Politik Citra Menjadi Cinta

Oleh : Muhammad Khairil *)

- Periklanan -

“Kami ingin agar umat mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Sungguh, jiwa-jiwa kami ini senang gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau melayang untuk membayar kejayaan, kemuliaan, agama, dan cita-cita mereka, jika memang mencukupi.
(Imam Hasan al-Banna)

Konstruksi pencitraan menjadi sebuah keniscayaan dalam panggung politik. Dramaturgi akan menjadi modal politik bagi para politisi dalam memainkan peran penting pada dua sisi wajah yang berbeda. Bagai dua sisi mata uang, walau berbeda namun akan saling membutuhkan dan melengkapi satu dan yang lainnya.

Front stage akan memberi citra protagonist.Orang yang begitu baik, ramah dengan senyum dan menjelma bagai dewa, seolah menjadi penyelamat dunia. Panggung yang sengaja diciptakan untuk mereka yang pandai bersandiwara.
Sebaliknya, wilayah back stage adalah wujud yang sesungguhnya. Wajah sang aktor di dibalik layar. Alami, apa adanya dan karakter diri dalam wujud tanpa sandiwara. Melihat secara langsung wajah tanpa make up, cantik yang alami, rupawan yang hakiki.

Melalui sebuah lagu, Nazril Irham atau lebih dikenal dengan panggilan Ariel Noah dengan mudahnya melantungkan bait “Tapi buka dulu topengmu. Buka dulu topengmu. Biar ku lihat wajahmu”. Topeng adalah citra yang dibangun sebagai identitas politik untuk tujuan impression management. Sebuah pengelolaan kesan untuk membangun citra diri.

Agenda Setting dan Pencitraan Media

Kemenangan Richard Nixon atas Hubert Humphreydalam pemilihan Presiden Amerika Serikat pada tahun 1968 menjadi awal cerita pentingnya agenda setting sebagai sebuah proses pencitraan politik. Hal ini dibuktikan melalui hasil riset Maxwell C McCombs, profesor peneliti surat kabar dari Universitas Syracuse USA bersama rekannya Donald L Shaw, profesor jurnalistik dari Universitas North Carolina USA.

Kemenangan Nixon tidak lepas dari kebiasaannya untuk menjadikan media sebagai mitra atau media darling. Mudah senyum dan begitu ramah pada wartawan, membuat wajahnya begitu mudah menghiasi media massa. Nixon jauh lebi populer dan gampang nampang di media ketimbang lawan politiknya.

Agenda Setting dapat membentuk citra seseorang hingga ke puncak popularitas sebagai tokoh berpengaruh. Juga sebaliknya, kekuatan media akan mampu mendekonstruksi ketokohan seseorang. Media massa memunculkan isu yang sudah terseleksi atau diolah sedemikian rupa demi menggiring opini publik sesuai dengan setting media.

Aktivitas politik para elit dalam agenda setting akan menciptakan fanatismedukungan melalui hasil konstruksi pencitraan. Framing media menjadi sangat penting dan strategis menggiring khalayak untuk mendengar, melihat dan membaca sebuah proses pencitraan yang massif.

Apa yang menjadi penting bagi media juga akan menjadi penting bagi khalayak. Media sosial dan dunia maya dalam pusaran waktu akan menjadi sangat strategis dan signifikan untuk menentukan gaya hidup dan sikap politik khususnya dikalangan milenial. Anak muda masa kini dan ramaja jaman nowadalah bagian dari entitas politik yang tidak bisa lagi diabaikan.

- Periklanan -

Bisnis online di era virtual begitu menjanjikan untuk menjadi media komunikasi politik citra di kalangan elit. Bauran politik dan kepentingan ekonomi menjadi begitu dominan dalam ranah industri media.

Membangun Citra, Menuai Cinta

Pengelolaan kesan mengisyaratkan pentingnya “dari mata turun ke hati”. Melalui citra, menuai cinta. Citra yang tercipta lalu kemudian mewujud dalam cinta adalah paduan kombinasi strategi politik yang akan memberi kesejukan dalam kontestasi merebut tahta kekuasaan.

Namun dari mata bisa saja melahirkan benci. Akan sangat tergantung kesan apa yang ingin disampaikan pada khalayak. Seperti halnya aktor yang memilih peran antagonis, ia akan menjadi idola bagi mereka para pendengki, hati yang iri, penuh dendam dan seolah menjadi pembela bagi para kriminal.

Sebaliknya, memilih peran protagonist akan memberi efek pada panggung politik pencitraan yang humanis juga persuasif. Bagai drama korea yang mampu menguras begitu banyak emosi para penonton. Seolah masuk dalam ruang hipnotis hingga histeris sebagai efek dari kemampuan pengelolaan kesan diatas panggung.

Menghasilkan sebuah citra dalam panggung politik bukanlah perkara membalikan telapak tangan. Untuk bisa berada diatas panggung politik membutuhkan nama baik dan modal sosial yang cukup. Mental yang rapuh dan ambisi hanya “sim salabim” tanpa melalui proses dan hanya mementingkan hasil, perlahan akan sirna dari panggung politik.

Sebaliknya, mereka yang gigih menanam benih sosial, akan memiliki modal yang cukup untuk membangun citra. Citralah yang akan melahirkan nama baik bagai kertas putih, setitik noda hitam akan sangat memberi warna pada perjalanan karir politik para politisi.

Politik itu bukan persoalan kepentingan yang abadi tapi yang abadi adalah nama baik. Bukankah gajah mati meninggalkan gading ? Begitu juga harimau, mati meninggalkan belang. Lalu untuk apa politik juga kekuasaan andai persaudaraan harus retak ? Sahabat jadi musuh, teman jadi lawan.

Politik harusnya tidak hanya semata diukur dari kalah atau menang. Bukan juga berapa lama kita berkuasa. Tapi berapa banyak cinta yang hadir dalam singgasana kekuasaan.Tercatat dalam mahfuzhot, ungkapan yang begitu indah “idza niltu minkal wudda, falmaalu hayyinun. Wa kullulladzi fauqot turaabi turaabu”. Apabila engkau telah mendapatkan kecintaannya, maka harta itu bagai debu,sirna seiring hembusan angin.

*) Penulis merupakan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNTAD dan Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.