PIONIR IX Jadi Daya Tangkal Radikalisme di Perguruan Tinggi

- Periklanan -

RADIKALISME merupakan topik yang selalu menarik untuk dibicarakan.Bahkan lebih menarik lagi jika pembicaraan tentang radikalisme ini dikaitkan dengan dunia perguruan tinggi sebagai lembaga pencetak cendikiawan di Indonesia.Betapa tidak, beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang akhir-akhir ini menjadi sorotan publik karena terindikasi terpapar faham radialisme.Padahal masyaakat berharap bahwa perguruan tinggi mestinya melahirkn manusia yang intelekual yang humanis dan mengimlementasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupannya.Inilah sebabnya radikalisme yang berujung pada terorisme menjadi masalah penting bagi umat Islam Indonesia dewasa ini.
Radikalisme yang dimaknai sebagai pemikiran atau sikap keagamaan yang ditandai sikap yang tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan, dinilai telah mendistorsi faham keagamaan yang dijunjung tinggi. Dengan kata lain bahwa agama (khususnya Islam) yang diyakini mengajarkan nilai-nilai kesantunan, menghargai perbedaan atau keberagaman, akhir-akhir ini sering dicap sebagai agama teror dan umatnya dianggap menyukai jalan kekerasan sebagai pilihan suci untuk menyebarkan agamanya. Sekalipun anggapan itu tidak benar dan mudah dibantahkan, namun kenyataannya bahwa para penyebar faham kekerasan dan pelaku teror di Indonesia adalah seorang muslimberfaham garis keras dan ini sangat menciderai perasaan umat Islam pada umumnya.
Harus disadari bahwa saat ini faham atau ideologi kekerasan (radikal terorisme) menemukan ruang strategis untuk hidup dan berkembang di negeri ini karena melemahnya semangat ke-Indonesia, munculnya salah paham terhadap ajaran agama, sikap yang fanatis-sempit, kurang seriusnya kita menerapkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 melalui pendidikan kewarganegaraan, terkikisnyabudaya dan kearifan lokal oleh gelombang modernitas negative, menjadi poin penting untuk diseriusi. Jika tidak hal ini bisa menjadi sebuah ancaman serius bagi keberlangsunganmasa depan generasi bangsa termasuk mahasiswa sebagai calon intelektual muda.
PIONIR (Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIN) Ke IX yang pada tahun ini akan digelar di Universtas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahaim Malang, yang akan dibuka secara resmi oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan akan diikuti oleh 3.500 mahasiswa dari 58 PTKIN seluruh Indonesia, tidak hanya sebagai ajang bergengsi dalam mengasah kemampuan intelektal dan bakat mahasiawa, namun sekaligus menjadi momentum paling tepat dalam membekali mahasiswa akan pentingnya semangat Nasional dan religius serta nilai-nilai kemanusiaan universal. Kehadian mahasiswa dari seluruh Indonesia (tanpa melihat perbedaan suku, kultur maupun budaya) dan ikut berbaur dalam 36 cabang lomba dan pertandingan, yakni 7 cabang ilmiah, 12 cabang olahraga, 13 cabang seni dan 4 cabang riset,akan membuat mereka larut dalam kebersamaan dan semangat satu nusa, satu bangsa dan satu tanah air yaitu Indonesia. Oleh karena itu, semangat ini akan terus digelorakan dalam ajang PIONIR ini mengingat berbagai aksi radikalisme yang melibatkan kaum muda akhir-akhir ini di tanah air, baik sebagai pelaku maupun simpatisan pendukung, baik aktif maupun pasif, jika tidak secepatnya diantisipasi bakal menjadi ancaman terhadap kehidupan generasi bangsa, termasuk mahasiswadi masa medatang.Untuk itu generasi muda atau mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa harus terus diperkuat daya tangkalnya dan dilindungi dari paham radikalisme dan terorisme.
Dalam konteks ini maka PIONIR IX PTKIN yang mengusung tema “Mewujudkan Generasi Bangsa yang Berkarakter dan Berprestasi” yang dibingkai dalam motto “Sprit of the Unity” (semangat persatuan) menjadi hal yang sangat penting dan menemukan momentumnya. Tema ini sekaligus melahirkan sebuah kesadaran bahwa generasi bangsa yang berkarakter, berakhlak dan berprestasi akan memiliki daya tangkal yang kuat terhadap faham dan gerakan radikalisme dan teroris. Demikian pula dengan “spirit of the unity” yang terbangun atas kebersamaan dan sportifitas serta pentingnya sebuah kesatuan bangsa akan terus terpatri dalam hati dan pikiran para peserta PIONIR IX, sehingga ruang-ruang yang akan dimasuki faham-faham radialisme akan tertutup rapat dengan sebuah komitmen Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa dan Satu tanah Air serta NKRI Harga Mati.
Komitmen kebangsaan dan kesatuan universal sebagai bangsa yang bermartabat terus menggelora keluarga besar Kementrian Agama dan PTKIN khususnya, sehingga PIONIR yang merupakan ajang nasional dua tahunan Kementerian Agama, dari tahun ke tahun terus berkembang dan semarak serta menarik untuk diikuti oleh Mahasiswa PTKIN (UIN, IAIN dan STAIN) se Indonesia. Bukan hanya karena hadiah dan bonus bagi mereka yang berprestasi tetapi juga menjadi ajang prestise para atlit di iven perlombaan dan pertandingan tingkat Nasional lainnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa mahasiswa yang berprestasi di PIONIR telah memberikan kontribusi berharga pada ajang seni maupun olahraga, baik tingkat daerah maupun Nasional. PIONIR juga menjadi ajang bergengsi bagi PTKIN yang berhasil meraih juara pada setiap lomba dan pertandingan karena prestasi PTKIN tersebut menjadi kontribusi berharga untuk meraih predikat terbaik dalam akreditasinya.
Prestasi maupun prestise atau apapun namanya sebuah kebangaan yang diperoleh lewat PIONIR IX PTKIN Tahun 2019 ini akan lebih bernilai jika hal itu berkontribusi terhadap keberlangsungan hidup generasi bangsa ke depan ditengah gencarnya garakan radikalisme di Indonesia yang bisa saja menyerang kalangan mahasiswa dengan konsep Islam radikal dan fundamental. Untuk mengantisipasi gerakan tersebut, peran keagamaan (cendikiawan muslim atau ulama), perguruan tinggi (mahasiswa atau civitas akademika) dan elemen masyarakat lainnya sangat penting, terutama melalui counter pandangan, pemikiran (dari sikap yang keras dan anti NKRI)agar berubah menjadi toleran, menghargai perbedaan pendapat, demokratis, moderat, pluralis, dan tidak membenturkan agama dan Negara.
Sebagai wujud tanggung jawab PTKIN dan generasi Islam yang ada di dalamnya, telah menjadikan PIONIR IX ini sebagai upaya membangun kesadaran akan pentingnya moderasi beragama melalui kajian-kajian inklusif, humanis universal khususnya pada bidang ilmiah dan riset. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa memahami bahwa agama dan Negara mesti diletakkan sebagai sumber nilai, sehingga dalam prilaku dan faham keagamaannya selalu mengambil peran tawasuth (moderat), tawazzun keseimbangan, ta’adul(keadilan), dan tasammuh (penuh toleransi).
Selamat melaksanakan PIONIR IX PTKIN Tahun 2019, junjung tinggi moderasi beragama dan terus menggelorakan semangat dan sportifitas untuk Indonesia yang damai, aman dan bermartabat di masa depan. (*)
*) Penulis adalah Steering Committee (SC) pada PIONIR IX PTKIN 2019 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.