Polisi Belum Sentuh Bos Tambang Ilegal Dongi-Dongi

- Periklanan -

PALU – Subdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Sulteng mengamankan empat orang yang diduga melakukan Tindak pidana bidang Minerba dan Batubara berupa mengangkut material hasil tambang berupa pasir (Reff) Tanpa memiliki izin dari pejabat yang berwenang. Ke empat pelaku tersebut inisial RU (34), TR (37), YH PB. Namun siapa pemodal alias bos yang membiayai ke empat penambang yang ditangkap itu belum disentuh penyidik Ditreskrimsus Polda Sulteng.

Pengungkapan kasus aktivitas pertambangan ilegal berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP-A /12/I/2020/SULTENG/SPKT, Tanggal 08 Januari 2020. Dimana pada hari Rabu tanggal 8 Januari 2018 sekitar pukul 04.00 wita di Jalan Gunung Sari Kelurahan Kawatuna Kecamatan Mantikulore kota Palu personil Ditreskrimsus Polda Sulteng menemukan mobil sedang mengangkut material hasil tambang berupa pasir (Reff) Tanpa memiliki izin dari pejabat yang berwenang. Sebanyak 39 karung material pasir dalam bentuk reff berasal dari tambang emas ilegal di Desa Dongi-Dongi, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso diamankan Polda Sulteng.

“Hingga saat ini kami masih mengembangkan kasus ini, dan masih dalam pemeriksaan tersangka, jadi belum diketahui siapa pemodalnya. Apakah ada pemodalnya atau tidak, itu masih dikembangkan,” kata Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Didik Supranoto, Rabu (15/1), saat menggelar pres release, di Mapolda Sulteng.

Polda Sulteng menangkap empat pelaku tindak pidana material dan batu bara, masing-masing tersangka adalah YH dan PB tinggal di Desa Maranata, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi.  Dari kedua tersangka barang bukti yang berhasil diamankan oleh kepolisian yaitu 1 unit mobil carry warna putih, 17 karung material pasir dalam bentuk siap diolah jadi emas. Kemudian tersangka yang berhasil diamankan selanjutnya adalah RU (34) dan TR (37) yang tinggal di Desa Dongi-dongi, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso.

Polisi berhasil mengamankan barang bukti yang diamankan dari kedua tersangka yakni 1 unit mobil Toyota warna hitam dan 22 karung material pasir yang siap diolah jadi emas. Lanjutnya mengatakan, ke empat tersangka saat ini diamankan di rumah tahanan Polda Sulteng. Berdasarkan temuan tersebut dari ke empat tersangka tersebut dikenakan pasal 158 dan 161 Undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang mineral dan batubara dengan ancaman paling lama 10 tahun penjara dan denda paling besar Rp10 Miliar.

- Periklanan -

“Penyidik melakukan pemeriksaan terhadap 7 saksi, 2 saksi ahli dan melakukan penyitaan barang bukti dan melakukan penahanan terhadap empat tersangka. Kalau ada pemodalnya tentu akan diperiksa juga, sementara masih dikembangkan,” sebutnya.

Diskrimsus Polda Sulteng melakukan penangkapan pada 7 Januari pukul 20.30 dan menangkap tersangka dengan membawa 22 karung menggunakan mobil tanpa memiliki izin di Jalan Gunung Safir, Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulure, Kota Palu.Penangkapan ke dua dilakukan 8 Januari pukul 04.00 dan menangkap pelaku dua orang dengan membawa barang bukti 17 karung di Jalan Gunung Sari, Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulure, Kota Palu .

“Kalau untuk jumlah barang bukti, sementara masih sebanyak 39 ini. Tentu semuanya ini adalah informasi dari masyarakat dan dari hasil pemeriksaan ke empat tersangka dan saksi, marterial tersebut berasal dari Desa Dongi-dongi, kalau aktivitas saat ini saya belum berkoordinasi dengan Reskrim yang ada disana, namun yang jelas sudah ada petugas turun TKP, ” jelas Didik.

Seperti diberitakan sebelumnya Kapolda Sulteng Irjen Pol Drs. Syafril Nursal, SH, MH, menegaskan, pihaknya akan menindak tegas segala bentuk pelanggaran hukum, seperti kasus narkoba, curas, curat, termasuk adanya aktivitas tambang ilegal. “Kita akan tindak tegas,” ujarnya.

Diperoleh informasi, aktivitas tambang ilegal juga dilakukan di wilayah Poboya, Kota Palu. Sayangnya, pihak aparat belum mengungkap siapa pemilik modal yang masih beroperasi di wilayah tersebut. (who)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.