Pengusaha itu Kreatif, Bernyali dan Punya Kreasi

Oleh : Mohamad Rivani, S.IP., M.M.

- Periklanan -

SAAT ini, ditengah kondisi ekonomi bangsa yang masih terpuruk akibat pandemi Covid-19, keberadaan dunia usaha sedang dalam ujian yang berat. Para pengusaha, baik pemula ataupun yang telah malang melintang di dunia usaha, terus memutar otak untuk tetap tumbuh ataupun sekedar bertahan demi eksistensi usahanya dan menghindari adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Karyawan, ataupun merumahkan karyawan demi efisiensi perusahaan. Kondisi ini kemungkinan akan tetap terjadi jika Covid-19 tidak segera teratasi dengan baik, dan akan berimplikasi pada iklim usaha yang masih akan pasang surut mengikuti tren naik turunnya kasus orang terinveksi, dari Virus asal negeri tirai bambu tersebut.

Kondisi perekonomian bangsa ini dapat terlihat dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Stratistik Republik Indonesia (BPS RI), selama dua triwulan berturut-turut Indonesia hanya mampu tumbuh minus, yaitu sebesar -5,32 persen di triwulan II dan sebesar -3,49 persen di triwulan III 2020. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang minus menandakan Indonesia Masuk dalam jurang resesi, hal ini kemudian diperparah oleh naiknya angka pengangguran yang mengindikasikan bahwa banyak usaha yang gulung tikar sehingga mengakibatkan naiknya angka pengangguran di Republik ini.

Dari data BPS, hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Agustus 2020, menggambarkan bahwa angka pengangguran di Indonesia mengalami kenaikan dari tahun 2019 yang berada di angka 5,23 persen menjadi 7,07 persen ditahun 2020 atau 9,77 juta orang penganggur. Salah satu faktor naiknya angka pengangguran di Indonesia adalah akibat wabah Covid-19.Untungnya ditengah keterpurukan perekonomian bangsa, pemerintah lantas mengambil tindakan responsif dan terukur, dengan membentuk Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) yang bertujuan untuk mengatasi penyebaran Covid-19 dan mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia. Komite ini diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

- Periklanan -

Kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) oleh Pemerintah sedikit banyak telah membantu perekonomian Indonesia untuk lebih dinamis, utamanya di kalangan dunia usaha ditahun 2020, dan akan berlanjut pada tahun 2021, karena pemerintah berpendapat bahwa PEN ditahun 2020 cukup berhasil. Dari total Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara (APBN) 2021, sekitar Rp 372,3 Triliun dialokasikan untuk PEN yang terbagi atas 6 program pemulihan ekonomi dan penanganan Covid-19. Adapun 6 program PCPEN yang dilanjutkan tahun 2021 antara lain, kesehatan dengan anggaran Rp 25,40 triliun, perlindungan sosial dengan anggaran Rp 110,2 triliun, sektoral K/L &Pemda dengan anggaran Rp 152,4 triliun, UMKM dengan anggaran Rp 48,8 triliun, pembiayaan korporasi dengan anggaran Rp 14,9 triliun, dan insentif usaha dengan anggaran Rp 20,40 triliun.

Pengusaha sebagai penggerak ekonomi bangsa sekaligus mitra strategis pemerintah dalam membuat pergerakan ekonomi yang masif dimasyarakat, haruslah jeli memanfaatkan momentum walaupun dimasa-masa sulit seperti ini. PEN adalah salah satu momentum itu, dimana para pelaku usaha dapat menggunakan anggaran PEN untuk usahanya, baik bantuan untuk tambahan modal usaha, insentif perpajakan ataupun subsidi bunga pinjaman. Pengusaha harus bangkit dan tampil di front terdepan dalam menggerakkan kembali perputaran ekonomi bangsa yang sempat tergopoh pada triwulan II dan III 2020. Pengusaha haruslah kreatif, bernyali dan punya kreasi, sehingga dimasa-masa seperti ini dapat keluar dari kesulitan dengan ide-ide ataupun pemikiran yang Out of the Box sehingga bisa rebound kembali pada posisi yang lebih baik. Ingat “Seribu kegagalan dapat tertutupi dengan satu kesuksesan”.

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Ekonomi Sulawesi Tengah.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.