Pengusaha Kayu Didakwa Terlibat Illegal Loging

- Periklanan -

PALU – Dugaan perkara illegal loging yang menjerat Asfar BS Lamongki telah disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA/PHI/Tipikor Palu, Kamis (22/2).  Di hadapan majelis hakim yang diketua Ernawati Anwar SH MH, terdakwa Asfar BS Lamongki, menjalani sidang perdana dengan agenda pembacaan surat dakwaan.

Asfar BS Lamongki ketika menjalani sidang perdana di PN Palu, karena terjerat kasus illegal loging, Kamis (22/2). (Foto: Ist)

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Petrus J Sumelang SH, dalam surat dakwaannya menyebutkan terdakwa Asfar di dakwa dengan sengaja mengangkut, menguasai atau memiliki hasil hutan yang tidak dilengkapi secara bersama dengan Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH), sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 Huruf e, yaitu kayu Jenis Ebony sebanyak 19.290 batang/Keping. Perbuatan terdakwa itu berawal terjadi Maret 2017 silam.

Dilakukan dengan cara terdakwa membuatkan administrasi berupa faktur angkutan  kayu olahan (FA-KO) sebanyak 11 lembar dalam kurun waktu pengangkutan di waktu waktu tertentu dibulan September 2014 s/d Nopember 2014, dan dikurun waktu tertentu di bulan Desember 2015, yang dibuat dan ditandatangani oleh terdakwa selaku penberbit sebagai bukti pendukung.

“Yang seolah-olah kayu ebony tersebut diambil atau di angkut dari tempat penampungan terdaftar (TPT) Kayu ebony eks tebangan lama/rakyat yang berada di Kabupatem Parigi Moutong, atau yang dikelola saksi Inengah Suharto, saksi Safar Buleng, dan saksi Reyden Anelka dan saksi Burhan, yang bekerjasa sama dengan terdakwa dan CV Alam Jaya Prima,” ungkap Petrus di dalam persidangan.

- Periklanan -

Ternyata para saksi setelah dimintai keterangannya oleh penyidik mengaku bahwa terdakwa Asfar tidak pernah  mengangkut kayu Ebony dari TPT milik para saksi di kurun waktu waktu tertentu, sebagaimana tercantum dalam sebelas formulir faktur FA-KO yang dibuat terdakwa.

“Kayu yang berada di tempat terdakwa bukan berasal dari TPT milik para saksi. Dan saksi Inengah Suharto menerangkan bahwa terdakwa  terakhir kali mengambil atau mengangkut  kayu dari TPT milikinya tahun 2013. Dan saksi Safar Buleng dan saksi Burhan menerangkan terakhir mengirimkan kayu kepada terdakwa tahun 2013. Sementara ditahun 2014 saksi tidak pernah mengirikan kayu lagi ke CV. Alam Jaya Prima,” terang Petrus.

Oleh karena itu, dalam dakwaannya JPU Petrus menyebutkan berdasarkan hasil keterangan Ahli Ir Bambang D N, menerangkan bahwa penerbitan FA-KO yang tidak sesuai dengan fisik kayu dan tidak jelas asal usul kayu yang tidak diakui oleh pengiriman selaku pengelolah TPT, maka penertiban FA-KO tidak sesuai dengan ketentuan Permenhut No.P55/Menhut-II/2006, maka FA-KO tersebut tidak sah.

Oleh karena itu 19.290 batang kayu ebony yang berhasil diamankan penyidik di tempat terdakwa adalah  hasil hutan atau kayu ebony yang tidak dilengkapi Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH).

Dalam perkara ini terdakwa Asfar didakwa  Kesatu perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan di ancam pidana dalam pasal 83 ayat (1) huruf b Jo Pasal 12 huruf e, undang-undang RI No.18 tahun 2013.  Kedua pasal 88 ayat (1) huruf b Jo Pasal 14, undang-undang RI No.18 tahun 2013.Ketiga pasal 88 ayat (1) huruf c Jo Pasal 15, undang-undang RI No.18 tahun 2013.

Keempat pasal 83 ayat (1) huruf b Jo Pasal 12 huruf e, undang-undang RI No.18 tahun 2013.tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.  Selanjutnya terdakwa akan menjalani sidang dengan agenda pemeriksaan saksi yang diagendakan pekan mendatang.  (cdy)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.