Pengurus PGRI Sulteng Audiensi dengan Kadis Dikbud Sulteng

Sampaikan Pokok-pokok Pikiran Terkait Mutu Pendidikan di Sulteng

- Periklanan -

PALU – Pengurus PGRI Provinsi Sulawesi Tengah melakukan audiensi dengan Kadis Dikbud Provinsi Sulteng Drs H Irwan Lahace MSi, di ruang kerjanya, Rabu (15/1/2020). Dalam kesempatan itu dimanfaatkan juga dialog dengan tema; pokok pokok pikiran PGRI Sulteng untuk percepatan mutu pendidikan di Provinsi Sulawesi Tengah, yang di pandu oleh Sekretaris Umum PGRI Provinsi Sulteng Idrus A. Rore SPd SH MPd.
Pada kesempatan itu, Ketua PGRI Provinsi Sulteng Syam Zaini SPd MSi yang memimpin langsung aundensi tersebut memperkenalkan seluruh pengurus yang hadir. Adapun dari pihak Dikbud Sulteng selain dihadiri oleh kadis, juga dihadiri oleh Seretaris Dinas Dikbud, Kabid GTK, Kabid PSMA.
Dalam pembicaraan yang didahului oleh ucapan terimakasih oleh ketua Syam Zaini atas penerimaan pihak Dikbud, PGRI juga berkomitmen mendukung sepenuhnya kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulteng dalam upaya mengembangkan mutu pendidikan sehingga lebih unggul dan berdaya saing pada masa kini dan masa yang akan datang.
Selanjutnya Ketua PGRI Provinsi Sulawesi Tengah Syam Zaini, memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Kadis Dikbud Sulteng atas komitmen dan dedikasi yang selama ini ditunjukkan dalam rangka pengembangan mutu pendidikan di Sulawesi Tengah, termasuk perhatian dan kontribusi yang selama ini diberikan kepada PGRI Sulteng.
Pokok-pokok pikiran yang disampaikan kepada Kadis Dikbud Provinsi Sulteng antara lain, pertama, kebijakan Kemendikbud yang mencanangkan “Merdeka Belajar” dengan komponen utama guru, idealnya tidak hanya memerdekakan guru dari “belenggu” perangkat pembelajaran yang over, tetapi juga seharusnya memerdekakan guru dari jerat hukum. Beberapa tahun terakhir tindak kekerasan terhadap guru yang sedang melaksanakan tugas mendidik dan mencerdaskan anak bangsa semakin marak di berbagai daerah di Indonesia termasuk di Sulawesi Tengah. PGRI Sulteng menjunjung tinggi solidaritas sesama pendidik, untuk itu PGRI Sulteng telah memberikan berbagai pendampingan maupun bantuan hukum.
“Dengan motivasi, dukungan, dan bantuan baik secara moril, administratif, responsibility dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah, maka tentunya PGRI Sulteng akan semakin berkomitmen mendukung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulwesi Tengah dalam menjaga marwah dan solidaritas guru,” kata Syam Zaini.
Kedua, lanjut Syam Zaini, secara geologis dan geografis, Sulawesi Tengah dilewati sesar Palu Koro yakni patahan yang membelah Sulawesi menjadi dua, dimulai dari batas perairan Laut Sulawesi dengan Selat Makassar hingga ke Teluk Bone. Sesar ini sangat aktif hingga pergerakannya mencapai 35 sampai 44 milimeter per tahun. Karena itu, Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong potensial terhadap Gempa Bumi yang berakibat tsunami dan likuifaksi. Selain itu, potensi bencana alam lain sering terjadi seperti banjir dan tanah longsor.
Oleh karena itu, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah dan PGRI Sulteng siap mendukung dan berkontribusi terhadap perlunya lebih meningkatkan kesadaran siswa dan stakeholder pendidikan tentang kesiap-siagaan menghadapi bencana alam setidaknya memberikan kesadaran tentang urgensi mitigasi bencana. Bahkan jika memungkinkan dapat dilakukan dalam bentuk muatan lokal sekaligus sebagai upaya membangun lokal wisdom (kearifan lokal) Sulawesi Tengah.
Lanjut Syam Zaini, pokok pikiran yang ketiga, salah satu indikator mutu pendidikan adalah capaian Standar Nasional Pendidikan (SNP) sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang kemudian dijabarkan dalam berbagai kebijakan termasuk kebijakan akreditasi sekolah. Data hasil Akreditasi BAN S/M Sulteng (2019), ternyata kesulitan sekolah mencapai akreditasi yang tinggi (A) tidak hanya disebabkan karena keterbatasan pada standar sarana dan prasarana melainkan juga pada standar berbasis dokumen seperti; Standar isi, standar proses, standar penilaian, standar kompetensi lulusan, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan bahkan standar pendidik dan tenaga kependidikan.
“Karena itu, standar berbasis dokumen ini perlu dioptimalkan dengan berbagai program teknis berbasis IT,” paparnya.
Keempat, dalam jangka panjang membangun mutu pendidikan adalah membangun peradaban. Semua peradaban besar dunia berawal dari kepemilikan perpustakaan yang mewah (kelengkapan buku-sumber). Sejalan dengan gerakan literasi dan dengan berharap semakin meningkatnya dukungan, motivasi, dan arahan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, maka “Perpustakaan Sekolah” dapat diwujudkan sebagai cikal bakal Poros Peradaban yang berfungsi merajut benang merah antar generasi sekaligus mengatasi rabun membaca – pincang menulis. Berharap sebuah kebijakan yang menjadikan “Perpustakaan Sekolah Sebagai Poros Peradaban.”
Selanjutnya Kadis Dikbud Prov Sulteng meanggapinya dengan menyatakan sepakat bahwa pengembangan SDM sangat penting untuk meningkatkan mutu pendidikan di Sulteng. “Perlu terus di jalan komunikasi dah silaturrahim antara Dikbud dan PGRI,” tuturnya.
Dia juga sepakat pendidikan adalah urusan semua pihak termasuk PGRI. Kemudian, pengembangan perpustakaan sekolah sangat strategis dalam mengatasi rabun membaca pincang menulis. melalui dinas perlu diarahkan agar perpustakaan sekolah mnjadi poros peradaban minimal di lingkungan sekolah.
Lanjut kadis, Dikbud Provinsi Sulteng dan PGRI Provinsi Sulteng akan membangun kerjasama termasuk dalam pemanfaatan aula GGI (Gedung Guru Indonesia) PGRI Sulteng. “Dengan harapan PGRI sudah memiliki badan hukum dalam usaha tersebut,” sebutnya.
Kadis dikbud Sulteng berharap agar PGRI dapat menyampaikan kepada guru hal-hal yang berkaitan dgn TPG/Tunjangan Sertifiksi, terutama jika terjadi keterlambatan dana TPG/Sertifikasi tersebut lebih disebabkn krn sistem input data di dapodik.
“Dikbud Sulteng dapat melibatkan PGRI pada berbagai kgiatan sesuai jenis kgiataan dan relevansi keilmuan personil pengurus PGRI,” ungkapnya.
Audiesi ditutup dengan closing statemen dari ketua PGRI SulTeng dan kadis Dikbud SulTeng, disertai ramah tamah dan foto bersama.(*/fdl)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.