Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Perlunya Bilik Asmara di Lokasi Pengungsian

Agar Pasutri Tak Lagi Berhubungan di Semak-semak

PALU – Delapan bulan berlalu pascagempa bumi melanda Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) penyintas masih ada yang tinggal di tenda-tenda. Selain diperlukan bantuan makanan, kesehatan dan lain-lain, juga menyiapkan tempat untuk pemenuhan kebutuhan biologis (seksual).
Deputi Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pelindungan Perempuan dan Anak, Nyimas Aliah, SE. M.Kom mengatakan, penyintas yang ada masih ada di tenda pengungsian, khususnya perempuan tidak akan merasa nyaman untuk memenuhi kebutuhan biologisnya bersama suami jika dilakukan di tenda-tenda atau di semak belakang tenda. Sehingga, perlu disiapkan sebuah tempat pemenuhan kebutuhan biologisnya. “Entah nanti namanya apa, mungkin bilik barokah atau bilik asmara atau apa yang cocok. Perlu disiapkan di lokasi pengungsian,” ujarnya.
Hal itu kata, Nyimas Aliah agar para pasangan suami istri (Pasutri) untuk memenuhi kebutuhan biologisnya tidak lagi melakukan di hutan-hutan, semak-semak di sekitar lokasi pengungsian atau di tenda-tenda. “Kalau di tenda, sewaktu-waktu anak-anak masuk dan melihat. Makanya perlu menyiapkan tempat khusus pemenuhan kebutuhan biologis,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Nyimas Aliah, kamar mandi umum bagi penyintas sebaiknya dibuat terpisah untuk perempuan dan laki-laki. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya pelecehan seksual terhadap perempuan yang ada di tenda-tenda pengungsian maupun yang ada di Hunian Sementara (Huntara). Kamar mandi perempuan juga harus lebih banyak daripada kamar mandi laki-laki. “Karena perempuan lebih lama di dalam kamar mandi daripada laki-laki, sehingga kamar mandi perempuan harusnya lebih banyak,” terangnya. (ron)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.