Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Peranan Pendidik Melestarikan Budaya Nusantara Dalam Kalangan Pelajar Tempatan (Lokal) dan Antar Bangsa

Oleh : Syam Zaini, S.Pd., M.Si*

BUDAYA atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “buddhayah”, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budhi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.Dalam bahasa Inggeris, kebudayaan disebut culture yang berasal dari kata latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimilki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi kegenerasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni. Bahasa pun demikian, sebagaimana budaya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia, sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.
Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaanya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan prilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Dari sekian banyak definisi kebudayaan, maka dapat diperoleh pengertian tentang kebudayaan adalah sesuatu yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi system ide, atau gagasan yang terdapat pikiran manusia. Dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang dibuat oleh manusia sebagai mahluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi social, religi, seni dan sebagainya, yang kesemuanya itu ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
NUSANTARA
Nusantara merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sumatera sampai Papua, yang sekarang sebagian besar merupakan wilayah Negara Indonesia. Kata ini tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa pertengahan abad 12 hingga 16 untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang dianut oleh Majapahit. Setelah sempat “terlupakan”, pada awal abad 20 istilah ini dihidupkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu alternatif untuk Negara merdeka pelanjut Hindia belanda yang belum terwujud.
Kata Nusantara dipakai sebagai sinonim untuk kepulauan Indonesia, Nusantara merupakan padanan bagi kepulauan Melayu. Kitab Negarakertagama mencantumkan wilayah-wilayah “Nusantara”, yang pada masa sekarang dapat dikatakan mencakup sebagian besar Negara Indonesia, Sumatera, Kalimantan, Nusa Tennggara, sebagian Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya, sebagian kepulauan Maluku dan Papua Barat ditambah dengan wilayah Malaysia, Singapura, Brunei, dan sebagian kecil Filipina bagian selatan. Secara morfologi kata ini diambil dari bahasa Jawa kuno; “nusa” (pulau) dan “antara” (lain/seberang). Ketika “Nusantara” yang dipopulerkan kembali tidak dipakai sebagai nama politis sebagai nama suatu bangsa baru, istilah ini tetap dipakai oleh orang Indonesia untuk mengacu kepada wilayah Indonesia.
KEANEKARAGAMAN BUDAYA NUSANTARA INDONESIA
Indonesia dengan Negara kepulauan yang penuh dengan kekayaan dan keragaman budaya, ras, bahasa daerah, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Meskipun penuh dengan keragaman budaya, Indonesia tetap satu dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya, “meskipun berbeda-beda tapi tetap satu jua”. Kondisi Indonesia yang meliputi wilayah pegunungan, pesisir, tepian hutan, dataran rendah, pedesaan hingga perkotaan sehingga menjadikan keragaman budaya yang berbeda pula. Hal inipun dipengaruhi oleh tingkat peradaban tiap suku atau masyarakat yang berbeda.
Namun sayangnya masuknya budaya-budaya asing ke Indonesia melalui globalisasi membawa pengaruh terhadap generasi muda Indonesia saat ini yang lebih tertarik dengan budayabudaya asing daripada budaya asli. Seharusnya budaya asing yang masuk ke Indonesia tidak diterima secara mentah-mentah oleh generasi muda, agar tidak terjadi fenomena lebih mencintai kebudayaan asing oleh generasi muda.
Minimal terjadi asimilasi budaya, sehingga dapat menambah kekayaan dan keragaman kebudayaan di Indonesia. Kebudayaan di Indonesia juga banyak dipengaruhi oleh Agama- Agama yang ada di Indonesia. Jadi bisa dikatakan Indonesia memiliki tingkat keberagaman yang tinggi. Keberagaman yang ada bukan hanya berasal dari keanekaragaman budaya dan suku saja, namun berasal dari kewilayahan.
Indonesia adalah potret kumpulan kebudayaan yang bervariasi dan lengkap. Lebih penting lagi masyarakat Indonesia memiliki jalinan sejarah dan dinamika dan interaksi antar budaya sejak dulu, dari berbagai rumpun melayu dilihat dari segi social budaya. Interaksi antar budaya ini tak hanya melalui anatar suku saja, namun antar peradaban yang ada didunia. Indonesia telah membuka diri pada pergaulan lingkup Internasional.
Sejarah mencatat bahwa eksistensi budaya Indonesia dapat hidup berdampingan dan saling melengkapi, serta berjalan saling beriringan dengan budaya-budaya lainnya. Dengan jumlah kurang lebih 700 suku yang tersebar diseluruh penjuru Nusantara Indonesia dengann tipe kelompok masyarakat yang berbeda, Agama yang beraneka ragam, pakaian adat, kesenian, rumah adat, bahasa daerah, adat istiadat, dan bahkan kuliner khas dari berbagai daerah. Indonesia begitu kuat dalam menjaga keharmonisan kehidupan ditengah-tengan heterogenitas.
BAHASA INDONESIA PEMERSATU BANGSA
Globalisasi menjadi kenyataan yang tak terelakan. Dalam konteks percaturan budaya global, kesadaran untuk mempertanyakan identitas justru semakin besar. Ikrar Sumpah Pemuda, salah satunya adalah pengakuan Bahasa Indonesia sebagai bagian yang tak terpisahkan dari tanah air dan bangsa Indonesia. Dalam sejarahnya bahasa Indonesia sendiri adalah sebuah proses perkembangan dari bahasa Melayu yang menjadi bahasa “lingua franca” diantara keberagaman etnis, suku, bangsa dan latar belakang sosial yang hidup dikepulauan nusantara.
Lingua franca yang berasal dari bahasa latin yang artinya adalah bahasa penghubung antara komunitasyang berbeda bahasa diwilayah geografis yang cukup luas (Nusantara). Dalam perkembangannya bahasa Indonesia menjadi pembentukan kesadaran nasional dikalangan anak muda terpelajar. Indonesia kian dipersatukan oleh bahsa yang memungkinkan warganya dari berbagai latar belakang sosial bersentuhan dengan dunia modern.
Zaman kolonial penjajahan yang rasis, bahasa Indonesia juga juga menjadi ekspresi kebebasan dan persamaan diantara sesame manusia. Ben Anderson (2000) dalam kuasa kata, jelajah budaya-budaya politik di Indonesia; bahwa fungsi publik utama bahasa Indonesia terletak dalam perannya sebagai pemersatu. Salah satu jasa penting yang menyebarkan bahasa Indonesia pada awal abad ke 20 adalah kesusastraan popular.
Melalui sastralah imajinasi Indonesia diikat, dimana manusia Nusantara dari berbagai pulau bisa menikmati sebuah karya sastra yang sama. Pemerintah kolonial menyadari bahwa sastra telah mentransformasikan kesadaran lokal (kedaerahan) menjadi kesadaran nasional, sebuah ancaman buat status quo kolonial.
Para tokoh pergerakan nasional menggunakan sastra sebagai ekspresi perlawanan atas kolonial. Pemerintah kolonial menstigmatisasi sastra seperti itu dengan sebutan “bacaan liar”. Pada masa penjajahan Jepang, derajat bahasa Indonesia dinaikan sebagai bahasa resmi dalam birokrasi menggantikan bahasa Belanda. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi disekolahsekolah dan perkantoran. Pada masa revolusi 1945-1949, bahasa Indonesia menjadi bahasa perlawanan dan ekspresi menolak kedatangan Belanda. Bahasa Indonesia menjadi bahasa anak muda dan pemberontakan.
BAHASA MELAYU PEMERSATU NUSANTARA
Memasyarakatnya bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan (lingua franca) antar suku dinusantara, karena bahasa Melayu menghubungkan para pelaut pengembara dan saudagar yang merantau keseluruh kepulauan. Sutan Takdir Alisyahbana menjelaskan, bahwa bahasa Melayu memiliki kekuatan untuk merangkul kepentingan bersamasehingga dapat dipakai diNusantara. Bahasa tersebut adalah bahasa perhubungan yang berabad-abad tumbuh dikalangan penduduk Asia Selatan. Bahasa Melayu selain menjadi bahasa pengantar perdagangan juga menjadi pengantar penyebaran Agama Islam. Salah satu keunggulan bahasa Melayu adalah bahasa yang relatif mudah dipelajari.
Penyerapan bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu hingga kini telah banyak ditemukan, ribuan dari kosa kata yang asalnya dari bahasa Arab. Banyak istilah-istilah bahasa Arab yang dipergunakan dalam bahasa Melayu, demikian pula perkembangan aksara dengan menggunakan huruf Arab-Melayu. Dalam sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara pada umumnya, dalam penyebaran Islam setidaknya menggunakan tiga media, bahasa arab, konversi penggunaan dari kerajaan ke kesultanan, penggunaan gelar khalifatullah (khalifah) sebagai legitimasi kekuasaan.
Penggunan peristilahan ini tidak megalami proses yang berbelit-belit. Penambahan penggunaan kata “khalifatullah fil ard” merupakan bentuk langkah dalam meningkatkan aura kekusaaan. Penggunaan “Sultan” dan penambahan kata “syah” merupakan pengaruh dari Islam.
Bahasa Melayu juga digunakan sebagai bahasa administrasi. Undang-undang Sultan Adam (1835) juga tertulis dengan huruf Arab-Melayu dengan bahasa Melayu-Banjar. Pada masa penjajahan Belanda, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa resmi kedua dalam korespondensi dengan orang local.Walupun pemerintah Belanda saat itu mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di Sekolah Rakyat, namun oleh pemerintah kolonial tetap juga mengupayakan sekolah mempelajari bahasa Belanda, bahasa Belanda dimasukkan kedalam mata pelajaran wajib di sekolah rakyat dan sekolah pendidikan guru tahun 1990.
Akhirnya “persaingan” ini dimenangkan oleh bahasa Melayu, bahasa Belanda hanya dpat dikuasai oleh segelintir orang saja. Begitu pula para ulama yang menyusun kitab-kitab Agama selalu menggunakan bahasa Melayu dengan huruf Arab-Melayu pula. Kitab-kitab itu ditulis oleh para ulama besar, seperti; ulama Nuruddin ar-Raniry, Abdurrahman Rauf As-Singkili, Syekh Yusuf al Maqasari dan Syekh Muhammad Arsad al-Banjari.
Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah dan majelis ta’lim para siswa diperkenalkan dengan kitab-kitab Melayu yang mnggunakan huruf Arab. Dalam bidang pendidikan para sultan juga membuat kebijakan agar para ustadz dan guru mengajarkan bahasa Arab-Melayu disekolah-sekolah dan majelis ta’lim. Tulisan arab dalam bahasa Melayu Nusantara dihapuskan oleh penjajah Belanda pada tahun 1905 dengan dimasukannya huruf latin dengan ejaan Van Ophuizen.
Walaupun kebijkan penjajah demikian kuat, akan tetapi selam berpuluh tahun diberbagai pondok pesantren tulisan arab dan bahasa Arab-Melayu masih dipakai sampai saat ini. Sampai 1950-an pengajaran berbahsa arab ini masih diajarkan pada berbagai jenjang pendidikan di daerah kesultanan di Nusantara. Sistem pengajaran ini dikenal dengan kajian “kitab kuning” yang menggunakan bahasa arab diberbagai madrasah dan majelis ta’lim. Bahasa arab ini diadaptasikan lagi keberbagai jenis bahasa daerah dengan metode penulisan arab melayu dan jawi.
PERANAN PENDIDIK DALAM MELESTARIKAN BUDAYA NUSANTARA
Pertama, ajak para pelajar untuk mengenali budaya Nusantara didaerah masing-masing, dengan mengenal budaya, pahami apa saja budaya yang diwariskan oleh nenek moyang maka akan lebih mudah untuk melestarikan budaya. Ada beberapa cara untuk mengenali budaya, cari tahu tentang budaya yang kita miliki, mengikuti kegiatan budaya, bergabung dalam komunitas.
Kedua, ajarkan budaya kepada orang lain, setelah mengenal betul budaya yang kita miliki, mulai dari sejarahnya sampai bermacam kebudayaan yang lahir dari budaya tersebut. Ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan. Mengajar dilingkungan sekitar kita berdomisili, dengan membuka kelas khusus budaya. Sebaiknya siswa yang tergabung adalah anak-anak dan remaja. Kerjasama dapat dilakukan dengan para penggiat budaya yang sudah ada, sehingga lebih banyak lagi potensi yang bisa dimaksimalkan.
Galang anak-anak dan remaja ini, karena merekalah estafet transformasi kebudayaan. Saat kegiatan belajar mengajar (KBM) disekolah, berikan muatan budaya belajar sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Disamping memang sebagai pengajar disekolah, lakukan kegiatan esktra kurikuler disaat pembelajaran disekolah usai.
Kenalkan siswa dengan budaya seperti, teater, musik, seni lukis dan lain sebagainya. Wujudkan prilaku budaya disekolah yang bersifat kongkrit seperti, perilaku belajar, ungkapan, bahasa dalam belajar, hasil belajar berupa material. Dengan lebih menonjolkan model behavioristik yang lebih menitik beratkan aspek afektif dari pelajar, supaya generasi penerus bangsa mewarisi budaya-budaya Nusantara yang ramah dan berakhlak mulia.
Ketiga, memperkenalkan budaya ke Luar Negeri, dengan tekhnolgi saat ini tak terlalu sulit, motivasi pelajar disekolah untuk melakukannya, tentunya dengan bimbingan dan arahan dari guru disekolah masing-masing. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu, memposting kesenian lokal dimedia sosial. Jadikan media sosial sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya bangsa dengan hal-hal yang positif.
Akan sangat baik jika mendeskripsikannya disertai foto, video, ini merupakan salah satu bentuk upaya pelestarian budaya yang ada, mengenakan produk budaya lokal diLuar Negeri, misalnya batik, kerajinan khas daerah, ikat kepala, dan lain sebagainya.
Keempat , tidak terpengaruh budaya asing, sampaikan kepada pelajar disekolah (didahului dari diri sendiri) agar jangan mudah terpengaruh budaya asing. Dalam era globalisasi ini budaya asing sangatlah mudah masuk kedalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan asumsi bahwa budaya asing tersebut lebih modern, gaul dan tidak kampungan, banyak masyarakat Indonesia yang telah meninggalkan budaya lokal mereka sendiri.
Harus memiliki prinsip, agar budaya lokal tidak punah, antara lain dengan melakukan, pelajar harus menjadikan budaya lokal sebagai identitas, bangga terhadap budaya sendiri yang dimiliki dengan berbagai kelebihannya yang tidak dimiliki oleh Negara lain, pendidik melakukan penyampaian secara berkesninambungan kepada pelajar, agar harus dapat memilah kebudayaan asing. Tak semua budaya asing itu jelek, juga tak semua “kebiasaan” lokal itu baik.
Dewasa ini bangsa Nusantara sedang menghadapi gejala krisis identitas dan krisis kepribadian atau karakter. Krisis identitas dan kepribadian itu tercermin dihampir seluruh bidang dan lapisan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Gejala krisis tidak hanya tercermin dalam kepribadian orang per orang, tetapi juga tercermin dalam identitas budaya kelompok, identitas pelbagai kesatuan masyarakat hukum adat, pelbagai komunitas etnis diberbagai daerah.
Krisis kebudayaan ini semakin tergerus seiring dengan gelombang keterbukaan yang sangat luas disegala bidang. Tentunya harus ada terobosan dari pemerintah agar “serius” dalam menangkal krisis ini, peran dan keikut sertaan lambaga adat Melayu diberbagai daerah Nusantara serta seluruh komponen suku bangsa sangat diharapkan, mulai dari sekarang, jangan menunggu nanti, berbuatlah jika tak ingin di ”kenang” pernah memiliki budaya, namun telah punah !, Dibawakan pada Pertemuan Guru-Guru Nusantara (PGN); Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapore dengan tema; “Pendidikan Global Pertahan Jati Diri Bangsa” di Brunei Darussalam 25-26 Sept 2019. (*)

*) Penulis adalah Sekretaris Umum PGRI Provinsi Sulawesi Tengah dan Kepala SMA Negeri 4 Palu, Sulawesi Tengah.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.