Peninggalan Raja Pue Bongo, masih Ada Namun Kurang Terawat

- Periklanan -

Makam Raja Pue Bongo di Desa Bangga. (Foto: @liputan6.com)

PUE  Bongo dikenal merupakan Raja Bangga, dimana kini lokasi kerajaan itu dijadikan nama desa, yaitu Desa Bangga di Kecamatan Dolo Selatan. Sejarah turun temurun menyatakan bahwa Pue Bongo adalah putra dari Vala Bate dan Vumbu Langi.

LAPORAN  : Nendra Prasetya


AYAHNYA Vala Bate dikenal sebagai Raja Dombu yang terletak di Kecamatan Marawola Barat. Sementara Ibunya Vumbu Langi yakni ratu di Kerajaan Bangga. Sebagai putra mahkota, maka Pue Bongo meneruskan tahta kerajaan dan diangkat sebagai Raja Bangga.

Salah satu tokoh masyarakat sekaligus Sekretaris Desa (Sekdes) Bangga, Saifudin Djamaliah yang memandu di lokasi makam menceritakan bahwa Pue Bongo yang juga memiliki nama lain Mbalava Lemba itu tergolong raja yang kuat, sakti dan pemberani.

“Selama Kerajaan Bangga dipimpin Pue Bongo, masyarakatnya selalu aman dan tentram. Padahal di masa itu masih sering terjadi peperangan antar kerajaan. Namun itu tidak terjadi di Kerajaan Bangga. Pue Bongo juga dikenal penjelajah, sehingga ia memiliki istri di beberapa daerah, antara lain di Kota Palu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Buol bahkan hingga Provinsi Sulawesi Tenggara,” ungkap Saifudin.

Menurut Saifudin, jiwa petualang itulah yang membuat Pue Bongo dikenal di beberapa daerah tersebut. Bahkan Raja Palu kala itu bernama Pue Nggari pernah meminta pertolongan Pue Bongo ketika diserang Kerajaan Mandar Sulawesi Selatan.

“Pue Bongo datang membantu Kerajaan Palu hanya bersama enam orang pasukannya. Tapi mereka justru berhasil memukul mundur prajurit Kerajaan Mandar. Setelah Kerajaan Palu aman, Pue Bongo pun dinikahkan dengan putri dari Pue Nggari yang bernama Gili Mareme. Jadi tidak heran kalau nama Pue Bongo diabadikan pada sebuah jalan protokol di Kota Palu sampai sekarang,” sambung Saifudin sambil membaca referensi dari buku Sejarah Terbentuknya Desa Bangga.

Lanjutnya, selang beberapa tahun, Pue Bongo dimintai lagi bantuan oleh Kerajaan Buol yang terdesak atas serangan pasukan Filipina. Kisah yang hampir sama, dimana Pue Bongo bersama satu orang pengikutnya dari Bangga dan lima orang dari Palu berhasil mengalahkan pasukan Filipina hingga menikah kembali dengan gadis Buol.

Selain tangguh dan disegani, Pue Bongo juga merupakan salah satu raja yang berperan penting menyebarkan agama Islam di Sulawesi Tengah, khususnya di areal Kabupaten Sigi. Lahir di lingkungan penganut animisme dan dinamisme, Pue Bongo akhirnya menganut Islam ketika berjumpa dengan Datokarama (penyebar Islam pertama di Sulawesi Tengah).

Bersama Ma’ruf atau Sabandara yang merupakan utusan Datokarama, Pue Pongo mulai mengislamkan keluarga beserta warga Kerajaan Bangga dan sekitarnya, dimana menggunakan metode dengan cara memandikan pihak yang diislamkan itu ke sebuah sumur.

- Periklanan -

“Sumur itu dikenal dengan nama Silamu dan masih ada sampai sekarang. Sayangnya, sumur tua tersebut sudah tidak terawat lagi. Padahal Silamu termasuk salah satu peninggalan Pue Bongo yang tetap utuh. Airnya juga masih mengalir, tapi sudah keruh,” tutur Saifudin.

Meski tergolong situs peninggalan bersejarah, sumur Silamu belum pernah tersentuh bantuan pemeliharaan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah maupun Kabupaten Sigi. Kondisi airnya berlumut dan keruh. Letak cagar budaya itu pun terselubung, dimana akses jalan menuju sana harus melewati kebun milik warga. Ini sekaligus menjadikan aset budaya tersebut seolah terisolir.

“Sebenarnya Silamu sudah ada sebelum Kerajaan Bangga terbentuk, tepatnya di era kepemimpinan Vumbu Langi. Sejarah awalnya sumur tua itu bernama Vuvu Bangga yang merupakan tempat keluarnya mata air,” katanya.

Sumur tua tersebut diyakini bisa menyembuhkan penyakit. Meski tidak ada dokumentasi yang bisa memastikan kisah ini, tapi kala itu dipercaya terdapat seorang bocah yang terkena penyakit kulit aneh, dimana seluruh badannya melepuh layaknya terbakar.

“Bocah itu kemudian direndam di sumur tersebut dan bisa sembuh. Dalam bahasa Kaili Ado, rendam artinya bangga. Karena kejadian itu begitu menggemparkan, maka sebutan bangga itulah yang dijadikan nama kerajaan dan sekarang menjadi nama desa,” pungkas Saifudin.

Meski demikian, warga Desa Bangga hingga kini masih memegang erat kelestarian beberapa ritual adat yang ditinggalkan di masa Pue Bongo, antara lain Ada Ngata atau adat kampung berupa syukuran saat panen hingga ritual adat Tulak Bala. Aturan beserta sanksi adat pun masih diberlakukan hingga saat ini, salah satunya ketika ada warga melakukan Salakono (Perselingkuhan).

“Perkembangan zaman serta teknologi begitu pesat saat ini, tapi kami bersyukur warga Desa Bangga masih mau memelihara adat dan tradisi, termasuk peninggalan dari zaman Pue Bongo. Tidak perlu jauh-jauh, bahasa daerah yang digunakan di masa Pue Bongo yaitu Kaili Ado, masih dipakai sebagai bahasa sehari-hari hingga sekarang,” ucapnya.

Saifudin menjelaskan beberapa keturunan Pue Bongo lahir dan berjaya sebagai raja di berbagai daerah di Sulawesi Tengah, di antaranya raja Lamakarate dan Djanggola. Tentu Pue Bongo termasuk nenek moyang dari Gubernur Sulawesi Tengah saat ini, Longki Djanggola.

“Kami kurang tahu tahun berapa Pue Bongo wafat. Kami hanya tahu sejarahnya beliau wafat karena faktor usia. Proses berjalannya waktu, sekitar tahun 1985 silam baru saya saksikan makam Pue Bongo diberi tanda dengan batu nisan dan pondasi keliling oleh orang-orang tua saat itu. Kemudian sekitar tahun 1997, warga Desa Bangga atas bantuan pengunjung makam dari Kota Palu mulai membangunkan makam tersebut seadanya hingga berdiri bangunan makam. Sementara perbaikan terakhir dilakukan tahun 2005 lalu,” jelasnya.

Namun belum optimalnya campur tangan Pemerintah Daerah sampai sekarang membuat kondisi makam Pue Bongo nyaris terbengkalai. Padahal makam Pue Bongo merupakan salah satu tujuan wisata budaya di Kabupaten Sigi, dimana penjunjungnya mayoritas berasal dari luar Sigi.

“Contohnya pagar kayu yang mengelilingi makam dibangun dengan dana suka rela dari pengunjung beberapa tehun lalu. Tapi sekarang kondisinya sudah rusak akibat gangguan ternak. Sementara warga belum mampu mendanai perbaikannya,” kata Saifudin.

Ia mengaku pihak pemerintah desa akan kembali mengusulkan permohonan bantuan pemeliharaan makam bersejarah tersebut. Tidak hanya itu ia juga meminta dinas terkait dalam hal ini Pariwsata, agar juga ikut turun tangan karena menurut Saifudin ini merupakan Situs Cagar Budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan. “Kami juga berinisiatif akan mengusulkan pembangunan taman di areal makam guna menarik lebih banyak pengunjung. Itu semua insyaallah bisa terwujud jika minimal ada bantuan pemerintah,” tutupnya. (***)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.