Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Pesisir Teluk Palu Jadi Zona Jelajah Buaya Muara

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Buaya yang terkena jaring nelayan menjadi tontonan warga, Kamis (6/7). (Foto: Ist)

PALU – Buaya muara yang menewaskan salah seorang warga di Kalora, Kabupaten Sigi, mendapat perhatian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng. BKSDA sempat mengirimkan anggotanya melakukan pemantauan saat terjadinya perisitiwa pada Selasa (26/9) malam lalu.

Menurut Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sulteng Haruna, wilayah di sepanjang pesisir pantai talise masih menjadi jelajah bagi buaya muara Sungai Palu. BKSDA menyebutkan reptil dalam bahasa latinnya disebut Crocodylus porosus ini pernah sampai ditemukan di wilayah Kelurahan Mamboro bahkan Kabupaten Donggala. Apalagi hanya disekitar wilayah perbatasan pertemuan antara sungai Palu dan Teluk Palu, otomatis masih menjadi wilayah kekuasaannya.

“Airnya payau, jadi buaya dapat saja berkeliaran, masyarakat diminta untuk berhati-hati setiap saat,” kata Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sulteng, Haruna saat dikonfirmasi Radar Sulteng, Rabu (27/9).

Lanjut Haruna, kualitas air di habitat buaya muara di Palu masih sangat baik sehingga mendukung perkembangbiakan buaya. Namun pada dasarnya sifat hewan cenderung menghindari konflik dengan manusia kecuali ketika mereka merasa terganggu atau terancam. Haruna juga meyakini, serangan buaya bukan dikarenakan jumlah makanan mereka di alam berkurang, lantaran jasad korban yang ditemukan dalam kondisi utuh alias tidak dimakan oleh buaya.

“Pada prinsipnya kita meyakini binatang itu asal tidak diganggu atau dia merasa terancam maka tidak akan terjadi apa-apa, kerenanya butuh kehati-hatian manusia saat beraktivitas di daerah yang jelas-jelas ada hewannya disitu,” ungkap Haruna.

Disinggung soal penanganan satwa yang terlibat konflik dengan manusia, Haruna membenarkan adanya pengecualian dimana satwa boleh dibunuh bila memang membahayakan keselamatan manusia. Hal itu berlaku, sekalipun satwa tersebut dilindungi undang-undang. Namun Haruna mengakui BKSDA sendiri belum terpikir dengan upaya tersebut.

“Tetapi itu harus disepakati oleh Kepala BKSDA langsung bahkan sampai pihak pemerintah pusat,” katanya.

Untuk langkah awal, kata Haruna lagi, masyarakat diminta agar tidak melakukan aktivitas di wilayah kekuasaan buaya pada waktu aktif-aktifnya sedang mencari makan. Apalagi saat ini menjadi waktu dimana buaya masuk pada musim kawin.

“Palu ini bukan hanya satu sungainya, tetapi banyak sungai-sungai kecil. Nah, air yang berada di bagian pesisir pantai itu masih terasa payau, pasti dapat dijangkaunya,” sebut Haruna.

Sungai-sungai kecil itu kata Haruna misalnya masih terdapat di wilayah Kelurahan Talise. Objek wisata kampoeng nelayan pun bisa dikatakan termasuk wilayah berbahaya bagi masyarakat yang ingin mandi di setiap hari libur.

“Dalam satu dua hari ke depan kita akan pasang kembali papan peringatan. Pernah kita pasang sebelumnya, tapi tidak bertahan lama sudah dicabut warga,” terangnya lagi.

Data yang ada di BKSDA tahun 2016 kurang lebih ada belasan ekor buaya dewasa di Muara Sungai Palu. Itu belum termasuk buaya yang masih kecil dan baru lahir pada tahun kemarin serta tahun ini. Haruna mengungkapkan, buaya dewasa di Muara Sungai Palu bisa saja ditangkap oleh warga atau ahlinya. Kemudian jika ada warga atau pecinta satwa ingin menangkarkan indukan buaya, pihak BKSDA akan membantunya dengan mengeluarkan izin penangkaran bahkan menangkap indukan tersebut.

“Kalau ada yang ingin melakukan penangkaran buaya, BKSDA akan mengeluarkan izin. Baik itu buaya dewasa atau indukannya, nanti yang tangkap bisa warga atau ahlinya nanti bekerjasama dengan BKSDA,” tutup Haruna. (acm)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.