Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Perburuan Penyelamatan Buaya Berkalung Ban Terus Dilakukan

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Upaya penyelamatan buaya berkalung ban yang dilakukan Panji Petualang dan Jawa Pos-Radar Sulteng terus dilakukan. Pada hari ke-3 operasi, opsi-opsi menjebak buaya di dalam sungai mulai dilakukan. Sebab, proses penaklukan buaya di alam liar memang berbeda dengan satwa di tempat konservasi.

Panji bersama tim penyelamat buaya berkalung ban dibantu tim dari Polairud menyisir sungai Palu sampai ke muara sungai, Senin malam. (Foto: Dite Surendra/Jawa Pos)

Upaya penyelamatan buaya berkalung ban ini memang tak mudah. Butuh waktu dan proses. Kondisi ini juga yang dialami sejumlah pihak, yang pernah berupaya menyelamatkan buaya malang tersebut. Termasuk para aktivis penyelamat satwa dari Jakarta Animal Aid Network atau JAAN.

Pada Desember 2016, JAAN memang pernah melakukan upaya penyelamatan buaya berkalung ban. Selama hampir 12 hari mereka berjibaku mencari dan berupaya menarik buaya itu untuk ke darat. Tapi sayangnya belum berhasil.

Salah satu penyebab belum berhasilnya operasi mereka juga karena kegaduhan yang ditimbulkan masyarakat di sekitar lokasi.  “Tidak bisa menangkap buaya dengan kegaduhan. Suara yang ditimbulkan warga bisa membuat buaya lari,” kata Sudarno, ahli buaya dari JAAN yang melakukan operasi penyelamatan di Palu.

Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah pun sebenarnya tak berdiam diri. Mereka pernah melakukan upaya penyelamatan, tapi justru buayanya yang tak menampakan diri. Lembaga yang di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu bahkan sudah menyiapkan perangkap. Tapi hasilnya juga nihil.

Panji mengatakan menaklukan buaya di alam liar berbeda dengan satwa di tempat konservasi atau penangkaran. Apalagi, kondisi buaya berkalung ban itu saat ini seperti trauma. Satwa itu sudah tak nyaman di lokasi yang biasa digunakan untuk berjemur atau sembunyi. “Buaya itu stres berat. Sepertinya sekarang sering di pantai,” terangnya.

Menurut Panji, sebenarnya pada operasi hari pertama (Minggu, 21/1/2017) sudah dapat kesempatan. Buayanya nongol berjemur. Tapi baru saja saya siapkan strategi penangkapan, eh si buaya menghilang karena suara-suara gaduh warga yang menonton,” keluhnya.

Panji mengatakan, dirinya bukan seorang pawang. Operasi penyelamatan yang dilakukan murni menggunakan hal-hal teknis. Tak ada hal-hal yang berbau mistis. “Kalau buayanya berhasil dibawa ke darat saja, tidak perlu lama saya untuk mengevakuasinya,” terangnya.

Meski begitu, Panji dan tim tak menyerah. Dia menyiapkan sejumlah opsi penjebakan buaya di dalam air. Sebab upaya yang sangat sulit ialah membawa buaya itu keluar dari air. Opsi penjebakan itu dilakukan dengan jala dan pukat. Perangkat itu diharapkan bisa membendung buaya berkalung ban kabur lewat dalam aliran sungai.

Masih kata Panji, dari hasil observasi  Senin malam hingga Selasa dinihari, jumlah buaya di muara sungai Palu cukup banyak. Meski jumlah realnya tidak disebutkan namun kata Panji jumlahnya bisa mencapai puluhan. ” Malam itu penyisiran difasilitasi perahu karet Polairud. Dimulai dari muara sungai Palu hingga di jembatan gantung di Kelurahan Nunu. Di sepanjang sungai itu banyak buaya yang berukuran sekira 2 meter an berdiam diri menunggu mangsa. Begitu saya senter matanya menyala merah,” tegasnya.

Jadi Perhatian Warga

Pantauan Radar Sulteng, Senin malam, di bawah jembatan IV pukul 00.00 terlihat ramai dengan kerumunan warga. Puluhan warga yang penasaran lantas berhenti untuk melihat upaya pencarian tim. Ada pula yang sengaja mencari informasi keberadaan Panji dari Sosial Media. Selain karyawan swasta, ada pula warga sekitar jembatan IV, yang terdiri dari orang tua, baik laki-laki maupun wanita, remaja dan anak-anak ikut melihat proses pencarian buaya.

Pencarian di malam hari tidak mengurangi antusias warga Palu untuk ikut menyaksikan, penyusuran yang dimulai dari jembatan IV palu hingga jembatan gantung tersebut mengundang perhatian warga.

Seperti salah seorang warga bernama Nur sengaja singgah untuk menyaksikan pencarian buaya berkalung ban tersebut berdasarkan informasi yang tersebar di media sosial. “Saya liat di media sosial tadi, pas pulang kerja langsung singgah,” ungkap wanita yang datang bersama pasangannya tersebut.

Berbeda dengan Unding yang kebetulan menemani istrinya yang sedang dirawat di Rumah Sakit Anuta Pura Palu, mendapat info dari suster dan pengunjung di rumah sakit bahwa Panji dan tim akan melakukan penangkapan malam hari, sehingga menggugah rasa penasarannya untuk datang langsung ke jembatan IV Palu untuk menyaksikan aksi Panji. “Saya penasaran dengan atraksi Panji, biar malam saya tetap datang lihat,” ucapnya.

Pantauan di lapangan, sejumlah warga terlihat ikut membawa senter untuk menerangi dan mencari keberadaan buaya berkalung ban, meskipun dalam beberapa waktu untuk kesekian kalinya selama pencarian Panji bersama tim Jawa Pos-Radar Sulteng kembali ke jembatan IV Palu dan belum juga menemukan sosok buaya berkalung ban.

Tim Jawa Pos- Radar Sulteng terus melakukan pemantauan di sejumlah tempat termasuk bekas tempat reklamasi. Menurut Panji buaya tersebut sudah enggan menuju ke Jembatan II tempat berjemur hewan reptile itu disebabkan trauma dengan keramaian warga beberapa waktu lalu saat dilakukan upaya penyelamatan Buaya malang tersebut oleh Panji.

Ia juga mengatakan dirinya selama ini belum berhasil dalam aksi penyelamatan itu karena masyarakat selalu berdatangan ketika buaya itu muncul sehingga acapkali buaya itu berusaha untuk didekati oleh Tim Jawa Pos-Radar Sulteng maka buaya berkalung ban langsung berbalik arah dan kembali menuju ketengah laut.

“Buayanya itu trauma waktu di Jembatan II makanya buaya itu lebih memilih di tempat tenang seperti di lokasi reklamasi,” ungkapnya Selasa (23/1) kemarin disela-sela melakukan pemantauan di sepanjang lokasi reklamasi.

Panji sendiri bukanlah merupakan pawang hewan melainkan aktivis satwa. Ia juga mengatakan jika melakukan evakuasi buaya itu masih berada di dalam air maka akan kesulitan dan lebih berbahaya karena air merupakan habitat reptil tersebut.

“Kalau buayanya sudah naik ke darat. Saya siap hadapi dan duduki buayanya itu untuk segera lakukan pelepasan ban dari buaya tersebut,” kata Panji Sang Aktivis Satwa. Sekitar pukul 18.00 wita buaya berkalung ban tersebut terpantau tim Jawa Pos-Radar Sulteng di bibir pantai dekat lokasi timbunan reklamasi. (gun/lib/umr/cr6/cr3)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.