Produsen Miras Ancam Melawan, Polisi Melunak

- Periklanan -

SOSIALISASI : Jajaran Polsek Bunta beserta unsur kecamatan saat melaksanakan sosialisasi di Laonggo Kecamatan Bunta pekan lalu. Di desa ini 90 persen warganya pembuat cap tikus. (Foto: dok_

LUWUK – Guna memberantas penyakit masyarakat (pekat) di  Kabupaten Banggai, salah satu cara yang dilakukan kepolisian dengan menutup muasal dari Pekat tersebut. Tidak lain berawal dari minuman keras jenis cap tikus.

Pekan lalu (3/3), Polres Banggai melalui Kapolsek Bunta Iptu Chandra mendatangi produsen miras cap tikus terbesar di Kabupaten Banggai. Berada di Desa Laonggo, Kecamatan Bunta. Kedatangan jajaran Polsek Bunta guna menyosialisasikan Perda Miras No 9 tahun 2011 tentang larangan dan sanksinya.

Sekaitan dengan sosialisasi tersebut, Kapolsek Bunta menegaskan akan dilaksanakan penertiban tempat produksi miras di Kecamatan Simpang Raya dan di Desa Laonggo yang diduga penyuplai miras cap tikus terbesar di Sulawesi Tengah.

- Periklanan -

Saat sosialisasi tersebut, terjadi negosiasi antara kepolisian dan masyarakat. Iptu Chandra menyampaikan agar seluruh kegiatan produksi Miras yang ada di Desa Laonggo untuk segera dihentikan, karena Miras cap tikus adalah sumber dari gangguan Kamtibmas. “Dan setelah sosialisasi akan dilaksanakan penertiban terhadap pemilik dan tempat produksi miras yang ada di Kecamatan Simpang Raya dan Kecamatan Bunta khususnya Desa Laonggo,” jelasnya.

Namun masyarakat meminta keringanan lantaran 90 persen warga di kedua desa tersebut pembuat Miras. Masyarakat meminta agar penertiban tersebut ditunda lebih dahulu. Pemerintah Kabupaten Banggai segera memberikan solusi untuk pengganti produksi miras yang ada di Desa Laonggo karena produksi miras merupakan mata pencaharian utama masyarakat Desa Laonggo untuk dapat hidup dan menghidupi keluarga baik kebutuhan sehari hari maupun untuk sekolah.

Sebelum ada solusi pengganti produksi Miras yang ada di Desa Laonggo maka seluruh masyarakat akan menolak dan melakukan perlawanan terhadap siapa saja yang akan melaksanakan penertiban tersebut di Desa Laonggo.

Namun di sisi lain masyarakat juga mendukung Program Pemerintah dalam hal ini pihak kepolisian dalam memberantasan Miras jenis captikus karena merupakan sumber gangguan Kamtibmas. Dari hasil rapat tersebut, Chandra menyampaikan dirinya dan unsur forum pimpinan kecamatan yang hadir mengambil kesimpulan menunda penertiban sampai ada solusi dari Pemerintah dalam hal ini Bupati Banggai dan instansi terkait. “Sedangkan untuk tempat produksi Miras yang ada di luar Desa Laonggo kami tetap akan laksanakan penertiban,” tegas Chandra. (bar)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.