Perda Nomor 14 tahun 2019 Harapan Baru bagi Ketahanan Keluarga

- Periklanan -

PALU-Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Hj. Wiwik Jumatul Rofi’ah mengatakan bahwa kehadiran Perda No 14 tahun 2019 merupakan harapan baru untuk membangun ketahanan keluarga di Sulteng.

Hal ini Wiwik sampaikan dalam webinar yang digelar Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPW PKS Sulteng yang digelar di aula DPTW, Selasa (27/4).

“Adanya Perda ini menjadi bukti bahwa keluarga bukan hanya tanggungjawab di masyarakat lagi tetapi juga menjadi tanggungjawab pemerintah, yang turut andil dalam membuat kebijakan dalam bentuk Perda ini, ” kata Ketua Fraksi PKS DPRD Sulteng ini.

Selanjutnya, ibu tiga anak ini menyosialisasikan pasal-pasal yang perlu digarisbawahi sebagai bentuk dukungan dari Perda ini untuk membangun ketahanan keluarga di Sulteng.

“Insya Allah, sekarang tinggal kita mengawasi penerapan Perda ini saja. Karena isinya sudah memuat tentang perkawinan, perlindungan anak dan KDRT, ” ungkapnya.

Sementara itu ketua DPW PKS Sulteng, Muhammad Wahyuddin, yang turut hadir sebagai prmbicara memaparkan terkait tema keluarga kuat, bangsa kuat mengatakan bahwa sesungguhnya pilar utama suatu bangsa adalah keluarga.

- Periklanan -

“Pilar pertama bangsa adalah masyarakat, sementara pilar utama masyarakat adalah keluarga, “kata Wahyuddin pada webinar yang digelar secara offline dan online ini.

Sehingga menurut Wahyuddin keluarga itu merupakan miniatur negara karena di dalamnya ada kesepakatan bersama. Sebab tidak mungkin ada pernikahan jika tidak ada kesepakatan bersama yang Allah sebut sebagai mitsaqan ghaliza.

“Artinya kalau dalam negara ada UU begitu juga dalam keluarga. Ada hukum-hukum yang jadi kesepakatan bersama berdasarkan Alquran dan Hadis, serta kesepakatan ulama, ” ujar Wahyuddin.

Senada dengan Wahyuddin, Ketua MUI Kota Palu, Prof. H. Zainal Abidin, yang turut hadir dalam webinar yang digelar jelang berbuka ini juga berpendapat bahwa untuk membangun keluarga muslim tangguh membutuhkan kehadiran agama.

“Keluarga punya fungsi utama untuk menjaga anggota keluarganya agar tidak terjerumus ke neraka. Artinya saling melindungi agar tetap berada dalam koridor moral dalam nilai kemanusiaan, ” kata mantan rektor IAIN Palu ini.
Zainal juga mengungkapkam bahwa modal membangun ketahanan keluarga agar tidak menyimpang adalah moral dan keteladanan. Sehingga keluarga seharusnya berkontribusi dalam proses edukasi tersebut.

“Penerapan agama itu tidak hanya ritual, akan tetapi cara hidup terutama dalam keluarga. Bukan hanya menyuruh salat, tetapi juga menjaga moralitas, ” tutupnya.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.