Petani Sigi Masih Andalkan Mesin Alkon

Solusi Aliri Lahan Pertanian Pasca Gempa

- Periklanan -

TERIMA BANTUAN : Inilah bantuan mesin Alkon dari koran Pontianak Post untuk sebagian petani di Kabupaten Sigi, yang diterima Syaiful dan Sumirin, Kamis (30/1).
NENDRA/RADAR SULTENG
SIGI – Sulitnya mendapatkan air untuk pertanian membuat petani di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah mencari alternatif. Adalah Sumirin dan Syaiful Bahri contohnya. Untuk bisa tetap bertani di saat musim panas seperti saat ini harus rela menyewa lahan pertanian yang ada di Desa Lolu bagian bawah dan Desa Karanjalemba.

Pasalnya, lokasi rumah dan lahan pekarangan yang ada di jalan poros Palu–Palolo kata keduanya rusak berat, akibat musibah gempa bumi pada 28 September 2018 lalu. Lahan pekarangan miliknya bergelombang dan retak retak. Solusinya kata Sumirin, harus mencari lahan alternatif meski harus disewa. Beruntung ada donatur dari Yayasan Bhakti Suci Kalimantan Barat yang dikoordinir media harian Pontianak Post membantu perlengkapan sumur buatan.
”Terimakasih telah membantu para petani di Kabupaten Sigi. Mesin Alkon sampai saat ini menjadi solusi dan andalan bagi petani,” kata Sumirin diamini Syaiful Bahri.
Ditambahkan Syaiful Bahri, selama irigasi gumbasa belum bisa difungsikan masyarakat desa Lolu, Jonooge dan Sidera khususnya para petani masih menggantungkan air dari sumur buatan. Itupun tidak semua wilayah bisa diolah petani. Makanya banyak petani yang mencari alternatif lahan di bagian bawah seperti, dusun Bodi, Langaleso dan desa Lolu bagian bawah. Alasannya lokasinya mudah dibuatkan sumur menggunakan mesin alkon.
Pada Kamis (30/1) kemarin, kedua kelompok tani ini menerima bantuan mesin Alkon dan sarana sumur buatan dari donatur Yayasan Bhakti Suci, Kalimantan Barat. Lahan seluas sekira 2 hektar diolahnya secara kelompok. Ada yang mau tanam semangka, tomat dan cabe keriting. ”Bibitnya sudah siap. Dalam waktu dekat akan saya tanami semangka,” kata Syaiful Bahri yang mengolah lahan di wilayah Karanjalemba.

- Periklanan -

Hal berbeda diungkapkan Sumirin bahwa untuk bisa menanam daun sup terlebih dahulu dibuatkan pelindung menggunakan daun kelapa. Ini dilakukan agar tanah tetap lembab dan tanaman daun sup tidak langsung tersinar panasnya matahari. Saat ini Kota Palu, Sigi dan Donggala masuk wilayah terpanas di Indonesia dengan suhu sekira 36-37 derajat.
Saat ditemui Radar Sulteng, Sumirin bersama kelompoknya mengolah lahan sewaan di Desa Lolu bagian bawah. Saat itu lahan yang sudah diolah langsung dialiri air menggunakan mesin alkon. Setelah kebutuhan air dinilai cikup selanjutnya akan ditanami tomat. Sebagian akan ditanami daun sup.
” Selesai digunakan mengaliri lahan. Mesin alkon bantuan langsung dibawa pulang. Tiap hari bongkar pasang seperti ini untuk menghindari aksi pencurian,” demikian ungkapnya.

Sebelumnya Khairul Rahman perwakilan manajemen Pontianak Post yang datang langsung ke lokasi bencana mengatakan, program pembuatan sumur pompa (Alkon) dilakukan setelah pihaknya melakukan survei langsung ke wilayah Kabupaten Sigi. Luasnya lahan pertanian di kabupaten Sigi pasca terjadinya musibah gempa bumi menjadi lahan tidur akibat kekeringan. Satu-satunya sumber air dari Irigasi Gumbasa tidak bisa lagi berfungsi akibat rusak berat. Sepanjang jaringan irigasi terbelah-belah dan membutuhkan waktu lama untuk perbaikan.
”Atas usul dan masukan para petani akhirnya pembuatan sumur pompa dilakukan agar para petani bisa menggarap kembali lahan miliknya,” demikian ungkap Khairul saat ditemui di Palu.(ndr)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.