Pukat Dirobek, Buaya Berkalung Ban Lolos Lagi

- Periklanan -

PALU – Semua upaya telah dilakukan oleh Panji dan Tim Jawa Pos – Radar Sulteng untuk bisa memancing Buaya Berkalung Ban (B3) itu agar bisa menepi kemudian Panji dapat melakukan aksi penyelamatan hewan reptil satu itu melepaskan ban dari tubuh buaya malang tersebut.

Panji bersama tim ketika mengamati pukat yang berhasil dirobek buaya berkalung ban saat dilakukan upaya penangkapan, tadi malam. (Foto: Dite/Jawa Pos)

Beberapa hari sebelumnya sejumlah cara dan trik sudah dilakukan dimulai dari memancing buaya dengan seekor ayam, mengepung buaya secara bersamaan, memasang pukat dan kali ini membuat jeratan yang mana ketika buaya berkalung ban tersebut memasuki area jeratan maka dengan segera tim yang sudah bersiap menarik tali agar hewan reptil tersebut terikat dan tidak bisa lagi kabur kedalam air.

Sekitar Pukul 10.00 Wita Kamis Pagi (25/10) kemarin Tim Jawa Pos – Radar Sulteng memasang perangkap tersebut di tempat biasa buaya itu berjemur yaitu dikawasan lokasi reklamasi. Perangkap tersebut kelihatannya akan berhasil sebab beberapa kali buaya berkalung ban itu berusaha mendekati perangkap yang sudah dipasang seekor ayam sebagai umpan agar buaya malang itu bisa naik kedaratan.

Sore hari Panji dan Tim Jawa Pos – Radar Sulteng turun untuk melakukan pemantauan serta mengawasi gerak gerik buaya berkalung ban tersebut.

Menurut Panji buaya tersebut ketika berusaha didekati dirinya, Rabu malam (24/1) di bibir pantai talise, buaya kembali mundur dan masuk kedalam air, karena masyarakat kembali beramai-ramai menonton aksi Panji. Hal tersebut membuat kembali menjadi kendala Panji melakukan evakuasi.

- Periklanan -

“Kemarin itu sudah mau berhasil. Cuma karena masyarakat berkumpul dan ramai akhirnya buaya itu balik lagi kedalam air. Padahal sedikit lagi bisa di evakuasi,” ucap Panji kemarin.

Sebelumnya Panji sudah berinteraksi dengan sejumlah pemerhati dan dokter hewan yang ada di Jakarta terkait langkah selanjutnya yang akan ditempuh sang aktivis satwa tersebut untuk melakukan upaya menyelamatkan buaya malang itu. Sayangnya dokter hewan yang diajak berkonsultasi dengan Panji tidak menyarankan Panji melakukan pembiusan kepada buaya berkalung ban tersebut, karena berisiko akan menyebabkan kemampuan motoriknya menurun dan itu bisa menyebabkan kemampuan berenang buaya itu menurun yang pada akhirnya akan mengakibatkan tenggelam serta gagal nafas.

“Dibius bukan solusi, yang ada Buaya bisa mati” Ujar Panji.

Panji dan Tim Jawa Pos – Radar Sulteng terus mencari ide dan cara bagaimana yang tepat untuk lakukan evakuasi buaya naas tersebut agar bisa terbebas dari ban bekas yang sudah kurang lebih dua tahun melingkar di leher buaya malang itu.

Sementara itu memasuki malam hari, tim penyelamatan B3 tak menyerah. Memasuki hari kelima, tim terus bekerja siang dan malam dengan berbagai perangkap. Namun lagi-lagi buaya tersebut berhasil lolos.

Upaya penjebakan buaya tersebut dilakukan sejak pagi oleh tim penyelamat. Tujuannya cuma satu. Membawa buaya naik ke darat. Ayam dan bebek sempat dipasang sebagai perangkap di dekat pulau reklamasi. Tapi buaya itu hanya mau mendekat. Tak mau menyantap jebakan.

“Sebenarnya dia sudah lapar itu. Tapi dia sepertinya ragu,” ujar Panji. Tak berhasil pagi hingga siang, penjebakan dilakukan malam hari. Kebetulan buaya terlihat di dekat pasir pantai area reklamasi. Penjebakan buaya dengan pukat pada malam hari sekitar pukul 21.00 nyaris berhasil. Buaya sudah di dalam area pukat. Tapi satwa liar itu berhasil mencabik-cabik jaring dan lolos. (cr3/Gun)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.