Proses Hukum SPBU Soekarno-Hatta Menunggu Keterangan BPH Migas

- Periklanan -

SPBU Jalan Soekarno-Hatta saat di police line karena diduga ada kecurangan dalam pengisian BBM. (Foto: Mugni Supardi)

PALU –  Proses penyelidikan Kasus dugaan kecurangan SPBU Jalan Soekarno Hatta milik milik PT Triocelebes Media Energi terkesan lambat dan hingga kini masih dalam tahap penyelidikan. Penyidik dalam waktu dekat masih akan melakukan gelar perkara terkait kasus ini.

Dihubungi Rabu (13/9), Kepala Sub Direktorat Industri dan Perdagangan (Kasubdit Indag) Ditreskrimsus Polda Sulteng, AKBP Teddy Salawati mengakui, pihaknya masih terus bekerja mengumpulkan data maupun bahan keterangan terkait kasus ini. Namun demikian, dalam waktu dekat kasus ini akan segera digelar perkara, untuk menentukan apakah layak dinaikan ke penyidikan.

“Kita gelar perkara terlebih dahulu,” sebut Teddy, Rabu (13/9) kemarin.

Meski begitu, sinyal bahwa kasus ini akan dinaikan ke tahap penyidikan mulai terlihat. Hal ini dapat dilihat dari kesiapan penyidik untuk mengundang ahli dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH MIGAS) untuk dimintai keterangannya. “Untuk BPH Migas nanti kami panggil setelah gelar perkara dilakukan,” tutur Teddy.

- Periklanan -

Disinggung, calon tersangka dalam kasus ini. Teddy belum mau untuk menyampaikan lebih awal. Sebab, kata dia, penyidik masih terus bekerja di lapangan, untuk mengumpulkan alat bukti terkait siapa yang bertanggungjawab atas aksi curang berupa pengurangan takaran BBM yang dibeli masyarakat dari SPBU tersebut.

“Dalam kasus ini kalau memang sudah penyidikan baru kita telusuri siapa pelakunya,” ungkapnya.

Terkait keinginan dari masyarakat agar SPBU tersebut difungsikan kembali sebagaimana mestinya, Kasubdit Indag menjelaskan, bahwa SPBU tersebut pasti akan dibuka kembali, namun selama proses penyelidikan saat ini, seluruh perangkat di SPBU itu masih akan tetap disegel, untuk menghindari dihilangkannya bukti-bukti di lapangan.

Untuk diketahui, dugaan kecurangan di SPBU tersebut, terbongkar setelah Petugas Tera Disperindag Kota Palu, menemukan terjadi minus (kekurangan takaran, red) hingga mencapai 700 militer untuk takaran 20 liter atau terjadi kesalahan sekitar 3,5 persen, dari yang diperkenankan batas kesalahan 0,3 persen atau 60 mililiter untuk setiap pengujian 20 liter.

Pengujian sendiri dilakukan pada semua pompa yang ada di SPBU tersebut. Padahal SPBU tersebut merupakan SPBU percontohan pertama di Sulteng yang peresmiannya disaksikan langsung GM Pertamina Wilayah VII Sulawesi.(agg)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.