Poso City Mall Poso Tetap Diminati

- Periklanan -

Poso City Mall (Foto: Budiyanto Wiharto)

POSO–Kabar bahwa Poso City Mal (PCM) telah memberhentikan sekitar 20 orang tenaga kerjanya untuk menghindari kerugian yang lebih besar, sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Menurut owner PCM, H Karman Karim, sejauh ini animo masyarakat terhadap PCM tetap tinggi. Namun bila dinilai adanya penurunan, di dunia bisnis super mall adalah biasa-basa saja. “Itu biasa saja. Sebenarnya tidak ada yang sepi. Respon amsyaraat di Poso juga cukup bagus, ” kata Karman, kepada Radar Sulteng di Palu, Kamis (23/2).

Menurutnya ada waktu-waktu tertentu kecenderungan pengunjung itu meningkat juga berkurang, yaitu padatnya mall pada saat hari raya besar keagamaan, misalnya Lebaran Idul Firi dan Idul Adha, kemudian Hari Natal dan Tahun Baru. Selain itu juga ada hari besar tertentu pengunjung membludak. “ Kami telah mengantisipasi masalah itu. Ada hitungannya menghadapi waktu-waktu tertentu, dan membludaknya pengunjung, “ ujarnya.

Ia juga mengatakan, fluktuasi pengunjung juga disebabkan gaji PNS belum lancar terbayarkan di masing-masing jajaran instansi tempat kerjanya per Januari 2017. ” Sebab lainnya karena PNS yang pindah tidak disusul oleh daftar gaji yang dibuat untuk PNS pindahan. Itu terlihat mulai bulan Januari dan Februari ini, sehingga secara kasat mata seolah-olah pengunjung sepi, ” papar Karman.

- Periklanan -

Ia optimis  pusat perbelanjaan di Kabupaten Poso terus menggeliat, seiring kondusifnya daerah itu. Menurut Karman Karim, dirinya berani berbisnis di Poso disebabkan oleh aman dan nyamannya berbisnis di bumi Sintuwu Maroso tersebut.

Sebelumnya diberitakan, pengurangan tenaga kerja dilakukan karena tidak imbangnya antara pendapatan dengan pengeluaran yang ada. “Subsidi operasional kita besar tapi pendapatan yang masuk masih sangat minim. Dengan terpaksa maka kita lakukan pengurangan tenaga kerja,” kata Manager PCM, Khaerudin.

Pengurangan tenaga kerja ini baru terjadi di bisnis hypermart. Tapi demikian tidak menutup kemungkinan terjadi di Borobudur dan yang lainnya. Menurut Khaerudin, sejak dibuka November 2016 lalu pendapatan PCM belum stabil, bahkan cenderung terus menurun. Padahal jumlah subsidi yang harus dikeluarkan PCM perbulan sebesar Rp 350 juta. Subsidi meliputi seluruh operasional PCM termasuk gaji karyawan. “Target pendapatan kita perhari Rp 150 juta. Tapi pencapaiannya belum sampai di situ,” sebutnya.

Pendapatan PCM terbaik tercatat hanya pada November 2016. Sementara pendapatan pada Desember 2016 dan masuk Januari 2017 turun. “Bahkan pernah hanya mencapai 70 juta saja perhari,” tukas Khaerudin.(mch/bud)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.