Proyek Jalan-Drainase Kota Palu Diduga Dimonopoli

- Periklanan -

Salah satu proyek yang dikerjakan perusahaan Rudy Chandra di Jalan S Parman sedang menyelesaikan pekerjaan drainase dan jalan. (Foto: Rony Sandhi)

PALU – Pekerjaan jalan dan drainase di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Palu tahun 2017 menjadi buah bibir masyarakat. Terlebih lagi di kalangan kontraktor atau penyedia jasa. Sebab, proyek jalan dan drainase di instansi itu diduga diarahkan pada satu kontraktor saja, yakni Rudy Chandra. Monopoli pun tak terhindarkan. Arahnya ke ranah persaingan usaha tidak sehat.

Data yang dihimpun Radar Sulteng menguak beberapa dugaan modus yang dipraktekkan Rudy Chandra. Modus ini sama, baik berlaku pada pekerjaan jalan maupun pekerjaan drainase. Pertama, ada beberapa paket pekerjaan jalan yang pagunya besar (miliaran rupiah), perusahaan Rudy yang menang tendernya. Perusahaan yang identik dengan Rudy yakni dua, PT Sapta Unggul dan PT Karya Baru Makmur. Dua perusahaan ini sama-sama beralamat di Jalan Gajah Mada, Kota Palu, alias se-kantor.

Kedua, jika ada perusahaan lain yang ikut tender jalan maupun drainase di Dinas PU Palu, maka syarat “tidak tertulisnya” mesti melampirkan dukungan perusahaan milik Rudy. Jika tidak patuh dengan syarat itu tadi, kecil kemungkinan perusahaan tersebut akan menang tender. Tapi dalam perjalanannya justru perusahaan milik Rudy yang mengerjakan proyek, dengan alasan perusahaan pemenang tender tidak sanggup alias tidak mampu bekerja.

“Kalau sudah begitu, muncul komitmen bagi hasil. 25 persen untung pekerjaan ke perusahaan pemenang tender, sisanya untuk Rudy semua,”beber salah seorang kontraktor yang enggan disebut namanya ditemui beberapa hari lalu di Palu.

Selain cara-cara itu, kontraktor yang jadi sumber koran ini mengungkapkan, ada juga cara ampuh berikutnya yang digunakan dalam mengistimewakan Rudy. Yaitu melampirkan persyaratan dalam dokumen lelang yang sulit dipenuhi kontraktor lain. Pada pekerjaan jalan misalnya, beberapa jenis dukungan peralatan sengaja disyaratkan yang tidak ada sama pesaing. Seperti asphalt distributor kapasitas 4.000 liter, dan forklit 3,5 ton. Sementara untuk pekerjaan drainase, alat yang disyaratkan yaitu mesin cetak u-dicth mekanik 1 set.

- Periklanan -

“Bergaining Rudy sangat kuat dengan para pemangku kebijakan di jajaran Kota Palu. Termasuk di Dinas PU. Hampir semua pekerjaan tahun ini Rudy yang kerja. Ini monopoli namanya, persaingan tidak sehat,”kesal kontraktor yang sudah belasan tahun menekuni dunia jasa konstruksi ini.

Lebih parahnya lagi, dukungan peralatan yang dipersyaratkan dalam dokumen lelang, tujuannya sengaja hanya mengganjal pesaing. Buktinya, alat-alat tadi tidak ada di lapangan. Yang dipakai hanya peralatan seperti biasanya. “Sampai sekarang, saya tidak pernah melihat ada alat asphalt distributor yang bekerja melakukan pengaspalan di jalan Kota Palu. Kan ini mengada-ada namanya,”kata dia.

Malah, sekaitan dengan dominasi Rudy Chandra memonopoli pekerjaan jalan dan drainase di Kota Palu, ada rekanan sudah melayangkan surat ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di Jakarta. Isinya melaporkan dugaan praktik persaingan usaha tidak sehat yang terjadi di Palu. Sebab itu melanggar UU Nomor 5/1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.  “Kami dapat infonya, ada yang sudah melapor ke KPPU. Semoga laporannya segera direspons pihak KPPU,”harapnya.

Kenapa Rudy begitu mendominasi? Data tambahan yang masuk ke redaksi koran ini, Rudy di back up beberapa orang yang dekat dengan kekuasaan di Pemkot Palu. Ada tiga orang yang disebut-sebut memuluskan langkah Rudy, sehingga jadi kontraktor kesayangan yang mengerjakan sebagian besar proyek di Kota Palu. “Istilahnya, ada tiga serangkai yang memberi back up sama Rudy. Ketiganya insial A, I dan E. Ketiga orang ini sangat terkenal mengatur proyek di Dinas PU Palu dan instansi lainnya di jajaran pemkot,”tukas sumber.

Sementara dihubungi via ponselnya kemarin, Rudy Chandra membantah jika dituding memonopoli proyek jalan dan drainase di Kota Palu. Dengan nada tinggi, Rudy mengaku hanya mengerjakan beberapa titik pekerjaan drainase di Kota Palu. Di antaranya Jalan S Parman, Setia Budi, Jalan MH. Thamrin.

Dia juga mengaku ada banyak perusahaan lain yang mengerjakan proyek drainase, bukan seluruhnya dia yang kuasai. “Info dari mana itu? Tidak betul saya dibilang monopoli proyek. Ada banyak perusahaan lain yang kerja proyek drainase di Palu. Coba cek sendiri di PU,” katanya.

Ditanya ada beberapa titik pastinya proyek yang ditanganinya? Rudy Chandra mengaku, tidak hafal proyek-proyek mana saja yang dikerjakan perusahaannya. “Saya tidak ingat ada berapa titik. Datanya ada di kantor saya. Tidak ada itu, saya monopoli proyek di Palu,” tandasnya. (ron/cam)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.