Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Petinju Sulteng “Dikalahkan” Wasit Juri, Official “Mengamuk”

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Petinju Sulteng, Sarlan (kiri) saat menghadapi Muhammad Rabbil dari Riau di babak semifinal kelas 46 kg putra di Auditorium Unnes Semarang, Selasa, (19/9) kemarin. Sarlan hanya meraih medali perunggu karena gagal ke final. (Foto: Tim Popnas Sulteng)

SEMARANG – Pupus sudah harapan cabang olahraga (cabor) tinju Sulteng untuk merebut medali emas di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XIV/2017, Jawa Tengah.

Asa terakhir Sulteng untuk mendulang medali emas di cabor tinju melalui Sarlan juga gagal. Petinju Sulteng yang dijuluki ‘Manny Pacquiao’ nya Sulteng ini ‘dikalahkan wasit’ saat menghadapi petinju Muhammad Rabbil dari Riau di babak semifinal kelas 46 kg putra yang berlangsung di Auditorium Unnes Semarang, Selasa (19/9) kemarin.

Kegagalan Sarlan melaju ke babak semifinal tidak diterima pelatih tinju Sulteng, Dilham. Dia mengaku anak asuhannya itu unggul dalam pengumpulan angka. Diapun melakukan protes keras dengan melempar kursi ke atas ring.

Bukan hanya pelatih yang beraksi, tapi ofisial Sulteng lainnya yang menyaksikan pertandingan di Auditorium Unnes juga ikut melempar kursi. Ada juga yang bertriak juri tidak becus dalam memberikan nilai.

”Dari awal, atlet kita memang sangat disegani di kelas 46 kg. Mereka (baca tuan rumah,red) sengaja menjegal atlet kita di semifinal. Karena kalau lolos ke final, maka kita akan ketemu tuan rumah, Jateng. Ini akan menyulitkan bagi mereka. Makanya segala upaya mereka lakukan untuk menjegal kita agar tidak lolos ke final,” ujar Dilham.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulteng, DR Yunan Lampasio juga sangat menyayangkan liner wasit yang tidak sportif dalam menjalankan tugasnya.

Menurut Yunan, sikap seperti ini adalah cara-cara primitif yang dilakukan oleh wasit tinju, ternasuk di pencak silat. Karena sebuah kepentingan memenangkan tuan rumah harus mengorbankan atlit lain. Ini kan event pelajar seharusnya para wasit memperlihatkan kepada anak-anak  sebuah sikap dan perilaku yang baik , jujur dan sportif. Bukan justru dengan cara-cara yang tidak jujur dan tidak bermartabat.

” Saya sangat-sangat menyesalkan cara-cara wasit memimpin pertandingan seperti kejadiannya di event tinju di Popnas ini termasuk di cabor silat. Kita bukan tidak menjungjung tinggi sportivitas , tapi sportivitas itu harus dilakukan dengan cara-cara yang obyektif dan jujur,” ujar Yunan.

Meski atletnya gagal meraih medali emas di Popnas kali ini, Yunan selaku penanggung jawab kontingen menyampaikan terima kasih kepada seluruh atlet pelajar Sulteng yang sudah berjuang maksimal. Demikian halnya dengan seluruh kontingen, mulai dari pemerintah, pelatih dan ofisial yang telah melakukan upaya secara maksimal untuk prestasi olahraga Suktengvdi masa depan.(aml)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.