Perahu Jadi Andalan di Mamosalato dan Bungku Utara

- Periklanan -

Hingga hari kelima pasca banjir, penyeberangan di Sungai Sumpu, Mamosalato masih menggunakan perahu rakitan. (Foto: Nurain Alwi Daniah)

MORUT-Banjir bandang di Kecamatan Bungku Utara dan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara (Morut) beberapa hari lalu, menyisakan persoalan pasca bencana. Pemerintah setempat mencatat, 187 rumah dan 217 hektar lahan pertanian terendam dan memutuskan 3 jembatan di ruas jalan nasional.

Camat Bungku Utara, Amirulah Halilu, mengatakan banjir bandang diawali hujan deras sejak pukul 21.00 hingga 04.00, Rabu (31/5) subuh. Beberapa jam kemudian, air telah merendam Desa Kalombang, Tirongan Atas, Tirongan Bawah, Tanakuraya dan Baturube. “Lima desa dalam Bungku Utara berdampak langsung akibat banjir bandang ini,” kata Amirulah, kepada Radar Sulteng, Minggu (5/6) sore.

Jika merujuk hasil pendataan lapangan, lanjut Amirulah, peristiwa ini menyebabkan kerugian materil cukup besar. Dimulai dari 53 hektare sawah yang mengenangi 53 hektare sawah dan merusak 2 hektare sawah berisi padi berbuah. “Petani Baturube juga merugi akibat 9 ton gabah padi mereka disapu banjir,” katanya.

Sementara itu 3 hektare sawah dan 2,5 ton gabah padi petani Tirongan Bawah juga terendam. Sedangkan di Kalombang terdapat 62 hektare sawah dan 7,8 ton gabah padi tak luput diterjang banjir.

Dari bencana ini kerugian terbesar dialami petani di Tanakuraya. Pasalnya, 63 hektare sawah dan 28,8 ton gabah padi terendam serta 4 ton beras dan 19,2 ton gabah hanyut. “Kalau di Tirongan Atas ada 25 hektare sawah dan 1 hektare jagung juga terendam banjir,” tandasnya.

Menurut Amirulah, beberapa desa jadi langganan banjir tahunan seperti Kalombang. Untuk itu diperlukan upaya pencegahan dengan membangun tanggul sungai penangkal banjir sepanjang 500 meter.

Hal serupa juga perlu dilakukan di Tirongan Atas. Langkah tepatnya yakni membangun tanggul di Sungai Siombo sepanjang 300 meter.

Masih terkait pencegahan banjir, lanjutnya, diperlukan pula pembangunan saluran pembuangan air sawah sepanjang 2 kilo meter di wilayah Tanakuraya.

Sementara untuk Baturube yang juga adalah ibukota kecamatan itu dibutuhkan pembangunan tanggul sisi badan jalan penangkal aliran sungai Tirongan Bawah sepanjang 5 kilo meter.

Usulan tersebut, kata dia, telah disampaikan langsung dan disusul surat resmi kepada Bupati Morowali Utara Aptripel Tumimomor saat meninjau bencana banjir di Bungku Utara sehari setelah bandang menerjang.

“Kami juga mengusulkan pengadaan benih padi sawah sebanyak 12,5 ton, mesin pemanen padi model combain 1 unit serta hand traktor sebanyak 5 unit. Semoga bisa diakomodir tahun ini,” harap Amirulah.

Berbeda dilakukan Pemerintah Kecamatan Bungku Utara, Camat Mamosalato Nasib Nje’e lebih fokus mengidentifikasi jumlah perumahan penduduk yang terendam banjir. Di wilayah ini, banjir melanda Desa Tanasumpu, Tananagaya, Girimulya, Momo, Kolo Atas, Pandauke dan Tambale.

“Sedikitnya 187 rumah di Mamosalato terendam akibat banjir bandang beberapa hari lalu,” ujar Nasib saat dihubungi Radar Sulteng, Minggu pekan kemarin.

- Periklanan -

Dia menyebutkan, ketinggian air yang mencapai 120 centi meter di Tanasumpu mengakibatkan 60 rumah terendam selama 5 jam. Banjir juga merendam 60 hektar are padi siap panen,

325 sak gabah padi, 100 sak pupuk, 3 ekor sapi hilang dan memutuskan jembatan di atas Sungai Sumpu.

Lanjut ke Tananagaya, disini banjir merendam 32 rumah penduduk dengan ketinggian air mencapai 60 centi meter. Kemudian 1 hektar are padi siap panen, 65 sak pupuk, 8 sak semen, 5 sak jagung kering dan 1,5 hektar are kebun jagung gagal panen.

Desa lainnya seperti Girimulya, ketinggian airnya mencapai 80 centi meter. Akibatnya, 20 rumah warga, 22 sak gabah, 3 unit handtraktor, 1 gilingan padi, 27 sak pupuk, 2 sak beras, sejumlah barang dagangan serta menewaskan 7 ekor ternak sapi.

“Kemudian 39 unit rumah warga Momo ikut dihantam banjir dengan ketinggian air mencapai 100 centi meter,” jelas Nasib.

Di tempat lain, 8 rumah warga Kolo Atas tak luput genangan banjir dengan ketinggian air mencapai 70 centi meter. Sedangkan di Tambale yang ketinggian airnya mencapai 60 centi meter merendam 28 rumah warga setempat

“Jembatan Tambale, jembatan Sungai Sumpu dan jembatan desa Tambale semuanya putus. Peristiwa ini menandakan betapa derasnya terjangan banjir malam itu,” pungkas dia.

Di waktu terpisah, Kepala Seksi Pendidikan dan Kesehatan Pemerintah Kecamatan Mamosalato Nurain Alwi Daniah kepada Radar Sulteng menyebut kondisi terkini pasca banjir bandang di desa Tanasumpu.

Menurut Nurain, meski ketinggian air Sungai Sumpu mulai surut, namun warga masih membutuhkan alat penyeberangan berupa perahu rakitan. Kondisi ini tidak bisa diprediksi sebab jembatan di sungai itu masih putus.

“Hingga kemarin sewa rakit ini masih akan dimusyawarahkan. Sebab tidak semua warga punya uang untuk menyeberang,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, jasa rakit yang oleh penduduk setempat disebut Tambangan ini dipatok Rp30 ribu per 1 unit mobil. Kemudian sepedamotor Rp20 ribu dan orang Rp10 ribu sekali menyeberang. Namun sewa jasa itu hanya berlaku bagi pengguna yang tercatat sebagai penduduk Mamosalato. “Gratisnya khusus untuk masyarakat Mamosalato, anak skolah dan pegawai disini,” sebut Nurain.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Morowali Utara Musda Guntur belum dapat memberikan informasi terkini terkait penanganan pasca banjir tersebut.

Namun beberapa hari sebelumnya, Musda Guntur menyatakan Pemkab Morut sudah menempuh langkah-langkah tepat guna percepatan perbaikan infrastruktur yang rusak.

Dia juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan siaga terhadap potensi bencana banjir susulan. Sebab berdasarkan informasi dari BMKG hujan diperkirakan masih akan terjadi sampai akhir bulan ini. “Kita tidak pernah tahu kapan bencana melanda, namun sebaiknya masyarakat tetap siaga apalagi saat ini cuaca belum menentu,” imbau Musda.(ham)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.