Protes Densus 88, Warga Datangi Mapolres Parimo

- Periklanan -

MENANGIS : Rahmi yang merupakan istri Irhan, menangis. Ia meminta agar polisi bisa mempertemukannya dengan Irhan. Rahmi diketahui sedang mengandung dan tidak lama lagi akan melahirkan. (Foto: Iwan Rusman

PARIMO-Puluhan warga dari Desa Pangi, Kecamatan Parigi Utara, mendatangi Mapolres Parimo, Senin (13/3). Kedatangan warga tersebut merupakan buntut dari penangkapan dua warga Desa Pangi, yakni Irhan (32) dan David, yang diduga terlibat dalam kasus terorisme oleh Densus 88.

Warga yang sebagian besar adalah keluarga Irhan, keberatan dengan ditangkapnya kedua warga Pangi tersebut. Mereka menuding bahwa tindakan penangkapan yang dilakukan oleh Densus tidak berprikemanusiaan.

Mereka keberatan dengan penangkapan yang dilakukan Densus dengan cara ditabrak, dianggap tidak sesuai dengan peraturan perundang-udangan.

Apalagi sejak ditangkap, pihak keluarga seakan tidak mendapatkan akses untuk bertemu dengan Irhan, bahkan informasi keberadaan kedua tersangka yang ditangkap Densus terksesan ditutupi pihak kepolisian.

Aksi yang dimulai sejak pukul 10.00 wita tersebut dilakukan di depan Mapolres Parimo mendapatkan pengawalan ketat dari aparat kepolisian.

Tidak lama setelah menyampaikan orasi, para  perwakilan warga menemui Kapolres Parimo AKBP Muhamad Ridwan melakukan dialog.

- Periklanan -

Dalam dialog tersebut, perwakilan warga yang juga kuasa hukum Andi Akbar Pangoriseng, dari Tim Pengacara muslim menyampaikan, bahwa warga Pangi yang ditangkap, diperlakukan secara biadab. ” Kami merasa keberatan dan memprotes keras, cara-cara penangkapan, seakan negara ini bukan negara hukum,”tegasnya di hadapan kapolres. Menurutnya, masyarakat dilakukan secara semena-mena yang dianggap sebagai pelanggaran HAM berat.

Menanggapi pernyataan itu, Kapolres AKBP Ridwan, mengaku akan menyampaikan hal tersebut kepada Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng).

Ridwan menjelaskan, bahwa kedua warga Pangi tersebut sudah berada di Polda Sulteng menjalani proses pemeriksaan, yang bersangkutan ditangani terkait kasus dugaan terorisme.

Ridwan mengungkapkan, Polres tidak memiliki kewenangan di situ. Menurut aturan perundang-udangan yang berlaku, selama tujuh kali 24 jam, Polri punya kewenangan dalam kaitan penanganan untuk mendalami terlebih dahulu.

Terkait dengan keinginan keluarga, pihaknya bisa menjembatani dengan pihak Polda. Ia meminta agar keluarga tenang dan bersabar, karena semua masih dalam proses pemeriksaan. “Nanti setelah itu, Densus atau penyidik yang melakukan penanganan akan memberikan penjelasan kepada keluarga,”ungkapnya.

Dihadapan kapolres, pihak keluarga juga melakukan negosiasi agar Irhan bisa dipertemukan dengan istrinya Rahmi yang saat ini sedang mengandung delapan bulan. Suasana tampak hening dalam pertemuan tersebut, disaat Rahmi dengan cucuran air mata memohon kepada kapolres agar mempertemukannya dengan Irhan. “Tolong saya pak, pertemukan saya dengan suami saya, saya mohon pak. Saya tidak lama lagi mau melahirkan,”ungkap Rahmi.

Usai melakukan pertemuan dengan perwakilan keluarga, Kapolres menyempatkan diri untuk menemui langsung warga lainnya yang berada di luar Mapolres. Dihadapan warga, ia kembali meminta agar bersabar dan menunggu perkembangan selanjutnya. Tidak lama setelah itu warga langsung membubarkan diri.(iwn)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.