PT. Poso Energi Dinilai Plin-Plan

Ganti Rugi Pagar Sogili Warga Tak Kunjung Terealisasi

- Periklanan -

POSO – Pengerukan danau Poso yang diklaim Pemerintah Kabupaten Poso sebagai normalisasi sungai itu berdampak pada pembongkaran sejumlah alat tangkap ikan tradisional .

Dibalik pembongkaran alat tangkap ikan tradisional warga, seperti alat penangkapan ikat sidat atau dalam bahasa lokal Pamona disebut Pagar Sogili dan Karamba tempat budidaya ikan itu ganti rugi belum seluruhnya diselesaikan pihak PT. Poso Energi.

Koordinator Utama Komunitas Wuaya Masapi atau Pagar Sogili, Amsal Hasim. SE dihubungi Radar Sulteng, Senin (6/1) mengaku, data pemilik Pagar Sogili yang dikuasakan kepadanya yang belum dibayar pihak PT Poso Energi, ada 30 lebih atau hampir 40 buah Pagar Sogili dan itu merupakan Pagar Sogili lama yang terdampak langsung dari aktivitas pengerukan Danau Poso yang terdapat di bawah Jembatan Pamona.

Amsal mengatakan, keberadaan Pagar Sogili sejak dari nenek moyang mereka, sudah turun temurun melakukan aktivitas menangkap ikan menggunakan alat tradisional Pagar Sogili dan Karamba. Jika dihitung-hitung mereka sudah merupakan generasi keempat mengelola usaha menangkap ikan dengan cara tradisional, yang menjadi sumber pendapatan mereka.

Jika kemudian ada aktivitas pengerukan sudah tentu mengganggu aktivitas penangkapan ikan. “Hal inilah yang kami minta kepada pihak PT Poso Energi, untuk segera memperjelas proses pembayaran ganti rugi usaha kami. Kami mempertahankan karena merupakan sumber penghidupan,” ucapnya.

Menurutnya, masyarakat khususnya pemilik Pagar Sogili dan Karamba sebenarnya sangat mendukung program pemerintah dan swasta untuk program investasi di daerah Poso. Tapi, dengan catatan tidak merugikan masyarakat, khususnya para petani ikan mujair, ikan mas dan ikan sogili dengan alat penangkapan ikan tradisional yang sudah ada sejak lama.

Amsal menuturkan, memang beberapa Pagar Sogili milik warga di Desa Tendeadongi, Saojo dan Sulewana memang sudah ada beberapa yang sudah dibayar pihak PT. Poso Energi, namun hal itu sebenarnya tidak sesuai dengan kerugian yang dialami warga. “Kesannya masyarakat ini dibodohi. Masyarakat yang tidak tahu kedepannya seperti apa, ditawari dengan harga rendah diterima saja,” ungkapnya.

Amsal berharap, dengan kehadiran Poso Energi ada sekelompok masyarakat termasuk petani Karamba, Pagar Sogili, aktivitas Monyilo dan pemilik tanah yang terdampak tidak dirugikan. “Kami mau masyarakat juga sejahtera,” ujarnya.

Ditanya kendala dari PT Poso Energi belum juga menyelesaikan pembayaran ganti rugi Pagar Sogili dan Karamba warga, Amsal menegaskan, pihak PT Poso Energi plin-plan. Kenapa plin-plan, karena sudah beberapa kali pertemuan-pertemuan tidak ada dijelaskan kapan kepastian pembayaran.

- Periklanan -

Pemerintah Daerah, dari Kantor Bupati sampai Lurah, juga sampai sekarang juga belum ada tindaklanjut. “Kami sekarang tidak ada pergerakan, kami tetap lanjutkan usaha kami. Sampai dari pihak PT Poso Energi menyelesaikan proses ganti rugi,”imbuhnya.

Senada dengan itu, Leo Manjube warga Desa Saojo mengatakan, memang pembayaran Pagar Sogili belum semua dibayarkan. Termasuk milik keluarganya, Ngkai Polo bersama kelompoknya sampai saat ini belum dibayarkan. Menurutnya, memang Pagar Sogili yang belum dibayarkan itu sudah tidak bisa difungsikan, karena sudah terendam air.

Dan pagar Sogili itu merupakan Pagar Sogili lama sejak dia masih anak-anak sudah ada. “Yang jadi pertanyaan Pagar Sogili yang lain sudah dibayarkan Poso Energi, kenapa Pagar Sogili yang jelas-jelas pagar Sogili lama belum juga dibayarkan Poso Energi,” katanya.

Sementara Humas PT. Poso Energi, Christian Gundo, dihubungi Radar Sulteng melalui telepon menjelaskan, warga sekitar pinggiran danau di area pengerukan tidak semua terkena dampak. Jalur pengerukan yang dilakukan Poso Energi berada di sebelah kiri daerah Kompo Dongi.

Untuk yang sebelah kanan belum bisa diprediksi berapa yang terdampak dan akan dilakukan ganti rugi. Karena ada tuntutan masyarakat, tentu hal itu juga menjadi pertimbangan Poso Energi dan Pemerintah Daerah.

Ditanya berapa data usaha Pagar Sogili dan Karamba milik warga yang sudah dibayar dan belum, Christian belum bisa membeberkan karena datanya ada di kantor. “Kalau data lengkapnya nantilah kalau saya sudah di kantor,” ujarnya.

Terkait belum terbayarnya ganti rugi Pagar Sogili dan Karamba, Christian mengatakan, kendalanya pada kesepakatan harga. Karena untuk biaya pembebasannya sudah disosialisasikan, khususnya untuk Karamba lama dan Pagar Sogili lama. Berjalannya waktu bermunculan pagar-pagar yang baru.

Untuk pagar-pagar lama berbeda dengan pagar yang baru berdiri. “Kami sudah sampaikan ke masyarakat yang objek usahanya di air yang belum terganggu akibat adanya aktivitas pengerukan yang dilakukan Poso Energi diharapkan bersabar. Untuk ganti rugi usaha Karamba belum ada,” jelasnya.

Kesepakatan masih pada ganti rugi Pagar Sogili. Nilai yang disepakati untuk pagar baru Rp 15 juta per pagar Sogili dan Pagar Sogili lama, di sekitar area Petirodongi dan sekitarnya kalau sepakat dari harga Rp 60 juta sampai Rp 100 juta akan dibayarkan.

Oleh masyarakat saat proses penawaran mereka tidak menerima dengan harga itu, masyarakat inginkan mengiklutkan Pagar Sogili dan Karamba, sehingga harganya menjadi lebih tinggi dari penawaran. “Jadi inilah kenapa belum ada realisasi pembayaran ganti rugi Pagar Sogili, karena belum ada kesepakatan harga. Kalau dari dulu sudah ada kesepakatan harga sesuai yang kami tawarkan persoalan ini sudah selesai,” terangnya. (ron

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.