Pensiunan Pilot Pelopori Terbentuknya Kawasan Nobiru Baru

- Periklanan -

HIGASHIMATSUSHIMA-Kegiatan peserta Knowledge Co-Creation Program (KCCP) Japan International Cooperation Agency (JICA) hari keempat, Jumat (8/11) mengunjungi aktivitas Agricultural Pruduction Corporation (Agried) Naruse, Ltd, yang merupakan pabrik dan tempat jualan hasil pertanian dan produk olahan yang dipimpin Eksekutive Managing Direktor, Mr. Endo. Dilanjutkan mengunjungi dan melakukan observasi di Kibotcha sebuah fasilitas edukasi pengurangan risiko bencana yang memanfaatkan bangunan Sekolah Dasar (SD) yang terdampak tsunami. Kemudian, peserta kembali mengunjungi kantor Walikota Higashimatsushima guna mendengarkan paparan dua narasumber kunci hari itu, yakni pejabat senior di Pemerintah Kota (Pemkot) Higashimatsushima Mr. Kazuyuki Nanba, dan Direktur Direktorat Pengembangan Usaha Kecil Menengah dan Koperasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Ahmad Dading Gunadi.

Di Agried Naruse, Ltd, peserta mendapatkan banyak keterangan dari Mr. Daisuke Endo perihal kegiatan ekonomi dan agribisnis kelompok Nuruse yang dipimpinnya. Banyak suka dan duka diungkapkannya pada kesempatan itu.

Menurut dia dalam mengelola kelompok usaha Naruse dibutuhkan sebuah kebersamaan untuk mewarisi keberlanjutan kehidupan warga penyintas yang ada di daerahnya. Kurang lebih 30-an Kepala Keluarga (KK) bergabung di Naruse. Namun demikian di internal kelompok pun masih sering terjadi pro kontra dalam menghidupkan kelompok agribisnis dan kegiatan pemulihan warga. Beberapa pucuk pimpinannya pun bahkan bukanlah seorang petani.
” Kelompok atau organisasi yang kami bentuk di Naruse itu dengan komposisi satu orang ketua, dua orang wakil ketua, dan satu orang sekretaris. Saya dulunya adalah seorang sekretaris, tetapi sudah saya lepas jabatan ini, dan saya serahkan kepada sosok yang lebih muda, ” ungkapnya.

Mr. Daisuke Endo pun membagi keberhasilannya, yang juga rahasia manajemennya hingga berhasil seperti ini, yakni manajemen yang disebutnya Smart Farming. Kesuksesannya mendekati sempurna, hingga dirinya tak pernah di “kudeta” oleh pengelola kawasan pertanian di Nobiru baru, yang konon gaji karyawannya ada yang dibayar kontan ¥ 10 juta per bulan.

Sementara di Kibotcha, peserta mendapatkan banyak pelajaran dari pimpinan Kibotcha, Mr. Fumio Kogure, yang mengungkapkan bahwa arti kata dari Kibotca adalah harapan. “Dari matahari yang selalu menyinari kita mendapatkan harapan di sana, ” tutur pensiunan tentara, yang sempat menjadi pilot pesawat tempur dan helikopter ini.

Seperti diketahui, Kibotcha ini merupakan tempat berkumpulnya warga penyintas, tempat belajar, tempat bermain, menonton film (nonton bareng) dengan layar lebar, tempat fitnes, dan terkadang bila ada iven ruangan dan halaman Kibotcha yang dulunya gedung SD ini menjadi tempat konser musik, pertunjukan dan pagelaran seni warga. “Bahkan kami pernah menghadirkan artis penyanyi terkenal Jepang di Kibotcha ini untuk menghibur warga ” tuturnya. Harapan yang diusung Kibotcha juga Agried Nurse secara bersamaan adalah mewujudkan kawasan itu sebagai Nobiru Baru.

Setelah peserta dijamu makan siang di Kibotcha, perjalanan kunjungan dilanjutkan ke kantor Walikota yang pernah dikunjungi sehari sebelumnya, untuk mendengarkan penjelasan atau ceramah dari Mr. Kazuyuki Nanba mengenai langkah-langkah apa yang telah dilakukan Pemkot Higashimatsushima terhadap warganya yang telah menjadi korban tsunami. Dengan materi relokasi massal dan pengembangan komunitas baru melalui dialog dengan anggota masyarakat.

Mr. Kazuyuki Nanba, Citizen Cooperation Section, General Affairs Department, Kota Higashimatsushima, Prefektur Miyagi. Membahas strategi Pemkot Higashimatsushima keluar dari problem warganya terdampak tsunami, yang telah meluluhlantakan infrastruktur publik, perumahan warga, Bandara militer, dan destinasi pariwisata kota itu.
Ada delapan wilayah di kota ini menjadi target pemulihan, yaitu Yamoto Higashi yang jumlah penduduknya terpadat 9.785 jiwa, Yamoto Nishi ketiga terpadat 6.088 jiwa, Omagari jumlah penduduknya 5.144, Akai kedua terpadat 8.096, Oshio 2.810, Ono 5.182, Nobiru 2.571, dan Miyato hanya 516 jiwa.

Pembicara terakhir hari itu, Direktur Direktorat Pengembangan Usaha Kecil Menengah dan Koperasi Bappenas RI, Ahmad Dading Gunadi.

Dading mempresentasikan rencana apa yang akan dilakukan di wilayah terdampak bencana 28 September 2018 lalu di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, dan Kabupaten Parigi Moutong (Padagimo), setelah melakukan study banding penanganan bencana oleh Pemkot Higashimatsushima, mitigasi dan resiliensi risiko bencana.

Menurut dia, ada empat langkah kebijakan yang akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia, yakni tatakelola apa yang akan dilakukan pemerintah pascabencana.
” Ada empat tujuan dari komparatif study yang kami lakukan, yaitu kita ingin mempelajari pengalaman pemerintah Jepang dalam melaksanakan rehabilitasu dan rekonstruksi di area yang terdampak bencana melalui kunjungan dan diskusi dengan Pemkot Hagashimatsushima, ” paparnya.

” Kita juga mempelajari edukasi bagaimana mengurangi risiko bencana melalui pemulihan bencana di Jepang. Pemahaman bagaimana sistem pemerintahan yang berlaku di Jepang, ” sebutnya.

Selain itu, juga dipelajari kebijakan-kebijakan pemerintah Jepang dalam melaksanakan perencanaan pengurangan risiko bencana dengan berbagai pembangunan infrastruktur yang tahan atau anti gempa dan tsunami (bencana).

” Kemudian kita mempelajari bagaimana pemulihan mata pencaharian melalui kebijakan pemerintah lokal dan juga mengembangkan UMKM di Jepang ini, ” ujarnya.

Menurut Dading, pihaknya saat ini fokus pembelajaran di Pemkot Higashimasushima, yang kita membaginya menjadi empat kategori. Pertama terkait dengan aspek Tata Ruang, aspek pemulihan mata pencaharian atau aspek pemulihan ekonomi, bagaimana membangun infrastruktur yang tahan terhadap bencana.

- Periklanan -

Dikatakannya, terkait Tata Ruang kita sudah melihat Pemkot Higashimatsushima Jepang sudah membentuk Komite Pengembangan kota baru, kemudian tahapan pemulihan rehabilitasi, dan rekonstruksi.

” Kebijakan ini disiapkan dalam 10 tahun, dibagi dalam dua fase masing-masing 5 tahun. Termasuk rencana aksi pembangunan dalam 3 tahun dan melakukan evaluasi di akhir tahun. ” Ini juga sudah kami lakukan tahapan-tahapan, mulai dari tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi infrastruktur,
” terangnya.

Selanjutnya, kata Dading, terkait pemulihan mata pencaharian atau ekonomi pemerintah mencari alternatif pemulihan mata pencaharian dan membuat suasana atau iklim usaha yang kondusif bagi para investor. Sebagai contoh yang dilakukan oleh lembaga yang mengatur pertanian, menjual makanan dan sebagainya, seperti di Harappa yang dipimpin anak muda Mr. Katsuhisa Matsuoka, dan yang dilakukan tokoh pelopor pembaharuan perempuan, Tomoko Haga, Presiden Higashimatsushima Stitch Girls, bersama ibu-ibu disekitar rumahnya.

Selanjutnya, pembentukan Komite Bisnis yang dalam menyiapkan konsep pemulihan ekonomi, juga meningkatkan pasar, dan bagaimana meningkatkan aktivitas UMKM, dan memberikan bantuan kepada mereka dari pemerintah.

” Yang penting juga melibatkan tokoh-tokoh penbaharuan di lokal komuniti seperti ibu Tomoko Haga, yang berperan didalam membangkitkan kerajinan rumahan, juga Katsuhisa Matsuoka yang ulet membangun daerah, dan Mr. Daisuke Endo membangun produk bernilai tambah.

Sedangkan terkait disaster bisa menjadi nilai ekonomi, bisa mendatangkan wisatawan-wisatawan dari daerah lain maupun mancanegara, dengan menggerakan tokoh-tokoh pembaharu.

Selanjutnya, aspek infrastruktur yang tahan bencana Pemkot Higashimatsushima telah bekerjasama dengan BMKG Jepang menyediakan peralatan komunikasi dalam mengantisipasi jika akan terjadi bencana. ” Kami akan melakukan di negara kami walau hanya sederhana, dengan learning sistem bila terjadi bencana, ” cetusnya.

Demikian juga memungsikan gudang logistik, kalau misalnya jalan darurat karena komunikasi terputus dan angkutan juga susah. ” Di sini sudah ada gedung khusus yang siap nembantu dalam keadaan darurat. Menjadi pembelajaran bagi kita. Apalagi dikelola oleh swasta. Sebenarnya kita bisa bekerjasama. Mungkin kita juga punya gudang yang dapat digunakan saat gawat darurat, ” urainya lagi.

Pembentukan Komite Komunikasi, untuk menyepakati ketinggian dari suatu gedung dan fasilitas yang dibangun oleh pemerintah, seperti membuat tanggul-tanggul yang tinggi. Mungkin kita membuat secara sederhana, atau green proteksi, atau lainnya.

Mengenai rekomendasi terkait Tata Ruang telah disampaikan oleh Pemkot Higashimatsushima pentingnya kolaborasi dengan masyarakat atau komunitas supaya disepakati bagaimana merelokasi warga. Kemudian, bagaimana cara pembayarannya, dan memiliki rumah, dan sebagainya. ” Perlu kita tingkatkan cara-cara komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat, ” ujarnya.

Di aspek keberlanjutan, dengan perubahan-perubahan iklim, baik ekonomi dan sosial kita pertimbangkan dalam konsep mitigasi, resiliensi, dan rekonstruksi pascabencana. Diakuinya ada hikmah di balik bencana ini.

Menurutnya, sistem mitigasi juga diperlukan secara konsisten dibangun bersama dengan masyarakat. Misalnya kita mengajak komunitas mulai dari anak-anak SD, karena di sini juga melibatkan anak SD untuk mempertimbangkan tantangan-tantangan kedepan.

Pihak Indonesia (pemerintah pusat) tentu juga akan melakukan kerjasama-kerjasama dengan negara lain. Bila ada bencana pasti berdatangan bantuan dari negara lain, yang kita berinovasi lagi termasuk dari Jepang seperti yang sudah dilakukan kerjasamanya dengan Pemerintah Provinsi Nanggroh Aceh Darussalam.

” Tentunya nanti kalau ada secara khusus dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) dengan kita di sini bisa melakukan kerjasama secara langsung, dan secara terus menerus untuk melakukan pencegahan. Sehingga kedepan disiapkan lebih lebih awal untuk inovatif.

Dikatakannya, pendidikan disaster kita harus memulai dari tingkat SD, karena ini belum semuanya. Insya Allah di Sulteng juga dilakukan hal-hal seperti ini, misalnya dilakukan simulasi bencana setiap tahun seperti apa.

Yang terakhir, kata Dading, adalah kerjasama dengan daerah lain dan juga dengan negara sahabat. Apa yang sudah dilakuan, dan bantuan apa yang sudah diberikan. Selanjutnya adalah progres dari bantuan dan pemulihan di masing-masing daerah, terkait seberapa banyak dan seberapa jauhnya bantuan itu telah dilakukan, serta bagaimana terasa manfaatnya dari bantuan yang sudah dilakukan. ” Mengenai progres ini, akan disampaikan pak Samuel Pongi nanti di hari Senin depan, ” pungkasnya.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.