PT. Graha Kayong Rugikan Negara Rp 800 Juta

Sampingkan Kualitas, Kontraktor Terkesan Ambil Keuntungan Besar

- Periklanan -

DONGGALA – Lebih dari sepuluh item proyek infrastruktur tahun anggaran 2018 di Kabupaten Donggala bermasalah. Beberapa item proyek bermasalah itu mulai dari pembangunan drainase, SPAM hingga peningkatan struktur jalan disejumlah wilayah.

Pagu anggarannya pun beragam, mulai dari Rp1 miliar hingga Rp 10 miliar. Tercatat nilai anggaran terbesar untuk proyek infrasturktur tahun 2018 adalah proyek peningkatan struktur jalan Masaingi Kecamatan Sindue dengan jumlah anggaran sebesar Rp10 miliar. Proyek itu dimenangkan oleh PT Graha Kayong. Perusahaan jasa konstruksi itu digunakan oleh pengusaha bernama, Frengki.

Namun jumlah anggaran yang besar tersebut tak menjamin kualitas pekerjaan yang baik. Buktinya pada proses pengerjaan tahun lalu tampak proses pengaspalan dilakukan seperti asal-asalan. Bayangkan saja, aspal dengan mudah terkelupas. Padahal proses pengaspalan itu baru saja selesai dilaksanakan.

Tidak maksimalnya hasil pekerjaan tersebut disebabkan banyaknya jumlah volume yang di “curi” oleh kontraktor. Misalnya pada Lapis Pondasi Agregat Kelas B yang tidak sesuai kontrak. Tak hanya itu saja, pihak kontraktor juga mengambil keuntungan lebih pada volume Latasi kelas A, lapis permukaan penetrasi macadam hingga pasangan batu dengan mortar.

- Periklanan -

Bukti kecurangan kontraktor itu semakin jelas ketika Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Sulteng melakukan audit terhadap proyek “gajah” tersebut.
BPK menemukan selisih kekurangan volume yang sangat besar pada proyek itu. Misalnya pada volume lapis pondasi agregat. Di dalam kontrak volumenya sebesar 5.062 kubik, namun setelah dicek fisik, ternyata hanya 3.498 kubik. Hal itu menyebabkan selisih yang sangat besar yakni 1.564 kubik. Jika dirupiahkan selisih itu bernilai Rp557 juta.

Selisih itu juga ditemukan pada volume lapis permukaan penetrasi macadam sebesar 106 kubik yang bernilai Rp195 juta. Aksi mencuri volume itu juga terjadi pada latasir kelas A dan lainnya. Sang kontraktor terkesan sangat “Rakus” keuntungan. Pasalnya pengusaha bernama Frengki itu sudah cukup banyak mendapat keuntungan dari kepemilikan alat pengaspalan pribadinya. Namun hal itu tak membuatnya segan untuk tetap “mencuri” volume pekerjaan.

Radar Sulteng kemudian melakukan upaya konfirmasi kepada kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Donggala, Ir Syafrullah. Namun sayangnya Kadis PUPR tak ada ditempat. Saat dikonfirmasi via telepon, Syafrullah juga tak menjawab panggilan telepon.
Tak sampai di situ, upaya konfirmasi juga dilakukan dengan mencoba menghubungi langsung Kontraktor terkait pekerjaan yang menyebabkan kerugian negara hampir Rp 1 miliar tersebut. Sayangnya juga tak mendapat respons. Saat Radar Sulteng memperkenalkan diri, Frengki langsung menutup telepon. “Maaf ya, maaf ya,” katanya sambil menutup teleponnya.
Berdasarkan penelusuran Radar Sulteng ke ruas jalan Masaingi – Ape Saloya, beberapa titik jalan sudah tampak rusak dan berlubang. Kekurangan volume pekerjaan itu memang terlihat jelas di salah satu titik tepatnya di dusun V Desa Masaingi. Aksi mencuri volume pekerjaan itu menyebabkan kualitas jalan sangat buruk. Jika terjadi hujan, maka air akan menggenang di jalan. Hal itu disebabkan kondisi jalan yang di aspal lebih rendah dari drainase.

Warga setempat, Tasnin mengatakan, ruas jalan yang berada tepat di depan rumahnya itu juga bagian dari progres pekerjaan. “Berlubang begitu,” katanya.
“Tipis sekali apsalnya, kaya tidak di timbun,” sambung warga lainnya bernama Anika.

Selain di Masaingi, kondisi ruas jalan di bagian Desa Saloya sudah rusak parah. Namun kerusakan parah itu disebabkan oleh gempa. (ujs)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.