Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Ratusan Pendaki Ikuti Upacara di Puncak Nokilalaki

SIGI – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke 74, para pendaki dari beberapa wilayah di Sulawesi Tengah (Sulteng), memilih mengikuti dan melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih di puncak gunung Nokilalaki Kabupaten Sigi di ketinggian 2355 MDPL.
Persiapan dilakukan para pendaki jauh hari untuk berada di kawasan gunung Nokilalaki yang merupakan gunung tertinggi di Sulteng, agar perjalanan menuju puncak yang akan memakan waktu selama enam jam perjalanan tidak mengalami hambatan.
Memasuki Kecamatan Nokilalaki, tepatnya di sekitar pemukiman warga, seluruh pendaki harus berkumpul dan mempersiapkan diri untuk masuk dalam kawasan gunung dengan berjalan kaki menuju puncak menelusuri hutan alami di kawasan Taman Nasional Lore Lindu.
Saat semua dinyatakan siap, semua pendaki diwajibkan untuk berkelompok dan berjalan beriringan, saat melakukan pendakian. Apabila ada yang tertinggal dari kelompok diwajibkan para pendaki harus menunggu kelompok lainnya yang masih ada di belakang.
Setelah berjalan menuju puncak, Radar Sulteng bersama dengan beberapa tim media lainnya bergabung menjadi satu kelompok, yang dipandu oleh pendaki senior atau yang sudah paham dengan medan jalan menuju puncak Nokilalaki.
Perjalanan selama dua jam, dari pemukiman warga, tim media harus mendirikan tenda di selter satu, karena waktu yang sudah malam, jarak pandang pun mulai terbatas. Sesampainya di selter satu kurang lebih ratusan tenda sudah berdiri. Tim media bahkan kesulitan mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Akhirnya mendapatkan sebuah lokasi membangun tenda di selter satu, namun harus mendaki dan menyeberang sungai.
Di selter satu, stamina dikumpulkan masing-masing anggota kelompok, mulai dari harus mengisi “kampung tengah” (makan) dan juga tidur dengan cukup, agar dapat melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 06.00 wita, bersama tim lainnya tim media kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Wilayah pegunungan yang cukup dingin ternyata masih menguras energy para pendaki, sehingga perjalanan selama tiga jam, hanya bisa menempuh diselter dua. Disitu terlihat, ratusan pendaki melakukan istirahat sejenak.
Tidak ingin ketinggalan momen upacara peringatan hari kemerdekaan, tim media kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak. Akses jalan setapak dengan medan menanjak serta berbatuan, membuat perjalanan sangat melelahkan. Tiba di selter tiga, tim media dihebohkan dengan sebuah teriakan minta tolong, dan keributan para pendaki melakukan evakuasi terhadap salah satu pendaki yang terserang penyakit Hipotermia akibat cuaca yang cukup dingin, badan korban menggigil, gemetar menahan dingin. Saat ditangani sejumlah pendaki senior kondisi korban sudah membaik, akhirnya tim media kembali melanjutkan perjalanan hingga puncak.
Sebelum mencapai puncak gunung Nokilalaki, ada sebuah kawasan yang biasa disebut para pendaki hutan lumut, dan juga jendela Nokilalaki, disitulah tempat peristirahatan pendaki sambil menikmati pemandangan Danau Lindu dari ketinggian.
Keakraban para pendaki sangat membantu stamina untuk berhasil tembus pada puncak gunung. Setelah mendekati puncak gunung, keramaian terlihat saat para pendaki sudah selesai melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih yang dilaksanakan tepat pukul 12.30 wita.
“Ada perubahan jadwal upacara, dikarenakan cuaca di atas bila lewat dari jam 13.00 wita, dikhawatirkan akan mengganggu perjalanan pulang para pendaki, bisa malam hari sampai bawah,” ungkap, Kepala Balai Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL), Jusman, Sabtu (17/8) saat ikut bersama dalam kegiatan upacara di puncak Nokilalaki.
Sebagian para pendaki yang sampai puncak dan tidak dapat mengikuti upacara, akhirnya tinggal mengabadikan gambar menggunakan handphone dan camera, dengan sebuah patok yang ada di puncak gunung Nokilalaki dengan ketinggian 2535 mdpl sebagai tanda sedang berada di puncak Nokilalaki. “Saya berharap agar dari pihak BTNLL bisa kembali mengevaluasi tempat atau para pendaki. Usahakan didaftar, agar diketahui jumlah yang hendak mendaki, dan tentunya bisa juga mengantisipasi pendaki yang kurang sehat, serta yang masih di bawah umur,” ungkap Mail salah seorang pendaki asal Kota Palu. (who)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.