Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Pondasi dan Tinggi Bangunan Jadi Pertimbangan

Untuk Bangunan di Wilayah Rawan Gempa

PALU – Membangun bangunan di atas wilayah yang rawan gempa harus menjadi pertimbangan terkait dengan ketahanannya, kedalaman pondasi atau ketinggian bangunan tersebut.
Dosen Prodi Geologi Fakultas Teknik Universitas Tadulako, Dr Sukardan Tawil ST, MT mengkhawatirkan kondisi bangunan di Kota Palu, apalagi kondisi batuan yang di dalam tanah tidak mendukung. Struktur batuan di Kota Palu sendiri itu antara lain aluvium yang usianya itu paling muda dari jenis batu lainnya sekitar 500 sampai satu juta tahun lalu. Kemudian struktur batuan lainnya seperti endapan pantai, kerikil, batu gamping, pasiran lumpur dan batu koral.
“Aluvium itu seperti hasil dari lumpur, pasir dan sebagainya. Jadi pondasinya itu harus dalam. Karena ada pengalaman saat kita bor sampai kedalaman 30 sampai 60 meter belum dapat dasarnya, batuan dasarnya itu kita tidak dapat. Kebetulan itu kita membor tanah di Jalan Sutomo Kantor LPMP, kita hanya dapat pasir dan batu,” kata Sukardan Tawil kepada Radar Sulteng, belum lama ini.
Olehnya itu, dia meminta untuk betul-betul mempertimbangkan bangunan yang ada saat ini dengan kondisi Kota Palu.
“Kan sudah pengalaman Hotel Roa-roa, yang delapan lantai tinggal dua, kenapa tidak belajar dari situ. Dengan kondisi batuan kita begitu, bagaimana kalau dipaksakan. Gempa ini sifatnya periodik,” lanjut Sukardan.
Harusnya kata Sukardan, daerah itu harus sudah mempunyai aturan bahwa bangunan begini sekian atau rekomendasi untuk membangunnya harus seperti ini. Jadi kembali ke Pemerintah Daerah. Dirinya yang berasal dari Perguruan Tinggi hanya sebatas menganalisa dan memberikan saran.
“Tetapi itu sepanjang diminta, kalau pemerintah tidak meminta, yah bagaimana. Jadi kalau secara ilmiah kita jelaskan kondisinya seperti begini, jadi terserah pemerintah daerah, mengacu pada kondisi, pemerintah yang tentukan,” sebutnya.
Daerah di Kota Palu seperti Petobo dan Balaroa, Sutardan juga menilai dihijaukan saja, jangan digunakan untuk membangun.
“Aturan itu tergantung lagi dari Pemerintah Daerah,” pungkasnya. (acm)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.