alexametrics Program JPF PWJ-ACT Berhasil Pulihkan Ekonomi Petani Sigi – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Program JPF PWJ-ACT Berhasil Pulihkan Ekonomi Petani Sigi

Tidak Lepas dari Dukungan Penuh Bupati Sigi

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Pemulihan Usaha Pertanian lewat program Japan Platform (JPF) melalui Peace Winds Japan (PWJ) bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Kabupaten Sigi dinilai telah berdampak positif bagi petani. Hal itu juga tidak lepas dari perhatian penuh Pemerintah Kabupaten Sigi yang dipimpin Bupati Mohammad Irwan.

Kepala Cabang ACT Sulteng, Nurmajani Loulembah kepada Radar Sulteng, mengungkapkan, keberhasilan dari program JPF4 PWJ-ACT, memang mendapat dukungan penuh oleh Pemkab Sigi, khususnya Bupati Sigi. Komitmen Bupati, untuk kembali memulihkan perekonomian petani, pascabencana gempa bumi dan likuifaksi, sangat besar, sehingga program ini direspon positif dan didukung penuh.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada bapak Bupati Sigi atas kerjasama selama ini dan support-nya, sehingga program yang kami mulai sejak Oktober 2019 berjalan lancar dan mulai terlihat hasilnya,” kata Nurmajani, Jumat (12/3/2021).

Salah satu alasan, dipilihnya petani Kabupaten Sigi sebagai sasaran penerima bantuan dan pendampingan dari program ini, karena memang kabupaten yang dahulu dikenal salah satu lumbung pangan Sulteng ini, terdampak para bencana 2018 silam.

Program ini sendiri, sudah berjalan sejak 2019 hingga 2020, dan berlanjut di 2020 hingga tahun ini. Di program kali ini, selain adanya program sumur irigasi, juga ada tambahan pendampingan pengolahan lahan, pembagian bantuan bibit dan pelatihan pembuatan pupuk.

Khusus program sumur irigasi, ada dua jenis sumur yang dibangun oleh PWJ, di 5 desa di Sigi. Masing-masing untuk sumur dalam, dilakukan di dua desa, yakni Desa Karawana dengan 82 petani yang penerima manfaat dan Desa Soulove, Kecamatan Dolo dengan 60 petani penerima manfaat. Kedalaman untuk sumur dalam, sekitar 100 meter.

“Kemudian untuk sumur dangkal dengan ketinggian 30an meter, ada tiga desa. Masing-masing, Desa Potoya, Kecamatan Dolo dengan 80 petani yang memanfaatkan, Desa Sidera, Kecamatan Sigi Biromaru, sebanyak 95 petani dan Desa Kota Pulu, Kecamatan Biromaru dengan 70 petani penerima manfaat sumur dangkal,” jelas Kepala Cabang ACT.

Terkait pengelolaan sumur irigasi sendiri, seluruhnya diserahkan kepada masing-masing kelompok tani. Mulai dari pembagian air hingga jadwal untuk mengairi lahan masing-masing.

Tidak hanya program sumur irigasi, dalam JPF4 ini, ACT-PWJ juga melakukan pengolahan lahan dan memberikan bantuan bibit untuk produktifitas kembali lahan pertanian di Sigi, yang kurang lebih 2 tahun tidak diolah pascagempa dan rusaknya jaringan irigasi Gumbasa.

“Adapun bantuan bibit yang di berikan kepada 432 petani adalah jenis tanaman holtikultura seperti, Jagung manis, jagung pakan, Kangkung, Sawi, Saledri, Tomat, Kacang tan, Kacang, panjang, Cabai, Terong,” terangnya.

Saat ini, para petani penerima program JPF4, juga sudah memasuki musim panen. Tanaman yang sudah dipanen bervariatif mulai dari jagung manis, kacang panjang, sawi, kangkung, tomat, terong dan cabai. Semua komoditi yang dihasilkan para petani sendiri, adalah komoditi yang mereka pilih sendiri ketika tim ACT melakukan assessment.

Apa yang telah dihasilkan oleh JPF4 ini, juga sudah ditinjau langsung oleh Konsultan JPF4, yang melakukan visit program pada 4 Maret hingga 5 Maret 2021.  Konsultan JPF4 di dampingi kepala cabang ACT, tim program pusat dan tim program ACT-PWJ Sulteng meninjau sumur irigasi dan tanaman para petani yang sudah tumbuh dengan baik. Konsultan JPF4 juga berinteraksi langsung dengan petani penerima manfaat.

“Konsultan JPF4, sangat mengapresiasi atas program ini, karena petani secara ekonomi sudah mulai membaik. Dan juga ada nilai plusnya, karena kami juga memberikan pendampingan dan pelatihan pembuatan pupuk,” kata Nurmajani.

Terkait panen pun, petani tidak menemui kendala, karena sudah ada pasar sendiri. Namun demikian ACT juga tetap membuka koordinasi akses pemasaran untuk penjualan hasil panen para petani di program JPF4 ini. Hal itu juga menjadi nilai plus program JPF4. 

“Kami saat ini mulai berkoordinasi dengan beberapa pihak termasuk KEK (kawasan ekonomi khusus), agar hasil panen para petani ini bisa dibukakan pasar yang besar di luar Sulawesi Tengah,” tandasnya. (agg)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.