Peran Iman dan Takwa dalam Pembangunan Kepemudaan

Oleh : Prof. Dr. H. Zainal Abidin, M.Ag *)

- Periklanan -

PEMBANGUNAN kepemudaan pada dasarnya terkait dengan pembangunan manusia secara umum. Hanya saja, pemuda memiliki keistimewaan tersendiri karena beberapa alasan.

Pertama, pemuda dengan fisik yang masih sehat dan kuat serta penuh semangat, daya pikir yang masih segar sehingga dapat menimba ilmu dan keterampilan sebanyak-banyaknya, mau menerima pemikiran dan ide baru sehingga para pemuda selalu menjadi pelopor dalam berbagai hal. Sebaliknya, generasi tua dari segi fisik sudah banyak berkurang namun unggul dalam pengalaman sehingga dalam melakukan tindakan lebih cenderung berhatihati dan penuh perhitungan, puas dengan pemikiran pada zamannya dan cenderung melihat segala hal pada zamannya lebih baik daripada jaman generasi selanjutnya. Sehingga tidak heran jika dalam batas tertentu kadang terjadi pertentangan antara para pemuda dengan generasi tua.

Kedua, pemuda sebagai tolak ukur masa depan. Kualitas suatu negara di masa depan dapat dilihat dari kualitas pemudanya, dikarenakan generasi muda adalah penerus dan pewaris bangsa dan negara. Olehnya itu, generasi muda harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami pengetahuan dan teknologi untuk bersaing secara global. Pemuda juga perlu memperhatikan bahwa mereka mempunyai fungsi sebagai Agent of 2 change, moral force and sosial control sehingga fungsi tersebut dapat berguna bagi masyarakat. Sedemikian besarnya harapan yang dibebankan pada pundak pemuda, sehingga mereka perlu dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang memungkinkannya dapat mengikuti perkembangan zamannya.

Di samping itu, mereka juga perlu dibekali dengan kepribadian yang luhur dan kokoh sehingga mampu mengontrol diri dan tidak terhempas oleh arus perkembangan zaman itu sendiri. Dalam konteks inilah kualitas iman dan takwa (Imtak) menjadi sesuatu yang urgen pada diri generasi pemuda. Sehubungan dengan itu, pada kesempatan ini, kami akan memaparkan sekelumit tentang peran iman dan takwa dalam pembangunan kepemudaan. Memahami Makna Iman dan Takwa Iman dan takwa adalah dua kata yang sudah terlalu akrab di telinga kita.

Istilah ini telah diajarkan kepada siswa sejak bangku SD bahkan sejak TK. Istilah ini juga menempati posisi teratas pada norma-norma etik dalam setiap organisasi. Hanya saja, dalam prakteknya belum teraktualisasikan secara optimal. Mungkin karena pengertian iman dan takwa itu sendiri belum dipahami secara benar. Iman pada dasarnya adalah perbuatan hati yang sering diartikan dalam bahasa Indonesia dengan “percaya” yang sampai pada level “yakin”. Iman adalah keyakinan yang tumbuh secara tulus dalam diri seseorang terhadap eksistensi Tuhan. Keyakinan akan eksistensi Tuhan ini dibarengi dengan keyakinan akan segala sifat-sifat ketuhanan-Nya. Sehingga orang yang beriman mengetahui bahwa dirinya selalu dalam pengawasan, dan segala aktivitas hidupnya akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan. Keyakinan ini selanjutnya akan melahirkan sikap tunduk dan patuh.

Sehingga seorang yang beriman dengan sebenar-benarnya akan berupaya 3 berperilaku yang diridhai oleh Tuhan dan menghindari hal-hal yang dapat mengundang kemurkaan-Nya, inilah yang kemudian disebut dengan takwa. Oleh karena itu, iman dan takwa adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan, karena takwa adalah manifestasi riil dari Iman bersemayam dalam hati, abstrak dan tak dapat diukur oleh manusia. Iman dan takwa adalah faktor pendorong kepada terbentuknya perilaku baik atau buruk seseorang manusia. Iman dan takwa membawa kepada pembentukan implikasi ketaatan dan amalan baik dalam diri manusia. Seseorang yang mempunyai iman dan takwa dalam dirinya akan melahirkan seorang individu yang baik dan berkualitas, individu yang memiliki integritas moral yang tinggi. Imtak dan Pembangunan Masyarakat Madani Dimana peran Imtak dalam pembangunan masyarakat madani di Indonesia? Jawabnya sangat jelas pada “jantung” peradaban itu sendiri.

Alasannya sederhana, karena Indonesia yang kita cita-citakan bersama adalah sebuah bangsa yang berperadaban tinggi dan maju yang berbasiskan pada nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang oleh keimanan; menghormati pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong royong menjaga kedaulatan negara. Kalau dikarakterisasi lebih lanjut, maka pertama, unsur manusia menjadi obyek dan subyek. Kedua, ruh dari peradaban madani adalah relijiusitas-keimanan. Ketiga, tujuannya adalah kesejahteraan, keadilan, martabat dll. Semuanya itu adalah nilainilai luhur yang merupakan diferensiasi dari nilai keimanan. Dengan demikian domain peradaban madani ekuivalen dengan domain Imtak sendiri, karenanya peran Imtak menjadi urgen, strategis dan dominan dalam pembangunan Indonesia yang berperadaban. Pertama, karena membangun peradaban madani ini bertumpu pada manusia sebagai obyek sekaligus subyek (aktor), maka pembangunan manusia ini 4 perlu dijalankan secara terpadu antara sisi akal (aqliyah), pikiran/hati (qolbiyah), dan fisik (jasadiyah).

- Periklanan -

Pada titik inilah pentingan Imtakspiritualitas-relijiusitas. Membangun kecerdasan manusia Indonesia, kesalehan sosial, dan kemajuan budaya menuju peradaban madani atau dalam bahasa yang lebih operasional, menghapus kebodohan, kekerasan sosial, dan keterbelakangan budaya”, sebab kita memandang kebodohan (rendahnya kualitas pendidikan), kekerasan (hilangnya kesantunan dan kedamaian dalam menyelesaikan segala bentuk konflik), serta keterbelakangan (kemandegan dan kejumudan) sebagai musuh sosial bangsa memerlukan kecerdasan bukan hanya dari sisi intelektual/rasional (IQ), namun juga mencakup sisi emosional (EQ) dan spiritual (SQ), agar sempurna sosok manusia Indonesia yang kita citakan (insan kamil). Sisi emosional dan spiritual perlu mendapat perhatian yang memadai dalam proses pembangunan manusia Indonesia ke depan. Manusia yang cerdas paripurna itu akan lebih mampu menanggung beban dan menghadapi segenap cobaan hidup dalam menggerakkan roda dan sebagai subyek pembangunan bangsa. Manusia yang seimbang antara sisi intelektual, emosional dan spiritual itu sangat menyadari posisi dirinya dan tujuan yang akan dicapainya.

Mereka tidak akan mudah mengalami krisis identitas sebagaimana terlihat pada sebagian warga di sekelilingnya, sehingga mereka dapat berperan sebagai unsur pengubah lingkungan dan pengarah masyarakat untuk menuju masyarakat madani. Mereka juga menyadari betul agenda reformasi yang harus diperjuangkan, dan sejalan dengan cita -cita kemerdekaan yang telah diproklamsikan sejak lama. Mereka tak mudah goyah dan larut dalam perubahan zaman, bahkan menjadi pilar penjaga nilai-nilai perjuangan dan membuat arus baru yang akan menyelamatkan masyarakat dari kebobrokan dan kehancuran sosial. Kedua, ruh dari peradaban madani adalah keimanan.

Manusia yang 5 cerdas tidak hanya memikirkan kepentingan dan keselamatan dirinya sendiri, tetapi memikirkan kepentingan dan keselamatan masyarakat umum. Mereka melawan egoisme dan individualisme, lalu bersungguhsungguh menumbuhkan semangat kolektif dan solidaritas sosial tanpa pamrih. Bagi insan kamil sebagai subyek masyarakat madani, kesalehan bukan hanya semata bermakna ketaatan menjalankan ritual agama dan ketentuan hukum, melainkan juga mengobarkan spirit agama yang membebaskan dan substansi hukum yang menjunjung keadilan dan kebenaran. Kesalehan berpangkal dari iman dan takwa, yang akhirnya melahirkan tindakan nyata yang bermanfaat bagi orang banyak. Karenanya menjadi jelas bila Imtak-spiritualitas-relijiusitas menjadi strategis dalam pembangunan peradaban Indonesia madani.

Aktor pembangunan masyarakat madani ialah mereka yang paling besar kontribusinya kepada masyarakat dan mengimplementasikan ketaatannya kepada Sang Khalik dengan berbuat kebajikan serta melayani semua makhluk. Kesalehan pribadi yang berakumulasi menjadi kesalehan publik akan membentuk lingkungan yang positif untuk berkembangnya seluruh potensi kemanusiaan dan kewargaan, melalui cermin peningkatan etos kerja, sikap terbuka akan kreasi dan inovasi baru, serta menguatnya solidaritas sosial. Ketiga, tujuan akhir dari peradaban Indonesia madani adalah kesejahteraan, keadilan, martabat dll. yang merupakan nilai-nilai luhur diferensiasi dari nilai keimanan. Manusia madani berperan untuk menanggulangi krisis identitas dan modalitas bangsa; mengubah kondisi keterbelakangan menjadi kemajuan budaya. Kemajuan personal tidak hanya bersifat fisik, namun mengembangkan nilai-nilai universal kemanusiaan, sehingga tiap warga menyadari fungsi dan peran hidupnya sebagai seorang hamba, pemimpin, dan pembangun peradaban baru berbasis nilai-nilai keimanan. Kemajuan kolektif juga tak hanya bersifat 6 fisik dan material, melainkan tumbuh suburnya nilai dan pranata keimanan, serta semakin menipisnya nilai dan pranata keburukan dan kemungkaran. Kemajuan budaya bagi suatu bangsa berarti bangsa ini menyadari kembali jati dirinya yang telah lama tererosi. Jati diri itu antara lain sebagai bangsa pejuang yang membenci segala bentuk penindasan, bangsa yang mandiri dan menolak segala format ketergantungan, serta bangsa yang terbuka terhadap perubahan dan menolak eksklusifisme atau fanatisme sempit.

Bangsa yang maju tak selalu berarti meninggalkan nilai-nilai relijius, tradisional dan lokal, sepanjang itu masih mencerminkan substansi kebaikan dan kebenaran universal. Namun, bangsa yang mau adalah bangsa, yang mampu memadukan nilai-nilai modern yang lebih baik dengan warisan tradisional yang sesuai tuntutan zaman, yang berbasis keimanan. Dengan demikian peran Imtak menjadi urgen, strategis dan dominan dalam seluruh bangunan peradaban Indonesia Madani. Imtak menjadi ruh dan spirit peradaban Indonesia madani. Pentingnya Imtak bagi Generasi Muda Pemuda, seperti telah dijelaskan sebelumnya, merupakan cermin masa depan suatu bangsa. Oleh karena itu, peran Iman dan takwa sangat penting dalam membangun karakter generasi muda. Pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional.

Peran aktif pemuda sebagai kekuatan moral diwujudkan dengan menumbuh kembangkan aspek etik dan moralitas dalam bertindak pada setiap dimensi kehidupan kepemudaan, memperkuat iman dan takwa serta ketahanan mentalspiritual, dan meningkatkan kesadaran hukum. Pemuda/pemudi merupakan suatu id entitas dan penerus perjuangan generasi terdahulu untuk mewujukan cita-cita bangsa. Pemuda menjadi harapan dalam setiap kemajuan di dalam suatu bangsa, Pemudalah yang dapat merubah pandangan orang terhadap suatu bangsa dan menjadi tumpuan para generasi terdahulu untuk mengembangkan suatu bangsa dengan ide-ide ataupun gagasan yang berilmu, wawasan yang luas, serta berdasarkan kepada nilai-nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat.

Penutup Penghayatan terhadap makna Iman dan takwa perlu terus diupayakan dalam mendidik para generasi muda. Iman dan takwa jangan dipahami sekedar sebagai kesalehan ritual, tetapi mewarnai seluruh aktivitas, cara bersikap, berpikir dan bertindak yang melahirkan integritas moral yang sempurna. Hanya dengan penanaman nilai-nilai iman dan takwa ini pada generasi muda, masa depan bangsa ini bisa menjadi lebih baik.

*) Penulis adalah Ketua MUI Kota Palu.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.