Penyintas di Tenda Pengungsian Mulai Terabaikan

Tak Dapat Bantuan Susu, Balita Terpaksa Diberikan Susu Kental Manis

- Periklanan -

PALU – Hampir enam bulan berada di tenda-tenda pengungsian, penyintas korban gempa, tsunami dan likuifaksi yang terjadi, 28 September 2018 merasa mulai terbaikan dari pemberi bantuan.
Salah satunya penyintas korban tsunami di Jalan Cut Mutia Pantai Talise yang bertahan di tenda pengungsian Selter Telkom Jalan Thamrin Kelurahan Besusu Timur Kecamatan Palu Timur. Para pengungsi merasakan tiga bulan terakhir tidak lagi rutin mendapatkan bantuan mendesak, khususnya kelengkapan balita, seperti susu bayi, popok dan pakaian bayi. “Kalau bantuan sembako masih ada dari Dinas Sosial. Sekarang yang mendesak bantuan susu balita, popok bayi,” ujar salah seorang pengungsi Endang (35) saat ditemui Radar Sulteng di tenda pengungsian Selter Telkom, Selasa siang (12/3).
Sementara Koordinator Lapangan Selter Telkom Jalan Thamrin, Aryanto (40) mengatakan, hujan lebat yang terjadi dini hari membuat tenda-tenda pengungsi dimasuki air hujan, akibat tenda yang ada saat ini sudah banyak yang bocor.
Sebagian laki-laki terpaksa menggali tanah untuk membuat aliran air tidak masuk ke dalam tenda-tenda yang juga dihuni anak-anak dan perempuan. “Semuanya basah, kasian perempuan dan anak-anak,” ujarnya.
Menurut Aryanto, kekhawatiran akan kembali terjadi hujan dengan kondisi tenda-tenda yang ada saat ini sudah bocor, diharapkan pemerintah atau dari pihak relawan yang bisa membantu, agar jika terjadi hujan tenda tidak lagi bocor. Selain itu karena alas di tenda rendah ketika terjadi hujan, air mengalir masuk ke dalam tenda. Satu-satunya cara kata Aryanto adalah, dengan membuat alas agak tinggi menggunakan papan, sehingga ketika air hujan meluber tidak langsung membasahi alas yang ada di tenda. “Kalau alas tenda masih rendah, pasti kalau hujan tetap saja air mengalir ke dalam,” jelasnya.
Saat ini kata Aryanto, untuk bantuan bahan makanan, seperti beras, mie instan, ikan sarden, telur masih rutin diberikan dari dinas sosial dan ada beberapa relawan. Yang kurang dan dibutuhkan saat ini adalah bantuan tenda untuk mengganti tenda yang bocor. Selain itu, bantuan susu untuk Balita, pakaian bayi, seperti popok. “Terpaksa orangtua Balita disini beli susu apa adanya saja untuk anak mereka,” ujarnya.
Kata Aryanto lagi, untuk membeli susu bayi, orang tua bayi tidak memiliki uang yang cukup, rata-rata pengungsi disini orangtuanya kehilangan pekerjaan saat terjadi tsunami. Sumber pendapatan pengungsi, sebelumnya berjualan di lapak-lapak di sepanjang Pantai Talise Jalan Komodo. Saat tsunami, selain rumah mereka hancur, lapak jualan mereka juga habis disapu tsunami. “Cuma bisa berharap jika ada yang mau membantu susu balita saja. Kalau tidak ada yah, terpaksa dibelikan susu kental manis, ada juga yang terpaksa diberikan air gula,” tuturnya.
Soal Hunian Sementara (Huntara) ? Aryanto juga mengaku belum mendapatkan informasi kapan dan dimana warga pengungsi di Selter Telkom akan ditempatkan. Warga pengungsi berharap secepatnya bisa ditempatkan di Huntara, karena sudah memasuki bulan ke enam belum ada kejelasan kapan dan di Huntara mana mereka akan ditempatkan. “Kalau memang belum ada Huntara, kami berharap masih diizinkan menempati lokasi pengungsian di Selter Telkom dan jangan dipindahkan lagi ke lokasi yang lain dengan posisi tetap bertenda,” harapnya.
Aryanto menambahkan, saat ini data pengungsi yang masih bertahan di tenda-tenda di lokasi pengungsian Selter Telkom Jalan Thamrin tercatat, 51 Kepala Keluarga (KK), 43 tenda, 185 jiwa, Lansia 9 orang, 19 orang Balita, dan ibu hamil 4 orang. “Mudah-mudahan sebelum hujan lagi turun, bantuan tenda baru sudah ada. Kasian kalau hujan lagi, air hujan sampai tembus ke dalam tenda. Semua apa-apa basah,” pungkasnya. (ron)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.