PLN Masih Andalkan Tower Emergency

- Periklanan -

Petugas PLN saat melakukan pengerjaan pembangunan tower emergency, menggantikan tower SUTT nomor 46 yang roboh akibat diterjang banjir bandang Sungai Puna beberapa waktu lalu. (Foto: PLN Palu)

PALU – Jika peristiwa robohnya tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) terulang kembali, seperti yang terjadi baru-baru ini menimpa tower SUTT 150kV nomor 46 yang ada di Desa Tabalu, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, PLN masih mengandalkan penanganannya dengan membangun tower emergency. Sementara ada cara lain, yakni dengan menggunakan kabel tanah.

Penggunaan kabel tanah tersebut dinilai lebih efektif, waktu penanganan bisa lebih cepat. Hanya saja harganya relatif mahal. Sekadar diketahui, penanganan robohnya tower dengan menggunakan kabel tanah, misalnya seperti yang terjadi pada tower SUTT nomor 46 tersebut, dengan cara men-jumper (mengonekkan) kabel tanah dari tower nomor 45 ke tower nomor 47. Waktu pengerjaan penanganan dengan menggunakan kabel tanah tersebut, relatif lebih singkat ketimbang harus menggunakan tower emergency.

- Periklanan -

Diakui Manager PLN Area Palu Emir Muhaimin, untuk penanganan robohnya tower SUTT yang ada di wilayahnya masih mengandalkan tower emergency. Selain tidak adanya kabel tersebut, juga pengadaannya relatif mahal. “Ya.. mahal, pasti mahal,” aku Emir.

Dijelaskan Emir, kalaupun ada kabel tanah tersebut dan digunakan dalam penanganan robohnya tower 46 itu, tetap menemui kendala. Pasalnya, medan yang dihadapi yakni derasnya arus Sungai Puna tidak memungkinkan menggunakan kabel tanah.

“Bisa saja dipakai. Tetapi kalau kita bentangkan di sungai itu, maka kabel tanah ini innalillahi. Besar kemungkinan akan terseret aliran sungai. Air sungai ini deras sekali, batang pohon utuh yang gelondongan itu dibawa sama air. Jadi tetap harus digantung melewati sungai,” terangnya.

Di sisi lain, Emir mengungkapkan bahwa penanganan dengan sistem jumper menggunakan kabel tanah, juga dapat dilakukan pada penanganan tegangan 20kV, dari tiang satu ke tiang lainnya. Seperti yang berada di dalam kota. Misalnya, imbuh Emir, ada beberapa tiang listrik yang roboh, maka dengan men-jumper dari tiang yang masih berdiri ke tiang lainnya, kondisi kelistrikan dapat segera teratasi. “Kalau untuk yang 150kV, pengadaannya agak sulit,” tuturnya.(fdl)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.