Refleksi 57 Tahun FISIP Uiversitas Tadulako

Oleh : Sudirman K. Udja

- Periklanan -

USIA 57 tahun jika dilekatkan pada manusia tentu sudah merupakan umur orang dewasa bahkan sudah memasuki orang lanjut usia.

Meskipun tidak sama persis perjalanan usia manusia dengan eksistensi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tadulako (Untad), yang lahir pada 8 Mei 1963 bersama dengan beberapa fakultas lainnya di lingkungan Universitas Tadulako (Untad) seperti Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum dan Fakultas Peternakan yang kesemuanya menjadi
cikal bakal pengembangan Untad hingga saat ini.

FISIP Untad yang telah berusia 57 tahun itu, secara kelembagaan telah melahirkan banyak insan akademis. Hal ini terbukti bahwa para alumni yang lahir dari lembaga ini sudah ribuan jumlahnya yang hingga saat ini telah mengabdi di berbagai bidang profesi yang tersebar di seluruh wilayah Republik Indonesia, terkhusus di Provinsi Sulawesi Tengah.

Tentu saja FISIP Untad ini dalam perjalanannya sejak 8 Mei 1963 hingga sekarang ini telah mengalami pasang surutnya perkembangan khususnya di bidang akademik, bidang umum, dan keuangan, serta bidang aktivitas kemahasiswaan.

Adanya pasang surut perkembangan yang dialami oleh FISIP Untad secara garis besarnya saya dapat bagi menjadi 2 (dua) tahapan yaitu : (1). Tahap perkembangan dalam status cabang Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar periode 1963 – 1980. (2). Tahap perkembangan dalam status berdiri sendiri (berpisah dari Unhas) awal periode 1980-an hingga sekarang.

Beberapa kondisi yang dapat dikemukakan pada tahapan perkembangan status cabang Unhas jumlah dosen, tenaga administrasi dan mahasiswa FISIP Untad saat itu masih sedikit. Demikian pula keadaan sarana dan prasarana perkuliahan, misalnya gedung atau ruangan perkuliahan masih kurang, yang tersebar di tiga lokasi yaitu Kampus Bumi Nyiur (BN), Kampus Bumi Bahari (BB), dan Kampus Bumi Ujuna (BU).

Selama masih dalam status cabang Unhas, semua kegiatan akademik, penelitian, pengabdian, kepegawaian, keuangan dan kemahasiswaan masih dilakukan secara manual dengan penggunaan mesin ketik. Adapun sarana komunikasi yang digunakan untuk menunjang semua kegiatan kampus hanya melalui jaringan telepon rumah (istilah yang digunakan saat itu).

Kegiatan perkuliahan tatap muka di setiap kelas hanya menggunakan papan tulis yang berwarna hitam dengan kapur tulis yang berwarna putih.
Kondisi tersebut ditandai dengan kegiatan akademiknya masih menggunakan pola lama belum mengenal Sistem Kredit Semester (SKS).

Kondisi tersebut mulai mengalami perubahan ketika Untad berpisah dari Unhas pada tahun 1980 dengan Rektor yang pertama Prof. Dr. H.A. Mattulada, MA.

- Periklanan -

Mattulada berkeyakinan bahwa Untad akan mengalami kemajuan yang pesat di masa-masa akan datang. Hal ini terbukti dengan upaya beliau untuk membangun kampus di luar kota saat itu.

Pada tahun 1982 dimulailah pembangunan Kampus Bumi Tadulako Tondo di lahan tandus. Bersamaan dengan missi pembangunan Kampus Bumi Tadulako Tondo tersebut Mattulada menanamkan prinsip “Hutan Akademik” sehingga setiap kali mahasiswa KKN ditempatkan di kampus dengan program penanaman pohon pelindung atau pohon produktif. Semua kegiatan yang dilakukan untuk mengusung missi hutan akademik ini dipayungi oleh pola ilmiah pokok Universitas Tadulako yakni “Lingkungan Hidup”.

Pada bidang akademik memang sudah mengalami perubahan ketika Untad dalam status berdiri sendiri sejak era 1980-an tersebut. Pelaksanaan kegiatan akademik telah dimulai dengan Sistem Kredit Semester (SKS).

Sistem ini dari waktu ke waktu terus mengalami perkembangan dan kemajuan. Bahkan memasuki tahun 2000-an pelaksanaan kegiatan akademik semakin kompetitif, yang ditandai dengan pembatasan waktu kuliah mahasiswa adalah 14 semester atau 7 tahun yang tidak dikenal pada era sebelumnya. Maksudnya, setiap mahasiswa yang tidak selesai dalam 14 semester atau 7 tahun, maka dinyatakan drop out (DO).

Perubahan yang terjadi semakin pesat baik perubahan dalam bentuk fisik maupun yang bersifat akademik. Perubahan dalam bentuk fisik, seperti adanya ruangan perkuliahan yang semakin baik, gedung perkantoran yang dilengkapi dengan AC dan internet, serta upaya penataan lingkungan dan pertamanan yang semakin optimal.

Saat ini kemajuan FISIP Untad dapat dikatakan semakin melejit. Semuanya itu tidak terlepas dari perjuangan dan kebersamaan 3 (tiga) pilar utama, yakni dosen, pegawai staf administrasi, dan mahasiswa. Kebersamaan yang terjalin di FISIP Untad sejak kelahirannya tanggal 8 Mei 1963 hingga sekarang tidak terlepas dari peran para pemimpinnya, diantaranya yang dapat saya sebutkan adalah, Dekan FISIP dalam status cabang Unhas, 1. H.S. Tangkilisan. 2. Azis Larekeng. 3. Drs. Tembak Kasim. 4. Drs. H. Rusdi Toana.

Kemudian, Dekan FISIP Untad dalam status berdiri sendiri, mulai dari pertama hingga yang sekarang, yakni 1. Drs. Faisal Said. 2. Drs. Haris Bundu, MA. 3. Drs. Muhammad Rasyid, MA. 4. Drs. Zainudin Bolong, MA. 5. Drs. Munir Salham, MA. 6. Dra. Nurhayati Ponulele, MA. 7. Drs. Andi Maddukelleng, M.Si. 8. Dr. Slamet Riyadi, M.Si. 9. Dr. Muhammad Nur Ali, M.Si. 10. Prof. Dr. Muhammad Khairil, M.Si (PAW meneruskan periode Dr. Muhammad Nur Ali, M.Si).

Tentu saja dalam upaya menelusuri secara cermat hal-hal yang terkait dengan proses perkembangan FISIP Untad tidak cukup ruang dan waktu dalam tulisan ini. Justru itu, hemat saya sangat penting pimpinan fakultas merancang strategi dan pola yang tepat untuk merumuskan dokumen sejarah perkembangan FISIP Untad dengan menggunakan metode ilmiah.

*) Penulis adalah Koordinator Program Studi Sosiologi FISIP Untad.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.