alexametrics Proyek Sekolah di Petobo Terbengkalai, Molor 295 Hari Kalender – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Proyek Sekolah di Petobo Terbengkalai, Molor 295 Hari Kalender

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU-Relawan Pasigala, mengungkap adanya jaringan konspirasi yang diduga kini memainkan peran penting dalam kegagalan rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab rekon) fasilitas pendidikan dasar fase 1B yang dikerjakan oleh PT.SMI di 19 lokasi Kota Palu dan Kabupaten Sigi.

Dijelaskan Moh. Raslin, Mega proyek yang bersumber dari utang Bank Dunia tersebut dinilai telah meresahkan guru-guru dan anak didik (murid) Madrasah serta Sekolah Dasar (SD) Kota Palu dan Kabupaten Sigi, karena saat ini belajar tatap muka telah dibuka kembali, namun 19 sekolah tersebar di wilayah Kota Palu dan Sigi belum terlihat tanda-tanda akan segera digunakan untuk kegiatan belajar mengajar atau masih jauh panggang dari api.

“ Pinjaman luar negeri untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi Sulteng, pemerintah Indonesia telah mengajukan pinjaman ketiga dari lembaga donor asing yakni JICA, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Bank Dunia. Total pinjaman dana dari ketiga donor tersebut setara Rp 11,27 triliun, “ ungkap Raslin.

Raslin merinci, terdiri dari realokasi pinjaman dan pinjaman baru.
Berbagi sumber pendanaan dari pinjaman luar negeri dalam bentuk utang tersebut digelontorkan untuk pembangunan infrastruktur, hunian tetap (Huntap) dan sarana pendidikan tersebar di wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala (Pasigala) termasuk penanganan rehab rekon fasilitas pendidikan dasar fase 1B senilai Rp 37,4 miliar untuk pembangunan 19 madrasah dan SD

Pendanaan pembangunan itu meliputi, Madrasah Tsanawiyah Swasta (M.Ts.S) Alkhairaat Bobo, M.Ts.S Alkhairaat Kaleke, M.Ts.S Alkhairaat Balamoa,
M.Ts.S Alkhairaat Bangka, M.Ts.S Alkhairaat Pombewe, SD Islam Terpadu Insan Gemilang, RA Darul Iman, SD Inpres Buluru, SD Swasta Al Akbar,
M.Ts.S Wali Songo Palu, SD Islam Iqra Petobo, SDN 1 Petobo, SDN 2 Petobo,
SDN Inpres Petobo, SMK Swasta Justitia, TK Annisaul Khairaat, TK KT Bamba, TK Nosarara, dan M.Ts.S Kota Palu.

Dari penelusuran dan pemantauan tim Relawan Pasigala Moh. Raslin, Afdal dan Nurcahyohadi ke beberapa titik lokasi pembangunan proyek sekolah tersebut tim ini menemukan hampir semua pembangunan sekolah terbengkalai. Padahal waktu pelaksanaan pekerjaan tersebut telah molor 295 hari pasca penandatanganan kontrak kerja tanggal 05 Juni 2020 oleh PT.SMI berdasarkan Nomor Kontrak HK.02.01/KONT/SPPP.ST.II/02/2020 waktu pelaksanaan 210 kalender.

Atas keterlambatan perekerjaan ini, anggota DPRD Sulteng, Yahdi Basma, SH, mengecam keras bahwa itu adalah bobrok. “ Pelaksanaan rehab rekon bencana Sulteng bobrok, “ tegas Yahdi Basma.

Hal senada juga diungkapkan oleh sktivis dan pemerhati rehab rekon yang tergabung dalam Simpul Penyintas Pasigala, Jaya Rahman, bahwa proyek bencana adalah bentuk penjajahan model baru. “ Membunuh suatu bangsa cukup dengan merusak ekonomi dan sistem pendidikannya, “ imbuhnya.

Berbagai permasalahan ditemui tim relawan Pasigala ini di lapangan. Salah satu mahalnya permintaan tukang terkait upah buruh dan pekerja menjadikan alasan para pemangku kepentingan/stakekholder atau kontraktor pelaksana, untuk berkelit sehubungan dengan terbengkalainya proyek sekolah tersebut.

Padahal menurut Raslin, bahwa Kementerian PUPR telah menganggarkan biaya dengan nilai yang sudah dipertimbangkan secara matang untuk menguntungkan kontraktor pelaksana.

Dijelaskan Raslin, salah satu contoh pada Modul Pengadaan Risha Jawa Barat tahun 2020 mulai dari volume sampai harga satuan sebesar Rp 22,5 juta, tambah PPN menjadi 24,7 juta untuk membangun rumah Risha tipe 36, sudah termasuk harga panel dan aksesoris, diluar upah pekerja dan mobilisasi.

“ Namun pada praktiknya di lapangan, kontraktor pelaksana terkadang memberi upah minim kepada pekerja ditambah lagi telat bayar, membuat para pekerja lokal malas untuk bekerja. Kontraktor pelaksana sudah sangat keterluan dan diduga menari-nari di atas dana bencana, “ sebutnya.

Menganalisis realitas di lapangan terkait molor dan mangkraknya sejumlah pembangunan rehab rekon sarana pendidikan sebanyak 19 lokasi Relawan Pasigala menduga bahwa pekerjaan tersebut di sub dari subkon ke subkon.

Afdal dan Nurcahyohadi membenarkan bahwa pernyataan Gubernur Sulteng H. Rusdi Mastura bahwa ada pihak-pihak yang mencoba menari-nari di atas dana bencana bisa jadi benar adanya.(mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.