Ramadan Berkah, Masyarakat Sumringah (Gembira)

Oleh : Mohamad Rivani, S.IP., M.M *)

- Periklanan -

BERBEDA dari Ramadan tahun lalu, bulan Ramadan tahun ini tampak lebih meriah dan menyenangkan bagi umat islam secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum, hal ini dikarenakan adanya aturan pemerintah yang membolehkan Masjid-masjid untuk melaksanakan Salat Tarawih secara berjamaah sehingga menghidupkan kembali suasana agamis di bulan yang penuh rahmat dan maghfirah ini.

Selain itu, Ramadan tahun ini dirasa lebih lengkap, karena pusat perbelanjaan mapun pasar, termasuk pasar Ramadan yang menjadi salah satu pusat belanja kebutuhan berbuka para kaum muslimin dan masyarakat luas, kini kembali ramai dan bergairah ditengah pandemi yang masih melanda Indonesia.

Sungguh merupakan pemandangan yang sangat dirindukan ketika bulan suci Ramadan tiba. Hal ini sangat kontras dengan Ramadan tahun lalu yang penuh dengan pembatasan, baik aktivitas ibadah maupun aktivitas sosial. Bukan itu saja, Ramadan 1442 Hijriah tahun ini juga mampu membuat tersenyum banyak pihak, karena kondisi perekonomian Indonesia yang semakin membaik dari waktu ke waktu.

Data Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS-RI) membenarkan hal itu. BPS RI merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan IV tahun 2020 sebesar-2,19 persen (yoy), lebih baik dari triwulan sebelumnya yang sebesar -3,49 persen (yoy).

Perbaikan ekonomi Indonesia triwulan IV 2020, ditopang oleh realisasi stimulus dan kontribusi positif sektor eksternal. Tercatat konsumsi pemerintah tumbuh positif sebesar 1,94 persen tahun 2020, hal ini dipengaruhi oleh realisasi stimulus pemerintah, utamanya berupa bantuan sosial, belanja barang dan jasa lainnya, serta Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD).

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga membaik pada triwulan IV 2020, yakni tumbuh -3,61 persen (yoy) dari -4,05 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya, hal ini seiring dengan perbaikan mobilitas masyarakat yang secara berangsur-angsur pulih.

Secara keseluruhan tahun, konsumsi rumah tangga terkontraksi sebesar 2.63 persen. Pertumbuhan dari sisi investasi juga membaik, dari-6,48 persen (yoy) pada triwulan III menjadi -6,15 persen (yoy) di triwulan IV 2020, sehingga secara keseluruhan tahun mengalami kontraksi sebesar 4,95 persen.

- Periklanan -

Sementara itu, Net ekspor tercatat positif ditopang perbaikan kinerja ekspor sejalan dengan perbaikan kinerja perekonomian di beberapa negara tujuan ekspor di tengah masih terbatasnya kinerja impor. Menteri Keuangan memprediksi bahwa pada triwulan I 2021 ekonomi Indonesia akan tumbuh -1 persen sampai -0,1 persen dan akan terus tumbuh ke arah yang positif pada triwulan II 2021.
Senada dengan Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI) juga mengatakan hal yang sama, bahwa pada triwulan II 2021 ekonomi Indonesia mampu tumbuh positif diatas 4 persen. Bahkan secara khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, mematok pertumbuhan ekonomi 7 persen di triwulan II 2021 untuk menjaga pertumbuhan 5 persen di tahun 2021 yang menjadi target pemerintah, dengan menjadikan bulan Ramadan tahun ini sebagai momentum untuk tumbuh.

Dan untuk merealisasikan hal tersebut, pemerintah telah membuat kebijakan guna menaikkan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia di bulan suci Ramadan yaitu dengan mewajibkan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para karyawan swasta, pencairan THR untuk Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI dan Polri serta pencairan bantuan sosial (Bansos) dan bantuan langsung tunai (BLT) termasuk BPUM untuk masyarakat yang berhak, serta para pelaku UMKM yang terdampak akibat Covid-19.

Bisa kita bayangkan, jika seluruh stimulan pemerintah tersebut cair dan dibelanjakan oleh para penerima, maka akan terjadi perputaran ekonomi yang mampu menggerakkan sektor rill dengan cepat dan massif. Hal ini yang kemudian menjadi salah satu pemicu dalam menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan II 2021 kearah yang positif.

Mungkin ini salah satu berkah bulan suci Ramadan pada tahun ini, yaitu mampu memberikan senyuman kegembiraan buat sebagian besar masyarakat Indonesia, baik itu dari kalangan kelas atas, menengah, maupun bawah, karena akan kecipratan manfaat dari stimulus yang diberikan oleh pemerintah melalui berbagai macam program kebijakan pro rakyat beserta implikasi yang menyertainya.

Khusus buat kaum muslimin dan orang-orang yang beriman, ada suatu kegembiraan yang akan didapatkan di bulan suci Ramadan. Kegembiraan itu meliputi, gembira saat berbuka puasa, gembira karena seluruh amalan yang dikerjakan akan dilipatgandakan pahalanya, dan terakhir gembira karena memenuhi panggilan Allah SWT untuk berpuasa. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 183: Yaa ayyuhalla lazina amanu kutiba ‘alaikumusiiyammu kama kutiba ‘alallalazina min qablikum la’allakum tattaqun. Artinya, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkannya puasa itu atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.”

Mudah-mudahan Ramadan kali ini menjadi momentum perubahan yang signifikan buat bangsa kita untuk keluar dari kemerosotan ekonomi, dan kita berdoa agar dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan 1443 H tahun depan, dengan situasi dan suasana yang lebih baik dari tahun ini, agar aktivitas mudik yang dilarang oleh pemerintah saat ini dalam rangka pengurangan angka penularan Covid-19 tidak terjadi ditahun depan. Terakhir kita juga berdoa agar bumi Indonesia dapat terbebas dari pandemi Covid-19 secepatya. Aamiin Ya Robbal Alamin.

*) Penulis adalah pemerhati masalah Sosial dan Ekonomi Sulawesi Tengah, dan ASN BPS Provinsi Sulteng.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.