Peserta Pelatihan Disambut Gempa Bumi

- Periklanan -

TOKYO – Pemerintah Sulteng, melalui Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Sulteng Hasanuddin Atjo dan tiga Kepala dinas di wilayah Kota Palu Kabupaten Sigi dan Donggala (Pasigala) saat ini sedang mengikuti pelatihan mitigasi bencana alam, dan penanganannya pasca gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi di Jepang, sejak Rabu (6/11).

Pelatihan itu difasilitasi oleh Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) sebuah LSM Jepang yang intens memberikan bantuan ekonomi sosialnya, bahkan infrastruktur di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pascagempa di Pasigala JICA sudah melakukan kerja kerja untuk membantu penyintas di wilayah Pasigala, kesemuanya untuk memulihkan kembali ekonomi dan kesejahteraan masyarakat korban terdampak bencana.

Karena itulah, JICA bekerjasama dengan pemerintah di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait pemulihan ekonomi dan kesejahteraan, yakni Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memberikan bantuannya kepada masyarakat.

Namun, JICA tidak sekadar memberikan bantuan kepada penyintas yang ada di Balaroa Kota Palu, di Desa Mpanau Kabupaten Sigi, dan di Desa Lero Tatari Kabupaten Donggala (hasil survei JICA, tiga titik ini layak diberi bantuan). Namun juga membawa beberapa pejabat eksekutif untuk melakukan study banding di daerah-daerah yang pernah mengalami bencana di Jepang.

“Kami membawa para pejabat eksekutif dari Indonesia, terutama pejabat yang berhubungan langsung dengan pembuat kebijakan dibidang pemulihan ekonomi dan kesejahteraan warga terdampak bencana alam, ” kata Mr. Takeda, salah satu pimpinan JICA, di Tokyo Rabu (7/11).

- Periklanan -

Itulah sebabnya, mengapa Direktur Direktorat Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Bapenas RI, Ahmad Dading Gunadi, Kepala Bappeda Sulteng, Hasanuddin Atjo, bersama Kepala Dinas (Kadis) UMKM Sulteng yang diwakili Kabid Koperasi Arifin Achmad, serta Kepala Dinas (Kadis) Koperasi dan UMKM Kabupaten Sigi Dr. Samuel Yansen Pongi, SE., M.Si, Kadis Koperasi dan UMKM Kota Palu Syamsul Saifudin, Kadis Koperasi dan UMKM Donggala Umar, dan Kadis PUPR Kota Palu Iskandar Arsyad diundang untuk mengikuti pelatihan bernama The Project for Development of Regional Disaster Risk Resilience Plan (PDRP) in Central Sulawesi, atau proyek untuk penanganan dan rencana resiliensi risiko bencana di Sulawesi Tengah.

Dalam perkenalannya kemarin, di kantor pusat JICA di Tokyo, petinggi JICA sebagai pengundang menyambut hangat kedatangan peserta pelatihan, sekaligus akan mengunjungi tempat-tempat yang pernah terjadi bencana di Jepang, baik wilayah terdampak gempa bumi maupun tsunami.

Ada beberapa wilayah yang akan dikunjungi peserta pelatihan, yaitu Prefekture (setingkat provinsi di Indonesia, red) Sendai, Kota Higashi Matsushima, Harappa, Naruse, Kota Kensennuma, dan Kota Kamaishi.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Bappenas, Ahmad Dading Gunadi, mengucapkan terima kasih kepada JICA yang telah memiliki proyek perencanaan mitigasi dan resiliensi penanganan kebencanaan untuk melatih para peserta dari Indonesia, khususnya wilayah Pasigala.

“Insya Allah ilmu yang kami dapat, dengan melihat langsung daerah-daerah yang sempat ditimpa musibah bencana alam, dan melihat bagaimana pemerintah Jepang melakukan resiliensi penanganan kebencanaan kepada warganya, ” tutur Dading, dalam pertemuan itu.

Menariknya, saat peserta pelatihan bergeser, dari Tokyo ke Kota Sendai, salah satu kota terbesar di bagian utara Jepang, tim peserta disambut gempa berkekuatan 5,4 Skala Richter. Tim pun panik, tetapi masih bisa kontrol diri, karena sudah diajari oleh tim JICA bagaimana yang harus dilakukan ketika terjadi gempa bumi.

Rencananya hari ini, peserta akan dibawa berkunjung ke Kota Higashi Matsushima sebuah daerah yang sempat hancur akibat gempa dan tsunami yang terjadi pada tahun 2012 yang lalu. Di sesi ini, peserta akan belajar banyak soal mitigasi dan resiliensi kebencanaan dengan topik ” Membangun Kembali Kota”.

Di kunjungan ini, peserta akan melihat resiliensi terhadap penyintas di lokasi Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap). Peserta menginap di Sendai selama tiga hari.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.