Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

PSS XXV: Jadi Serba Pertama

Penulis: Bagus Azhari, Fotografer: Anas Ridha Alhaq, Fikri Suni

PEKAN Seni Smansa (PSS) bukan pentas seni (Pensi) baru. Malah, jika merujuk sejarah, PSS adalah Pensi pertama yang diinisiasi oleh OSIS di Kota Palu. Olehnya, PSS bukan hanya tertua tapi juga menjadi pionir lahirnya Pensi serupa di sekolah menengah atas lainnya.

Nah seakan me-reset waktu, PSS kembali menjadi pionir. Di PSS XXV yang digelar pada 15 Juni 2019, semuanya terasa jadi serba pertama. Apa saja itu? Zetizen Radar Sulteng merangkumnya buat kalian. Yuk disimak!

JADI SIMBOL KEBANGKITAN
Setelah bencana 28 September 2018, PSS XXV menjadi Pensi sekolah pertama yang berhasil digelar dan terbuka untuk umum. Kesuksesan salah satu program besar OSIS SMAN 1 Palu ini menjadi simbol kebangkitan Pensi di Kota Palu dan membawa harapan serupa bagi Pensi lainnya.

Fyi, kalian pastinya belum lupa kan, karena bencana gempa dan tsunami di akhir 2018 lalu, ada beberapa Pensi sekolah dengan skala besar terpaksa batal dilaksanakan. Ada pula Pensi yang tiba-tiba berubah menjadi konser amal tertutup, karena menghormati suasana berduka. So, adanya PSS XXV menjadi angin segar sekaligus pertanda kembali normalnya kehidupan di sekolah.

Meski demikian panitia PSS XXV tetap bersikap humble lho dan tetap bersikap hati-hati. Sebab meskipun sebagian besar aktivitas masyarakat Kota Palu kembali normal pascabencana gempa, namun adanya bencana banjir bertubi-tubi di Kabupaten Sigi, menjadi perhatian dan keprihatinan tersendiri bagi panitia. Olehnya, PSS XXV digelar dengan mengusung tema Charity dan Art Fest.

Muhammad Zayem Afif, selaku ketua panitia PSS XXV, mengungkapkan tema yang dipilih selaras dengan kondisi Kota Palu saat ini. Dia mengatakan PSS kali ini tidak hanya sekadar festival musik, tetapi juga mengusung misi kemanusiaan. Dimana 10 persen dari pendapatan dari event ini akan didonasikan kepada masyarakat di Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi. “Mengingat kita dahulu pernah menjadi korban bencana juga,” ujar Afif.

REKOR BARU WAKTU PELAKSANAAN
Sejak pertama kali digelar, PSS tetap setia dengan waktu pelaksanaan yakni sore hari. Tidak seperti Pensi sekolah lainnya, yang puncak acara digelar malam hari dengan main performance artis /band nasional. Namun, hal berbeda terjadi di PSS XXV.
Rekor baru waktu pelaksanaan terjadi karena puncak acara justru dilakukan di malam hari. Tapi ini bukan karena disengaja lho. Melainkan karena cuaca yang tidak bersahabat sejak siang hari. Yup! Hujan menguyur hampir disepanjang hari tanpa jeda. Bukan hujan rintik, tetapi hujan deras.

Kondisi ini juga mempengaruhi jadwal pentas beberapa ekskul seni dan band lokal yang telah dijadwalkan secara rapi sebelumnya. Seperti yang dialami oleh Sweet Emoticon (SMA Al Azhar), ABS (SMANSA),Kuas Smada, Robobean, Teater Spontan (SMANSA) dan Modern Dance dari BDS. But, seperti kata orang: show must go on!

PSS XXV pun dibuka secara resmi oleh Kepala SMA Negeri 1 Palu, Zulfikar Is Paudi SPd. Setelah itu, Break Dance Smansa (BDS) sebagai penampilan pembuka di halaman depan panggung. Hujan mulai turun saat itu meski rintik.

Namun, tidak berapa lama hujan mengguyur venue semakin deras. Penampilan band Sweet Emoticon saat itu cukup memanaskan panggung yang dingin karena hujan. Meski, setelah penampilan mereka, panitia memutuskan untuk menghentikan semua aktivitas sementara waktu, karena hujan deras. Beberapa penampilan terpaksa dibatalkan. Break dilakukan hingga pukul 18.00 WITA.

PERTAMA BAGI ENDA N RHESA
Seperti yang telah dijanjikan panitia, gate PSS XXV dibuka pukul 18.00 WITA. Menunggu bada Magrib, panggung PSS XXV kembali diisi dengan penampilan band lokal indie Sejuk Sendu. Selaras dengan hujan yang semakin meredah, penonton pun kembali hadir dan berdatangan ke venue.

Sejuk Sendu hadir dengan lagu bergenre folk, yakni Duka Bersama Hujan. Seakan menyatu dengan situasi, lagu ini sukses menyentuh penonton dengan lantunan musik dan suara rintikan hujan.

Tidak lama setelah itu, penonton kembali dibuat riuh dengan kehadiran duo musisi genius Indonesia, Endah N Rhesa di atas panggung PSS XXV. Ini merupakan panggung pertama bagi Endah N Rhesa di Kota Palu.

Penonton pun terlihat bersemangat meski hujan mengguyur. Hujan yang turun seakan menambah kemeriahan malam itu. Lagu pertama yang dinyanyikan oleh Endah N Rhesa berhasil membuat penonton hanyut. Apalagi ketika Endah dan Rhesa sangat mesra dengan memainkan dengan satu gitar dan membuat penonton pun ikut melambaikan tangan sesuai iringan petikan gitar.

Lagu penutup Endah N Rhesa yang berjudul Liburan Indie membuat suasana begitu meriah, penonton tak mau kalah mereka melompat dan ikut bernyanyi. Sebagai penutup, Endah mengungkapkan bahwa hari ini merupakan hari spesial. Pasalnya, hari itu adalah hari pernikahan mereka yang ke-10 tahun dan menandakan 15 tahun mereka bersama dalam blantika permusikan Indonesia. Wah selamat yah kak!

Kemeriahan malam PSS XXV kembali berlanju dengan kehadiran Budi Doremi. Sebagai pembuka, Budi Doremi menyanyikan lagunya berjudul Asmara Nusantara. Dia menyanyikan lagu yang penuh dengan romansa itu dengan baik sehingga menyentuh hati. Para penonton ikut melambaikan tangan sesuai dengan irama musik dan bernyanyi bersama.

Setelah menghipnotis penonton dengan lirik penuh romansa,tak disangka-sangka Budi Doremi menyanyikan lagu Sayur Kol yang sempat viral dengan lirik yang lucu. Penonton pun dibuat histeris ketika Budi Doremi mengajak seorang penonton untuk bernyanyi bersama di atas panggung. Momen itu membuat penonton sangat terhibur walau hujan tetap mengguyur.

Sebagai penutup, lagu Doremi dilantunkan. Di lagu pertama yang membuat Budi Doremi dikenal luas di Indonesia ini, dimainkan deengan begitu baik dengan petikan gitar khas miliknya. Membuat penampilannya malam itu diingat selalu oleh penggemarnya di venue PSS XXV.

Good job guys, See you in PSS XXVI!(**)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.