Pesepak Bola Seiichiro Maki Hibur Anak Korban Bencana

- Periklanan -

SIGI – Anak-anak korban bencana yang berasal dari Balaroa, Petobo dan Jono Oge, dihibur langsung oleh mantan pesepak bola professional yang bergabung dalam Tim Nasional Jepang, Seiichiro Maki. Laki-laki yang memperkuat tim Jepang di Piala Dunia Jerman 2006 itu, mengajak anak-anak korban bencana bermain sepak bola bersama di Lapangan Dolo, Kabupaten Sigi, pada Sabtu (5/10).

Dalam event yang bertema Kick Off to The Future yang dihelat oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Sulteng tersebut, anak-anak korban bencana terlihat gembira. Sementara Maki, juga terlihat antusias.

Maki mengungkapkan kehadiran dirinya di event tersebut karena merasa memiliki kesamaan dengan anak korban bencana. Di Kamamota, kota tempat tinggalnya, pernah dilanda gempa besar dan menghancurkan banyak rumah. Dirinya pun turut menjadi sukarewalan. Olehnya, Maki berterima kasih kepada penyelenggara event dan juga masyarakat setempat, yang telah memberikannya kesempatan untuk datang dan bermain bersama anak korban bencana.

- Periklanan -

“Karena keahlian main bola, saya mencoba berbagi pengalaman main bola kepada anak-anak korban bencana,” ucapnya dalam Bahasa Jepang.
Selain bermain sepak bola bersama, Maki yang telah berada di Kota Palu selama dua hari, juga melakukan kunjungan di beberapa lokasi pengungsian, Huntara, dan daerah terdampak bencana. Berdasarkan pengamatannya, Maki mengungkapkan butuh waktu panjang untuk melakukan rekonstruksi. Meski begitu, dia berharap korban bencana tidak putus asa.

“Dalam kondisi setelah bencana seperti ini, anak-anak tetap senyum dan semangat, itulah yang menjadi semangat kepada orang dewasa untuk segera bangkit,” sebutnya.
Maki menyebutkan bencana besar di Kamamoto sama seperti yang terjadi di Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kota Palu. Ada banyak rumah yang rusak dan area terdampak bencana juga berada di daerah yang terbatas akses, sehingga banyak tempat yang tidak terjangkau pemerintah untuk diberikan bantuan.

“Perbedaan Jepang dan Indonesia, disana dahulukan perbaikan saranan prasarana, di Kimamoto jalan rusak cepat dibangun kembali. Di Sulteng masih banyak jalan belum disentuh oleh pemerintah,” ungkapnya.
Atas kondisi tersebut, Maki berharap setidaknya pemerintah dan orang dewasa di sekitar anak korban bencana, bisa memberi waktu dan kesempatan kepada mereka agar bisa tersenyum dan mengekspresikan diri. Seperti yang bisa dilakukannya, yakni mengajak anak korban bencana bermain sepak bola bersama.(umr)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.