuta Pura, desain jembatan Palu IV dan jalan logistik (elevated road) di kawasan Pantai Silebeta dan ruas jalan Kalawara-Kulawi serta pentelesaian pembangunan Flyover.

- Periklanan -

Gubenur Sulteng Longki Djanggola atasnama pemprov menyambut baik dimulainya pembangunan rehab rekon jalan nasional dan non nasional serta tanggul laut Sliebeta.

Gubernur mengaku mengapresiasi penegasan Wamen kepada jajaran PUPR, penyelesaian tahapan rehab rekon pasca bencana di Sulteng harus mulai berkahir tahun 2020 dan berakhir seluruhnya di tahun 2022.

‘’Saya dengar langsung dari pak Wempi tadi, beliau ditugaskan khusus oleh Menteri PUPR untuk menangani semua masalah-masalah bencana. Ini PR (pekerjaan rumah) buat Wamen untuk menyelesaikan, dan saya sangat bangga, bahkan pak Wamen sudah meninggalkan pesan-pesan dan perintah, bahwa tugas-tugas PUPR harus sudah mulai selesai tahun 2020 dan berakhir tahun 2022, ini luar biasa, semoga bisa selesai sesuai harapan kita semua,’’ harap Gubernur.

Dalam kesempatan itu, Gubernur juga menggambarkan bencana Sulteng 28 September lalu telah mengakibatkan kerugian mencapai Rp24 triliun dan anggaran yang dibutuhkan merehabilitasi kembali dampak bencana Rp36 triliun.

‘’Angka ini sudah dilakukan perhitungan para ahli termasuk PUPR bersama Bappenas serta kami dan telah ditetapkan melalui peraturan gubernur nomor 10 tahun 2019 tentang rencana rehabiltasi rekonstruksi pasca bencana di Sulteng,’’ jelas Gubernur.
Bencana gempa bumi yang menyebabkan tsunami dan likuifaksi telah menelan korban jiwa 4.845, jumlah pengungsi 172.999.

Kerusakan infrastruktur rumah masyarakat, rusak berat 27.662 unit, rusak sedang 28.889 unit dan rusak ringan 47.149 dan rumah hilang 6.504 unit.

Wamen PUPR John Wempi Wetipo mengungkapkan pembangunan tanggul laut (Penahan abrasi pantai) didesain untuk menahan muka air laut tertinggi agar tidak membanjiri tanggul laut Silebete.

‘’Pembangunan infrastruktur ini akan segera dikuti dengan penanaman hutan bakau berbasis partisipasi masyarakat, pembangunan jalan logistik dan wisata yang ditinggikan (elevated road), pembangunan tsunami shelter, yang terintegrasi dengan rehab rekon kampus IAIN, penataan ruang terbuka hijau untuk nelayan dan jembatan Palu IV,’’ sebut Wamen. (awl)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.