Praktik Jual Beli Skripsi di Palu, Judul Disesuaikan dengan Harga

- Periklanan -

Ilustrasi

PALU- Zaman sekarang apa-apa serba instan. Semuanya serba cepat, asalkan ada uang. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan anak muda sekarang untuk memburu titel di belakang nama.

Ya, bagi orang yang punya uang gelar sarjana pun dengan mudah siap digenggam. Tidak hanya pemalsuan nilai, jalan pintas menuju kelulusan pun semua bisa dibeli, salah satunya adalah skripsi.

Zaman sekarang, penjualan skripsi tidak lagi dilakukan secara tertutup atau diam-diam. Hampir semua perguruan tinggi di negeri ini tahu ada jual beli skripsi.

Sayangnya tidak semua konsumen puas dengan hasil skripsi. Harga ternyata mempengaruhi kualitas pelayanan terhadap hasil skripsi.

Hal ini kemudian di akui oleh sumber yang enggan namanya dikorankan. Sebut saja namanya Susan, yang lulus tahun 2015 lalu di salah satu perguruan tinggi di Kota Palu.

Secara terang-terangan Susan mengakui kecurangan yang dilakukannya itu. “Saya dapat informasi beli skripsi itu dari teman saya, faktor malas yah kami ramai-ramai beli skripsi,” ujarnya kepada Radar Sulteng baru-baru ini.

Susan akui, beli skripsi itu ia tahu setelah mendapat informasi dari rekannya yang juga sama-sama mahasiswa di perguruan tinggi yang sama.

Susan juga akui kalau si pembuat skripsi bukan hanya sesama mahasiswa lagi melainkan kalangan dosen. “Pembuat skripsi ini banyak, ada mahasiswa juga, ada juga memang penulis buku dan ada juga dosen, kalau saya lalu lebih pilih dosen karena saya pikir lebih bagus,” terangnya.

- Periklanan -

Sayangnya, harapan Susan untuk punya skripsi lebih baik dari yang lain itu putus. Skripsi Susan justru tidak menarik dan biasa-biasa saja. “Judulnya biasa-biasa saja, mau komplen eh tidak bisa, karena sudah terlanjur jadi dan tidak enak juga mau komplen,” ucap Susan.

Cek per cek, hasil skripsi yang biasa-biasa saja itu dikarenakan faktor harga. Katanya, semakin mahal, maka kualitas skripsi juga semakin mantap.

Menurut informasi dari Susan, harga skripsi tergantung judul. Harga sebuah skripsi pun dijual dengan nilai Rp3 juta hingga Rp 5 juta. “Saya kan sesuaikan dengan keuangan, hanya saja saya tidak tahu kalau jadi skripsi nya tidak begitu bagus sesuai harapan saya,” ketus Susan.

Jual skripsi yang dilakukan secara terang-terangan ini pun diakui oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako, Anshari Syafar MSc.

Anshari, termasuk orang yang paham betul menangani skripsi mahasiswa. Ia pun akui, tidak sedikit mahasiswa yang curang dalam hal skripsi. “Saya mendata mahasiswa yang bermasalah dalam akademiknya, termasuk skripsi,” sebutnya ditemui baru-baru ini.

Anshari menjelaskan, penjualan skripsi sudah semakin terang-terangan. Tidak hanya dari mulut ke mulut, melainkan sudah ada yang berani pasang ikan alias jual secara online. “Kuncinya, kita harus teliti melihat hasil mahasiswa. Bukan kita menahan mahasiswa tetapi kita berharap cara berpikir mahasiswa itu berubah, jangan mau instan,” jelasnya.

Penjualan skripsi kata Anshari, diketahuinya saat tatap muka dengan mahasiswa yang bersangkutan. Judul yang diajukan dengan judul yang disebutkan berbeda, sehingga ada kecurigaan bahwa skripsi tersebut bukan hasil kerjanya. “Saya undang mahasiswa itu dan saya minta transkip nilainya tidak diambil di bagian kepegawaian melainkan kepada saya langsung, pas tatap muka saya klarifikasi langsung, yah hasilnya memang benar skripsi itu ia beli,” ungkap Anshari.

Tidak hanya itu, soal harga Anshari mengatakan, bahwa setahunya dari mahasiswa yang pernah ditanyanya langsung, skripsi yang dijual beragam sesuai dengan jurusan. “Informasi yang saya terima di wilayah Palu Barat itu yah Rp2,5 juta,” katanya.

Adanya praktik jual skripsi ini sangat disayangkan. Menurut Anshari kegiatan akademik adalah proses yang harus dijalani seorang mahasiswa. “Saya harap, tujuan mahasiswa itu jelas yakni cari ilmu bukan hanya mau cari ijazah saja,” tandasnya. (jcc)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.