Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Ratusan Babuk Barang Sitaan di LP Dimusnahkan

PALU – Pemusnahan ratusan barang bukti (Babuk) hasil razia di dalam UPT Pemasyarakatan, se- Sulawesi Tengah, merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan jajaran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Sulteng, di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Palu, ketika memperingati puncak Hari Bhakti Pemasyarakatan ke 55, Sabtu (27/4).
Ratusan babuk itu, terdiri dari beragam jenis handpone dilengkapi perangkat tambahannya, televisi, tape, kompor gas, kulkas dan babuk senjata tajam (Sajam) pisau atau badik, serta senjata api (Senpi). Paling miris, dari ratusan babuk itu juga terdapat alat-alat terkait tindak pidana narkotika. Mulai dari bong (Alat pengisap dari botol air mineral), pipet plastik, pirex, macis gas, puluhan pak plastik klip bening, serta timbangan mini.
Pemusnahan babuk hasil rampasan dari warga binaan (Warbin) di setiap blok tahananan itu, dimusnahkan dengan cara dibakar, serta dirusaki menggunakan Palu. Diantaranya termasuk ada yang dilelang.
“Yang dilelang, hasilnya digunakan untuk pembangunan masjid di Lapas,” kata Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Sulteng, Suprapto SH MH, ketika memandu proses pemusnahan babuk ranpasan dari warbin.
Kakanwil Kemenkumham Sulteng, Zulkifli SH MHum, memulakan pelaksanaan pemusnahan ratusan babuk, usai dirinya memimpin upacara memperingati Hari Bhakti Pemasyarakatan.
Menyikapi hal itu, Kepala Kanwil Kemenkumham Sulteng Zulkifli menegaskan bahwa pihaknya di setiap UPT Pemasyarakatan itu, telah memberlakukan sistem pengamanan dan pengawasan yang ketat.
“Setiap tamu yang berkunjung itu tentu kami lakukan penggeledahan. Namun demikian banyak cara yang dilakukan untuk memasukan barang-barang itu. Bahkan ada yang dilempar melalui tembok Lapas dan berbagai cara lagi yang berhasil kita temukan,” ujarnya kepada sejumlah awak media.
Olehnya, mengantisapi cara-cara itu, pihaknya rutin melakukan penggeledahan ke kamar atau block warbin. Setiap minggunya kata Zulkifli pihanya melakukan penggeledahan sebanyak 4 kali. Sementara menanggapi barang-barang sitaan yang kondisinya besar seperti kulkas dan TV, serta beberapa barang lagi, menurutnya itu barang-barang yang disimpan di Aula namun oleh warbin membawanya ke blok tahanan.
“Saya akui tingkat sumber daya manusia kita itu beragam, pengetahuan dan karakteristik. Kalau memang terbukti pegawai pemasyarakatan itu yang bekerjasama dengan warbin atau pembesuk hingga lolosnya barang-barang ini, saya tidak akan segan-segan menindak pegawai itu sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.
Kedepan kata Zulkilfli, pihaknya akan benar-benar meningkatkan seluruh titik pengawasan dan pengamanan di setiap UPT Pemasyarakatan sehingga apa yang dimusnahkan pada hari itu, tidak akan ditemukan lagi. Termasuk mengantisipasi pengendalian narkoba yang marak disuarakan transaksinya terjadi dan dikendalikan Warbin dalam lapas.
Jika pemusnahan ratusan babuk itu, adalah bukti komitmen jajaran UPT Pemasyarakat di Sulteng dalam upaya peningkatan pengawasan dan pengamanan, terhadap warbin maupun pembesuk UPT Pemasyarakataan yang baru berhasil saat ini, di sisi lain itu menjadi tolok ukur masyarakat terhadap lemahnya pengamanan dan pengawasan petugas Pemasyarakatan selama ini.
“Kita inginkan lembaga pemasyarakatan itu kembali pada fungsinya yakni sebagai lembaga pembinaan terhadap mereka yang tersandung masalah hukum. Namun jika demikian keadaan di dalam, ini preseden buruk bagi petugas pemasyarakatan,” ungkap Elvis DJ Katuwu SH MH, salah satu praktisi hukum di Kota Palu, yang dimintai tanggapannya soal kegiatan pemusnahan barang sitaan di Lapas Klas II A Palu, dalam memperingati Hari Bhakti Pemasyarakatan.
Kata Elvis, temuan benda sitaan para napi itu, adalah sebuah hal yang memperihatinkan. Katanya, jika hanya ditemukan bong (alat isap sabu) di lembaga pemasyarakatan, artinya para napi bisa dan mudah mendapatkan barang haram itu dari luar lembaga pemasyarakatan. Hal buruk itu menurutnya mungkin belum seberapa parah jika kembali harus dikembalikan untuk mempertanyakan pengawasan dan pengamanan petugas pemasyarakatan.
“Tapi bagaimana jika ditemukan itu plastik klip dan alat timbangan serta jumlah pirex yang banyak,? Inilah yang parah, dan menjadi pertanyaan bagi petugas pemasyarakatan. Ini artinya di dalam UPT Pemasyarakatan, diduga kuat telah terjadi transaksi jual beli barang haram itu, diantara para napi,” jelasnya.
Karena itulah harapan pengacara yang pernah menangani kasus sendal jepit di Palu ini, adalah tindak tegas dari Kakanwil Kemenkumham Sulteng yang baru. Karena menurutnya, selain lemah, diduga kuat ada petugas pemasyarakatan, ikut terlibat atau bekerjasama dengan warbin membiarkan dan membebaskan hal itu terjadi.
“Jika demikian komitmen Kakanwil Kemenkumham Sulteng akan menindak tegas pegawai pemasyarakatan yang terbukti kedapatan bekerjasama dengan warbin, itu pula harapan kita sebagai masyarakat Sulteng. Kita ingin di LP itu, benar-benar dilakukan pembinaan bermanfaat bagi warga binaan,” tandasnya. (cdy)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.