Program Padat Karya, Sebulan Hanya Digaji Rp250 Ribu

- Periklanan -

PALU – Kantor Kelurahan Talise, Jalan Suprapto, Senin siang (2/4) kemarin, “diserbu” oleh warga dari 8 Kelurahan di Kota Palu yang terdata sebagai peserta padat karya. Warga yang datang tersebut, hendak menerima upah sejak Januari.

635 peserta padat karya rela antrian berjam-jam untuk terima upah di kantor kelurahan Talise, Senin (2/4).

Ada sekitar 635 peserta padat karya, yang kemarin berbondong-bondong datang ke kantor Kelurahan Talise. Upah yang diterima sebulannya yang diterima yakni Rp250 ribu. Dari pantauan Radar Sulteng, kegiatan yang dimulai sekitar 09.00 wita ini, difasilitasi Dinas Sosial Kota Palu dan melibatkan beberapa pegawai dari Bank BNI.

Proses penerimaan tersebut diatur secara bergantian per kelurahan. Peserta diwajibkan mengambil slip penerimaan kemudian menunggu giliran dipanggilnya nama oleh para pengawas padat karya di tiap-tiap kelurahan serta menanda tangani buku tabungan yang disediakan.

- Periklanan -

Menurut Indri, Staf Dinas Sosisal Kota Palu, tidak ada penambahan peserta tetapi hanya ada pengurangan karena mundur dan meninggal dunia. Sementara itu kata dia, keterlambatan untuk melakukan pembayaran upah peserta padat karya kali ini karena banyak faktor, seperti pergantian kerja sama dengan Bank yang awalnya dengan Bank Sulteng sekarang dengan Bank BNI. “Bulan Januari masih dalam pengurusan berkas dan pergantian kerja sama dengan pihak Bank,” tuturnya.

Lanjut Indri, peserta padat karya tersebut juga mulai bekerja pada awal bulan Maret dan pekerjaan tersebut dilakukan setiap hari untuk mengejar ketinggalan jam kerja pada bulan Januari. “Karena mereka kan digaji per jam, jadi untuk mengejar jam yang kurang maka mereka kerja setiap hari pada awal Maret,” ungkapnya.

Asmuni, pengawas Padat Karya Kelurahan Tanamodindi membenarkan hal tersebut. Menurut informasi yang dia terima upah pada bulan Februari akan dibayarkan pada Senin mendatang. Dirinya juga mengatakan, proses peneriman kali ini membutuhkan waktu yang lama. “Karena proses pindah Bank jadi, kami mulai kerja tanggal 1 Maret  setiap hari untuk mengejar ketertinggalan, kali ini orang lama menunggu karena Bank baru jadi antre lagi untuk tanda tangan buku tabungan baru beda sama yang lalu,” terangnya.

Banyak dari peserta padat karya ini yang mengeluh dengan upah yang mereka terima. Usulan kenaikan upah sempat disampaikan ke Pemerintah kota Palu tetapi belum diindahkan Pemkot kota Palu. Agus Susilo, peserta padat karya Kelurahan Tanamodindi, misalnya. Pada pertemuan di salah satu kegiatan sosialisasi dirinya mewakili teman-temanya meminta langsung kepada Wali kota Palu untuk kenaikan upah peserta padat karya. “Semua peseta padat karya di sini, harapanya pasti ingin adanya kenaikan,  saya pernah usulkan naik, dari Rp250 Ribu jadi Rp300 Ribu, tapi tidak ditanggapi,” ungkapnya.

Menurutnya, informasi yang diterima peserta padat karya, penurunan upah tersebut dikarenakan pembentukan lembaga-lembaga baru oleh Pemkot Palu sehingga aliran dana tersebut juga terbagi. “Kita bukan menolak keputusan Pemkot, hanya saja yang rasakan dampaknya ini adalah warga kecil seperti kami, jadi tolonglah didengar juga sedikit keluhan kami,” tutupnya. (cr8)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.