Radar Sulteng dan Perwakilan Museum Diundang UNESCO Belajar di Jepang

- Periklanan -

PALU – Badan Kebudayaan PBB (UNESCO) menaruh perhatian khusus terhadap bencana gempa dan tsunami yang mendera Kota Palu, Sigi dan Donggala. Mereka menaruh perhatian terhadap upaya recovery dan restorasi Museum Sulteng, yang menderita banyak kehilangan koleksi bersejarah dan arsip karena rusak akibat bencana.

Ada 4 program kebencaan yang dijalankan oleh UNESCO. Selain membantu memperbaiki koleksi Museum Sulteng yang rusak, UNESCO juga membantu peningkatan SDM dalam metode penyimpanan anti aman bencana dan mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.

Khusus untuk itu, UNESCO mengundang staf senior Museum Sulteng yakni Wakil Kepala Museum Sulteng, Drs Iksam Djahidin Djaromi MHum dan Redaktur Radar Sulteng Nur Soima Ulfa S.IKom untuk belajar seminggu di Jepang.

- Periklanan -

“Sebuah study tour yang melibatkan dua profesional dari Sulawesi Tengah untuk belajar di Tohoku, Jepang, tentang metode penyimpanan (koleksi dan arsip, red) anti bencana dan belajar tentang membangun kepekaan masyarakat terhadap mitigasi bencana melalui kearifan lokal,” terang Direktur dan Perwakilan UNESCO Regional Asia Pasifik di Jakarta, Shahbaz Khan, dalam undangannya.

Terpilihnya perwakilan Radar Sulteng untuk ikut serta ke Jepang, berhubungan langsung dengan peran surat kabar lokal sebagai “pencatat” peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat. Hasil liputan yang tersaji dalam cetakan koran, menjadi arsip penting untuk diselamatkan. Utamanya dalam situasi bencana.

Seperi yang dijelaskan oleh Prof Isamu Sakamoto, seorang ahli restorasi benda pusaka dan arsip asal Jepang yang menjadi bagian dari program UNESCO tersebut. Isamu juga terkesan dengan Radar Sulteng yang mampu hadir di tengah masyarakat Sulteng pasca 4 hari setelah bencana di website resminya dan mencetak koran pada 8 Oktober 2018. Satu-satunya surat kabar yang operasional kala itu.

Terkait dengan tujuan tersebut, kunjungan belajar dipadatkan selama 7 hari. Adapun tempat yang dikunjungi adalah museum, kantor surat kabar dan universitas di Tokyo, Sendai serta Tohoku. Tempat-tempat tersebut memiliki sejarah panjang gempa dan tsunami, namun dapat bangkit kembali.(lib)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.