Ratusan Sarjana Berebut jadi Guru Honorer Daerah

- Periklanan -

Sarjana yang mendaftar untuk menjadi guru hionorer di Morowali Utara. (Foto: Ilham Nusi)

MORUT – Sebanyak 655 sarjana pendidikan di Morowali Utara berebut kesempatan menjadi guru kontrak daerah kabupaten tersebut. Untuk tahun ini, hanya 204 sarjana terbaik yang akan dipilih Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat.

“Hanya 655 pendaftar yang lolos uji berkas. Sekitar 50 orang pendaftar lainnya gagal pada tahap itu,” kata Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Morowali Utara, Alfred Tompira kepada Radar Sulteng di Kolonodale, Selasa (21/2).

Alfred menjelaskan, setelah melewati berbagai tahapan seleksi termasuk ujian prkatek mengajar, panitia selanjutnya melakukan skoring nilai masing-masing peserta dari urutan tertinggi sampai terendah. “Yang dipilih hanya peraih nilai tertinggi sampai pada urutan ke 204. Mereka itu yang kemudian berhak diangkat menjadi guru kontrak yang dibiayai APBD Morut,” katanya.

Menurut Alfred, 204 guru ini akan ditempatkan pada sekolah dasar dan menengah pertama di luar daerah khusus atau pedalaman dalam 10 kecamatan di Morowali Utara. Sebulan, mereka masing-masing mendapat honor Rp1,2 juta lebih. “Kita belum pastikan tanggal berapa diumumkan karena banyaknya peserta yang mengikuti uji kelayakan,” tandasnya.

- Periklanan -

Secara umum, Morowali Utara masih kekurangan 600an orang guru untuk. Namun karena anggaran daerah belum mampu membiayai kebutuhan tersebut maka tahun ini perekrutannya dibatasi. Alfred menambahkan, perekrutan 204 guru itu memang dikhususkan kepada para sarjana. Dominan dari mereka adalah guru honorer sekolah dan honorer daerah yang sebelumnya sudah diangkat.

“Hanya sarjana yang kita pilih, sebab ini sejalan dengan visi kepala daerah kita yang ingin adanya peningkatan sumber daya manusia di segala bidang, juga di pendidikan,” pungasnya.

Diyah Firiani (23), salah seorang pendaftar yang sedang mengantre ujian praktek mengajar di salah satu ruangan kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Morut, berharap statusnya bisa naik dari honorer sekolah menjadi honorer daerah. Guru pelajaran Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Bungku Utara itu mengaku sejak setahun lalu mendapat honor Rp1,8 juta yang diterima per triwulan.

“Tujuan saya ikut seleksi ini demi melanjutkan pengabdian sekaligus agar mendapat penghasilan lebih layak dari seorang guru honorer sekolah,” kata Diyah saat dihubungi Radar Sulteng, Selasa kemarin.

Tak jauh dari Diyah berdiri, Pande Putu (46) mengaku statusnya adalah guru honorer daerah di SMP Negeri 2 Petasia Barat. Tapi karena masa kontrak selesai 2017 ini, maka dia mencoba peruntungan yang sama melalui seleksi itu. Sejak mengabdi di sekolah tersebut mulai 2004 silam, Pande adalah guru pelajaran Agama Hindu. Sebelum terangkat sebagai honorer daerah dengan penghasilan Rp1 juta per bulan, tenaganya dibayar dari Rp50 ribu per bulan hingga naik menjadi Rp300 ribu per bulan. “Andai saya gagal seleksi ini, pihak sekolah masih membutuhkan tenaga saya. Pastinya status dan penghasilan saya kembali turun,” sebut Pande. Berdasarkan pantauan Radar Sulteng hingga menjelang sore kemarin, ratusan peserta masih mengantre di halaman kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Morut untuk mengikuti uji praktek mengajar. (ham)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.