PT CORII Batal PHK Karyawan

- Periklanan -

MORUT–Ratusan karyawan PT Central Omega Resources Industri Indonesia (CORII) akhirnya dapat bernafas lega. Hal itu menyusul ketetepan dewan Direksi yang menganulir pemberhentian hubungan kerja (PHK) sepekan lalu.

Keputusan tersebut dikemukakan Humas Eksternal PT CORII Ir Ratnawati Iriani kepada Radar Sulteng via telepon, Sabtu (5/1). “Direksi PT CORRI membatalkan keputusan PHK karyawan. Status karyawan kembali aktif seluruhnya,” kata Ratnawati.

Ia menjelaskan, keputusan di atas adalah hasil kajian ulang para pemegang saham terkait pemberhentian sementara operasional pabrik. Meski proses PHK dirubah menjadi karyawan dirumahkan, namun Ratnawati memastikan, upah pokok para karyawan PT CORII tetap dibayarkan. “Yang dirumahkan tetap terima gaji dengan ketentuan tetap kembali bekerja saat dibutuhkan,” jelasnya.

Mengenai rumor pesangon yang terlanjur dibayarkan perusahaan, ia menyebut dana itu adalah biaya transportasi karyawan yang ingin kembali ke daerah masing-masing. “Bagi karyawan luar daerah yang dirumahkan diberikan biaya transportasi, bukan pesangon PHK. Untuk karyawan dalam daerah tidak diberikan,” katanya.

Lebih lanjut Ratnawati menuturkan, meski status di atas sudah jelas, namun divisi HRD PT CORII masih berunding terkait pilihan untuk para karyawan yang ingin resign dari pabrik pemurnian nikel itu. “Perusahaan tidak membatasi keputusan karyawan, tetap mau menunggu saat dirumahkan atau memilih resign,” imbuhnya.

Saat ini, Ia belum dapat membuka data berapa banyak karyawan dirumahkan tersebut. Hal itu dilakukan hingga proses ini benar-benar tuntas tanpa masalah.

- Periklanan -

“Pasti kita rilis berapa banyak jumlah karyawan rumahan dan aktif di pabrik. Intinya karyawan rumahan suatu waktu wajib bekerja saat dipanggil,” sebut Ratnawati.

Seperti diberitakan sebelumnya, manajemen PT CORII mengumumkan seluruh aktivitas produksi meliputi QAQC, BF, Sinter, Raw Material, Logistic, Laboratorium, Maintenance, dan lain-lain dinyatakan berhenti. Kecuali Power Plant (sebagai penyediaan listrik) dan beberapa permesinan lainnya. Keputusan itu berlaku 30 Desember 2018 pukul 19.00 wita.

Penghentian operasional pabrik smelter itu karena sejak pabrik beroperasi di awal hingga saat ini tidak pernah mencapai target produksi.

Penyebabnya karena konstruksi pabrik tidak memenuhi standar, sehingga terjadi pemborosan untuk pengunaan kokas yang mana saat ini harga kokas sangat tinggi.

Dalam kondisi itu, manajemen ternyata berupaya agar operasional pabrik itu bertahan. Namun meski telah melakukan rekayasa ulang oleh tim internal pabrik (TKA), akan tetapi proses ini tidak pernah berhasil.

Akibat kerugian terus menerus yang dialami oleh perusahaan, para pemegang Saham PT COR II memutuskan akan melakukan rekayasa ulang (re-engineering) terhadap konstruksi pabrik secara keseluruhan.(ham)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.