Perwakilan Warga Panau Minta PLTU Ditutup Permanen

- Periklanan -

PALU –  Perwakilan masyarakat Kelurahan Panau, tetap meminta supaya aktivitas PLTU dihentikan secara permanen. Hal ini disampaikan masyarakat dalam rapat dengar pendapat atau hearing di ruang sidang utama DPRD Kota Palu.

Suasana hearing tentang PLTU di Ruang sidang utama DPRD Kota Palu, Rabu siang (28/2). (Foto: Zainudin JAcub)

Sidang dipimpin oleh Ketua Komisi C Sophian R Aswin dengan menghadiri pihak pengelola PLTU  PT Pusaka Jaya Palu Power dan Pihak PLN. Hadir dalam hearing, selain perwakilan masyarakat Panau dan Kayumalue, juga hadir Asisten II Pemkot, Imran Lataha, OPD terkait di lingkup Pemkot, serta pihak kepolisian.

Saat membuka sidang Ketua Komisi C Sophian R Aswin menyatakan, hearing digelar sesuai pengaduan masyarakat persoalan terkait persoalan limbah dari produksi akhir atau Flyng Ash, serta dampak buruk bagi kesehatan warga yang berada disekitar PLTU telah terjadi sejak  beberapa tahun lalu.

“Warga meminta PLTU yang menyuplai sekitar 40 Megawatt untuk kelistrikan Kota Palu, Sigi dan Parimo ditutup,” jelasnya.

Sementara Asisten II Imran menyatakan ada dampak buruk dari PLTU soal limbah. Namun di sisi lain ada ketergantungan masyarakat Kota Palu dan sekitar akan suplai listrik PLTU. Dan ketergantungan masyarakat kota Palu dan sekitarnya akan listrik, disuplai oleh PLTU.

- Periklanan -

Seorang perwakilan warga, Fatar menegaskan, apapun alasannya, PLTU harus ditutup permanen sesegera mungkin.

“Sudah beberapa kali kami melakukan demo atas dampak terhadap lingkungan maupun kesehatan yang diakibatkan oleh limbah PLTU,” katanya.

Diakui, saat ini lembaga terkait telah menyegel PLTU. “Selama 11 tahun kami diracuni oleh limbah maupun dampak buruk lainya dari PLTU, satu tahun kami berikan kepada wakil rakyat untuk menyesaikan polemik tersebut, namun tidak ada hasilnya, kemana pemerintah, kami dikorbankan oleh pemerintah kami sendiri, karena kesepakatan berdirinya PLTU itu bukan kami, tapi pemerintah, “ katanya.

Di Tawaeli kata Fatar, ada tiga warga dalam satu rumah meninggal dalam kurun waktu sepuluh hari dengan penyakit yang sama.

“Apakah kami hanya tinggal diam,” tanyanya.

Kesimpulan hearing, masyarakat tetap meminta PLTU ditutup permanen, karena berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan warga. Selain direkomendasi  penyedian sarana medis bagi pekerja di area flyng Ash. (zai)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.