Prostitusi di Kalangan Pelajar dan Mahasiswi Makin Memprihatinkan

- Periklanan -

Tarifnya Tergantung Face, Body, dan Servis

Ilustrasi (@jpnn.com)

PRAKTIK prostitusi di Kota Palu tidak lagi berjalan tertutup. Malah bukan lagi hanya terjadi di lingkup masyarakat umum, tetapi sudah lama merambah bangku sekolah hingga kampus. Istilah selimut biru, selimut abu-abu, hingga ayam kampus, sudah cukup familiar.

Mayoritas para mahasiswi yang notabene komunitas terpelajar, tidak sedikit yang melakoni pekerjaan sampingan satu ini. Alasan nomor wahid apalagi kalau bukan himpitan ekonomi. Kemudian alasannya lainnya yaitu tinggal sendiri di kos-kosan, uang kiriman orang tua pas-pasan, serta ingin hidup mewah. Upaya menjual diri pun dilakukan.

Perantara atau yang biasa disebut mucikari atau germo mereka, tidak lagi mengenal orang-orang tertentu. Seorang penjual pentolan goreng di salah satu kampus ternama di Kota Palu, malah berprofesi ganda menjadi seorang mucikari.

- Periklanan -

Sebut saja namanya Borju. Pengguna jasanya adalah para mahasiswi yang kepincut membeli barang mewah dan membayar sewa kos, tapi belum memiliki uang yang cukup. “Saya kerja di lingkungan mereka. Jadi saya tahu mana mahasiswi yang berekonomi lemah, tapi ingin hidup mewah,” ucapnya.

Cara penawaran yang dia lakukan terbilang menarik. Awalnya, para mahasiswi incarannya diajak si Borju jalan bareng, kemudian nongkrong minum kopi, lalu diberi uang. Setelah si mahasiswi ketergantungan, barulah si Borju kenalkan kepada seseorang yang akan menjadi teman kencan dalam semalam. “Mahasiswi itu pintar. Kalau tidak dengan cara begitu, pasti tidak mau. Jadi harus pelan-pelan dekatinya,” jelas si Borju.

Sebelum menjadi teman tidur pihak ketiga, si Borju malah duluan bikin “begituan”. Apalagi cantik, bodynya bagus dan masih perawan, tidak jarang Borju yang membayar dulu si mahasiswi tersebut. “Masih polos dan masih ting-ting, siapa yang tidak mau. Makanan enak disia-siakan. Sebelum dikasi orang, lebih baik saya dulu,” ucapnya sambil tertawa.

Borju mengatakan, untuk tarif si mahasiswi cukup beragam. Tergantung face dan bodynya. Ada deal antara si pengguna dan wanitanya. “Kalau perawan sampai Rp3 juta. Kalau sudah tidak, paling mahal Rp2 juta. Itu pun tergantung servis,” ungkapnya.

Borju menceritakan, pihaknya bukanlah mucikari tetap. Namuan hanya sekadar perantara kepada para lelaki hidung belang yang kesepian. Kebetulan mahasiswinya juga butuh uang. “Saya cuma mengenalkan di awal saja. Jadi untungnya di awal saja. Selanjutnya terserah perempuan dan om-om itu, mau bagaimana kelanjutannya. Kalau di awal kesepakatan biasanya Rp2,7 juta, saya tetap dapat,” ucapnya sambil bercanda.

Pengguna jasa Borju bukan hanya lelaki kelas atas. Tapi tukang ojek pun pernah dicarikan mahasiswi. Sebut saja nama si tukang ojek tersebut Mr. Si tukang ojek mengaku, sering meniduri mahasiswi hingga anak-anak SMA dengan tarif terjangkau. “Murah saja. Apalagi di akhir bulan, 500 ribu jadi. Kurang dari itu juga bisa,” tuturnya. Mr mengatakan, tarif  sedikit mahal justru jika meniduri anak-anak SMA. Karena sering minta dibelikan barang-barang mewah terlebih dahulu. (umr)

- Periklanan -

1 Komen
  1. Sumiyati Komentar Pengunjung

    Mungkin inilah penyebab kenapa Allah murka ….naudzubillahi min dzalik

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.