Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Random Pemilu : Believe It or Not

Oleh : Nur Sangadji

PUNCAK dari pesta demokrasi kita sudah usai. Semua rakyat dengan sangat antusias beri suara. Perkiraan saya, semoga benar. Inilah pemilu dengan Spirit partisipasi publik yang sangat tinggi. Bila angkanya ternyata rendah. Itu, karena banyaknya masalah faktor teknis. Misalnya kekurangan surat suara di TPS karena kendala administrasi. Ada tetangga yang berjalan dari TPS ke TPS untuk agar bisa beri suara. Fenomena bernegara yang menggembirakan. Lahir dari rasa tanggung jawab yang tinggi. Sayang, kalau sia-sia.

Sungguh, yang tersisa dari Pemilu kita, tinggallah taruhan kepercayaan pada hasilnya. Dan, inilah ujian terberat bagi sebuah bangsa. Dahulu kala, hasil ini baru kita peroleh dalam hitungan mingguan setelah hari pencoblosan. Sekarang, hanya hitungan jam saja. Kecanggihan riset via teknologi informasi dalam bentuk “quick count” yang menjawabnya. Karena itu, ini juga taruhan bagi ilmu pengetahuan.

Dalam riset, kita punya dua cara untuk mendapatkan informasi dan mengujinya. Pertama, mengambil semua (all) . Kedua, mengambil sebagian saja (part). Sensus adalah contoh yang pertama. Sedangkan, random sampling adalah contoh yang kedua. Sama dengan fakta dan model. Kalau kita kaitkan dengan pemilu, “real count”, adalah contoh pertama. Sementara, “quick count” adalah contoh kedua.

Saat ini, seluruh rakyat Indonesia sedang terpilah pada dua hal tersebut. Antara percaya atau tidak pada “quick count” dan menunggu “real count”. Benturan kepentingan antar keduanya sangat tajam, karena menyangkut kalah menang dalam kontestasi. Di sinilah teknik perhitungan menjadi penentu.

Sedikit pembanding, kita lihat kejadian serupa di negara modern. Amerika Serikat dengan kerasnya pertarungan Tram versus Hilary. Namun, begitu muncul hasil, langsung disiapkan event atau panggung bernama “The speech of acceptance”. Lionel juspine, setelah kalah dari Jaque Siraque di pemilu Perancis, langsung membuat pernyataan “je vous salue, parceque vous etez beacoup croiyed par les peoplement (saya ucapkan selamat, kamu lebih dipercaya oleh rakyat). Indonesia? Masih atau sedang mendebatkan “quick count”, hasil Pemilunya.

Sebenarnya Teknik “Quick Count” ini adalah pendekatan riset yang sangat modern, kontemporer dan canggih serta akurat. Dia merombak asumsi random sampling (sample size) yang selama ini dianut sebesar 10 sd 15 persen dari total populasi. Sampelnya bahkan, sering hanya nol koma sekian. Dan, kita percaya itu.

AC Nielsen Jr mengatakan, “if you don’t believe in random sampling, the next time you have blood test, tell the doctor to take it all”. Maknanya kurang lebih, jika kamu tidak percaya random sampling, satu waktu kamu ingin periksa darah, maka bilang pada dokter untuk ambil saja semua darah dalam tubuh mu.

Tapi, masalah yang disoal orang saat ini bukan pada random samplingnya atau kecanggihan metodologi survey dengan pendekatan statistiknya. Tapi, lebih pada cara kerjanya. Di sini melibatkan subjektivitas penelitinya. “Statistic can not lie. The lier is statiscian”. Ada yang bilang, secanggih apapun senjata, tetap yang menentukan adalah manusia pengendalinya (the man behind the gun).

Kalau mau jujur, harus akui bahwa kesalahan dalam metodologi adalah keniscayaan. Malah, disiapkan secara sengaja (manusiawi) dengan istilah galat (margin error). Boleh berkisar antara 0.5 sampai 0.1. Bila kesalahannya sangat besar maka kualitas riset tersebut patut dipertanyakan. Apalagi kalau kesalahan tersebut dirancang secara sengaja untuk kepentingan tertentu. Jika ini terjadi, aib bagi seorang peneliti, sebab sama dengan menghina ilmu pengetahuan.

Pertanyaannya, apakah :”quick count” yang sekarang terjadi, bisa dijamin akurasinya? Tergantung perbandingannya dengan “real count” nanti. “Real count” harus dipercaya. Jika dimanipulasi, dia tidak lagi bernama “real count”. Ada banyak fakta yang menunjukkan kesesuaian atau perbedaan kecil. Tapi, ada juga fakta yang menunjukkan kebalikannya.

Hemat saya, bila hasil riset “quick count” itu bertolak balik dengan fakta, maka penelitinya dipertanyakan. Dia tidak boleh hanya disanksi secara moral akademik. Tapi, juga perlu dihukum sebagai penyebar hoax. Tentu, lebih dahulu diperiksa metodologi hingga motif individunya.

Oleh karena semua ini menyangkut Pemilu, maka konteksnya menjadi mutlak. Sebab, amat berbahaya bila kita memiliki pemerintahan yang lahir dari hasil hoax. Khawatirnya, kita terpapar situasi yang oleh Hugo Adam, disebut “civil disobedience”. Situasi yang menggambarkan “the right to object and obey the law”. Situasi dimana orang tidak percaya pada apapun yang diucapkan oleh pemerintah. Dicatat sebagai pembangkangan warga. Ketika situasi ini terjadi, sesungguhnya negara sudah tidak ada. Janganlah.(*)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.