Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Realisasi Investasi Sulteng TW-I Naik 40 Persen

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Gubernur H Longki Djanggola usai menandatangani MoU kerja sama dengan investor yang akan berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu, di Jakarta beberapa waktu lalu. (Foto: PMPTSP)

PALU– Pemerintah Provinsi Sulteng mencatat realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) di Provinsi Sulteng triwulan (TW) I tahun 2017, naik sebesar 40 persen dibading periode yang sama tahun 2016.

Berdasarkan data yang dirilis kemarin (16/8) oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Daerah (PMPTSP) Sulteng, capaian realisasi investasi tahun 2017 sebesar Rp14.261 triliun. Sedangkan tahun 2016 capaiannya Rp10.248 triliun.

Kepala Dinas PMPTSP Sulteng Ch Shandra Tobondo mengatakan, capaian itu kembali menempatkan Sulteng memecahkan rekor tertinggi realisasi investasi di kawasan timur Indonesia. ‘’Selain itu menempatkan Sulteng berada di urutan ke-6 se Indonesia,’’ kata Shandra Tobondo, kemarin.

Shandra mengatakan, capaian tersebut semakin mendekati target yang ditetapkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI sebesar Rp21 triliun tahun ini. ‘’Capaiannya 67 persen dari target BKPM. Saya yakin target yang ditetapkan BKPM akan tercapai,’’ kata Shandra Tobondo.

Shandra menjelaskan, pada semester pertama tahun 2017 realisasi penanaman modal berdasarkan 5 wilayah terbesar, yakni Kabupaten Morowali Rp11.1 triliun, Kabupaten Banggai Rp1.6 triliun, Kabupaten Poso Rp980 miliar, Kabupaten Morowali Utara Rp196 miliar, dan Kabupaten Donggala Rp109 miliar. Sektor bidang usaha yang memiliki nilai realisiasi invetasi terbesar masih sektor indutri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik sebesar Rp9.5 triliun.

Kemudian diikuti sektor industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi Rp2.8 triliun. Selanjutnya sektor listrik, gas dan air sebesar Rp1 triliun. Sektor transportasi gudang dan telekomunikasi sebesar Rp407 miliar, serta sektor industri makanan sebesar Rp175 miliar. Sementara itu industri terbesar yakni Indonesia Guang Ching Nikel and Stainless Stell dengan bidang usaha industri logam mesin dan elektronik dan Indonesia Tsingshan Stanless Stell.

Shandra mengatakan, capaian positif itu tidak lepas dari inovasi yang dilakukan OPD yang dipimpinnya. Inovasi tersebut yakni program aplikasi e-SIIDAT yang dapat diakses melalui www.e-siidat.sultengprov.go.id. ‘’Aplkasi ini semakin mempermudah proses pengurusan perizinan yang diinginkan penanaman modal, dimana investor dapat melakukan proses pelayanan perizinan kapan pun dan dimana saja tanpa harus datang ke kantor DPM PTSP Sulteng,’’ jelas Shandra.

Selain pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota di Sulteng menerapkan pelayanan perizinan berbasis internet. Misalnya Pemkot Palu meluncurkan e-SIGA, Kabupaten Sigi me-launching e-MALEO.

Shandra berharap hal ini dapat mendorong kabupaten lain untuk mengembangkan aplikasi pelayanan dan perizinannya. Sehingga dengan adanya inovasi tersebut daerah Sulawesi Tengah termasuk daerah yang ramah dan potensial bagi para investor.(sya/*)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.