Penutupan PLTU Panau Bukan Solusi Terbaik

- Periklanan -

Aktivis dari Front Perjuangan Rakyat (FPR) membawa spanduk saat beruinjuk rasa menuntut penutupan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Panau di depan Kantor Gubernur Sulawesi Tengah di Palu, Rabu (29/3). (Foto: bmzIMAGES)

PALU – Beberapa waktu terakhir ini, kehadiran PLTU Panau mulai dipersoalkan kembali, baik oleh masyarakat setempat, LSM maupun ormas. Yang terbaru, Rabu (29/3), aksi demonstrasi dari sejumlah massa yang tergabung dalam aliansi Front Perjuangan Rakyat Sulawesi Tengah (FPR Sulteng).

Sebagaimana dilansir koran ini Kamis (30/3) kemarin, massa dari organisasi FPPI, FMN, LMND DN, BEM Fakultas Perikanan Unisa, AGRA, SKR, ILPS, SERUNI, dan LSM Revolusi Hijau tersebut melakukan aksi demonstrasi terkait Hari Ketiadaan Tanah Nasional. Salah satu poin tuntutannya adalah relokasi/pemindahan PLTU Panau yang berada di Kelurahan Panau, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu.

- Periklanan -

Alasannya, sejak beroperasi 2006, PLTU sudah mulai meresahkan masyarakat sekitarnya. Mulai dari persoalan pembuangan limbah yang merusak bantaran sungai hingga terganggunya kesehatan masyarakat. “Menurut saya, penutupan atau relokasi PLTU Panau bukan solusi terbaik,” ujar Salman Hadianto, Plh Ketua YLKI Sulteng kemarin.

Menurut dia, perlu dilakukan kajian lebih mendalam terkait dengan dampak negatif/kerugian dan sisi manfaat yang dirasakan selama ini atas kehadiran PLTU. Salman yakin, dampak negatif yang ditimbulkan dari PLTU Panau bisa didapatkan solusinya. “Segera carikan solusi agar kerusakan lingkungan dan kerugian bagi masyarakat bisa diminimalisir,” sebutnya.

Menurut Salman, manfaat dari kehadiran PLTU Panau selama ini bagi masyarakat banyak juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Daya yang dihasilkan sudah digunakan oleh masyarakat Kota Palu. Karena itu, perlu kajian tindaklanjut serius terkait persoalan ini.

“Harus dipastikan bahwa kerusakan lingkungan dari limbah yng dihasilkan PLTU Panau dan kerugian bagi masyarakat di sekitarnya, bisa diminimalisir. Dan pasokan listrik tetap bisa jalan. Ini adalah hal penting yang patut jadi perhatian dan kajian kita bersama,” ujar Salman. (ars)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.