Pengawasan Tablet PCC di Palu Diperketat

- Periklanan -

Suasana saat rapat koordinasi antara Dinkes Kota Palu, Balai POM Kota Palu dan BNN Kota Palu, Senin (18/9). (Foto: Amaliah)

PALU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu,  Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Palu dan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kota Palu melakukan rapat untuk mengantisipasi peredaran tablet Paracetamol, Caffein dan Corisoprodol (PCC).

Kepala Dinkes Kota Palu, dr Royke Abraham menyebutkan bahwa dalam bentuk mengantisipasi tablet PCC di Kota Palu, pihaknya akan lebih memperketat dengan melibatkan seluruh pelayanan kesehatan seperti Puskesmas. Dan terdapat 6 Puskesmas yang masuk dalam institusi wajib lapor narkotika melalui kerjasama dengan BNN Kota Palu. Nantinya kata Royke akan ada sebuah tim yang akan turun ke sekolah untuk melakukan edukasi, begitu juga mensuplay tim tersebut ke setiap rumah untuk mendeteksi dini pengguna obat-obat terlarang. Dia berharap cara ini akan lebih aktif lagi.

“Kami akan turun bersama dengan menjadwalkan sidak baik itu pagi, siang maupun malam, tentunya mendadak,” sebutnya saat rapat koordinasi di Kantor Dinkes Kota Palu.

Meskipun kata Royke sudah sepakat untuk membentuk tim bersama, namun dalam wewenang sudah memiliki porsi masing-masing dalam menangani tablet PCC. Hingga saat ini tablet PCC juga belum terdeteksi beredar di Kota Palu.

Yang jelas akan ada pelanggaran hukum berat mulai dari penutupan, pencabutan izin baik distributor maupun apotek yang melakukan pelanggaran.

“Tuntutan pidana sesuai dengan UU Nomor 36 tentang kesehatan dengan kesengajaan menjual dan edarkan, seperti yang terjadi di Kendari sudah ada berlaku hukumnya,” jelas Royke.

Royke menyebutkan, karena jenis tablet PCC ini termasuk psikotropika bukan narkotika maka yang lebih berwenang bagian Reskrim Polri. Namun demikain pihak BNN juga akan membantu. Bahkan Kejaksaan Negeri Palu melibatkan Dinkes dalam kegiatan penerangan hukum program jaksa masuk sekolah (JMS).

“Besok (Hari ini,  red) kami diundang ke SMAN 8 Palu. Jadi tenaga penyuluhan kesehatan yang berkompeten dalam penyalahgunaan obat-obatan terlarang dalam mengantisipasi dikalangan pelajar. Pihak jaksa yang membidangi hukum, tidak mau ketinggalan dalam mengantisipasi melakukan promotif dan preventif,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Balai Pom Palu, Safriansyah menyebutkan bahwa, berdasarkaan rilis Badan POM RI terkait kandungan dan dampak bahaya dari obat PCC tersebut diketahui bahwa tablet PCC positif mengandung carisoprodol.

- Periklanan -

Selain itu, kata Safriansyah peredaran tablet PCC tersebut telah ditarik izin produksinya sejak 4 tahun lalu.

“Hasil uji laboratorium terhadap tablet PCC  menunjukkan positif mengandung carisoprodol. Carisoprodol digolongkan sebagai obat keras. Mengingat dampak penyalahgunaannya lebih besar daripada efek terapinya, seluruh obat yang mengandung carisoprodol dibatalkan izin edarnya pada tahun 2013,” jelas Safriansyah saat rapat koordinasi di Dinkes Kota Palu.

Lanjutnya, sesuai dalam rilis Badan POM RI juga menekankan zat aktif bernama carisoprodol yang ada di dalam obat PCC. Efek berbahaya dari obat PCC tersebut, dapat memicu halusinasi dan rasa menenangkan.

“Obat yang mengandung zat aktif carisoprodol memiliki efek farmakologis sebagai relaksan otot namun hanya berlangsung singkat, dan di dalam tubuh akan segera dimetabolisme menjadi metabolit berupa senyawa Meprobamat yang menimbulkan efek menenangkan (sedatif),” paparnya.

Safrianyah mengungkapkan bahwa, pasca kasus di Kendari, Sulawesi Tenggara, yang memakan korban 42 dirawat dan 1 meninggal dunia itu, pihaknya tidak ingin terjadi di Kota Palu.

Olehnyaa itu,  baik pagi, siang, hingga malam hari pihaknya menyisir ke apotek-apotek maupun ke tempat-tempat yang mencurigakan.

“Sejauh ini kami sudah sidak untuk menyisir namun sebenarnya dalam hal ini butuh kerjasamanya, karena sebenarnya sudah wewenang bersama,” sebut Safriansyah.

Kepala BNN Kota Palu yang diwakili Staf Pencegahan dan pemberdayaan masyarakat (P2M) BNN Kota Palu, Yamin Patra SKM menambahkan bahwa, mengenai penyalahgunaan tablet PCC tersebut, dia mengakui tablet ini bukan termasuk dari jenis narkotika, akan tetapi tablet PCC masuk dalam obat keras berdasarkan hasil uji Badan POM RI. Namun demikian pihaknya akan terus mengantisipasi dalam bentuk kepedulian kepada masyarakat.

“Karena sebenarnya dasar dari BNN itu sendiri dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan narkotika. Maka dari itu kami disini hanya memberikan masukan saja, kalau memang bisa diperhatikan, karena selama ini pihak BNN lebih memainkan strategi,” tuturnya.

Rapat koordinasi ini juga dihadiri oleh perwakilan dari penyidik pegawai negeri sipil, Kepala bidang Farmasi Dinkes Kota Palu dan Kepala bidang Pelayanan Dinkes Kota Palu. (cr2)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.