Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Pengadaan Obat Dinkes Tolitoli Diduga “Dimainkan”

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

TOLITOLI-Buntut dari keluh kesah warga serta aspirasi petugas kesehatan di puskesmas terkait kekosongan stok obat, mencuat kabar tak sedap di lingkungan Dinas Kesehatan Tolitoli. Diduga, pengadaan obat dimainkan oleh oknum. Benarkah ?

Sumber terpercaya Radar Sulteng menyebutkan, setiap tahunnya untuk pengadaan obat di Dinas Kesehatan Tolitoli dilaksanakan melalui UPT Instalasi Farmasi, dan di tahun 2021 anggaran pengadaan obat regular dengan sumber Dana Alokasi Khusus (DAK) dikabarkan senilai Rp 2,5 miliar.

“Persoalan ini bermula dari keluhan petugas di puskesmas terkait kekosongan stok obat, maka kami menelusuri alur pengadaan obat di Dinkes, dan sepertinya ada dugaan permainan dalam pengadaan obat, dan sepertinya sudah berlangsung lama, hanya saja ada yang pandai menutupi semua ini,” ungkap sumber media ini.

Keluhan mengenai kekosongan obat serta obat-obatan yang diterima dari Dinkes mendekati masa expired juga ramai dibincangkan di media sosial maupun grup WhatsApp (WA).

Sumber lain juga menyebutkan bahwa, dugaan permainan ini dilakukan dengan pola atau cara yang kurang transparan, dimana obat-obatan yang telah diadakan tidak sepenuhnya diteruskan ke 16 pusat layanan kesehatan, yakni puskesmas plus rumah sakit pratama.

“Contohnya ini obat 1 paket, setengahnya saja didrop ke PKM, kemudian sisanya dijadikan stok untuk didistribusikan pada tahun berikutnya, sementara pengadaan obat setiap tahunnya terus berjalan, bisa diasumsikan ada permainan di sini, entah berapa dana yang bisa dimainkan,” ungkap sumber.

Sementara, upaya konfirmasi harian ini ke Kepala Dinas Kesehatan Tolitoli Anjasmara SPt belum membuahkan hasil. Kadinkes berulang kali ditelepon tidak juga mau menjawab, bahkan melalui WhatsApp pun enggan membalas.

Terpisah, Kepala UPT Instalasi Farmasi-Dinkes Tolitoli, Anis M, ketika dikonfirmasi terkait mekanisme pengadaan obat-obatan menjelaskan, setiap tahunnya UPT yang ia pimpin melakukan pengadaan melalui anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) secara regular. Obat yang sudah diterima UPT kemudian didistribusikan sesuai dengan Rencana Kebutuhan Obat (RKO).

Artinya, Dinkes Tolitoli mendistribusikan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan puskesmas selama satu tahun. Mengenai adanya obat expired, Anis mengatakan, biasanya terjadi pada jenis obat-obatan program, atau pesanan melalui pemerintah provinsi, contohnya obat cacing.

“Kalau di kami pak, tidak ada obat yang mendekati expired kami distribusikan, kecuali obat program. Saya betul-betul awasi ketat pak. Dan penyaluran obat sesuai laporan PKM, kalau tidak ada laporan obat kita pending pendistribusiannya,” ujar Anis yang menyebutkan, pengadaan tahun sebelumnya senilai kurang lebih Rp 800 juta.
Anis menambahkan, untuk pengadaan obat biasanya dilakukan tidak hanya untuk kebutuhan satu tahun, tetapi hingga 18 bulan.

“Kami memang sengaja mengadakan obat-obatan untuk 18 bulan, bukan 12 bulan. Sebab, di antara Desember dan Januari biasanya anggaran belum masuk, sehingga pengadaan dilebihkan agar tidak sampai terjadi kekosongan stok obat di awal tahun,” akunya.

Anis juga membantah jika ada isu yang beredar bahwa pengadaan obat-obatan pada UPT Instalasi Farmasi “dimainkan”.

“Sejak tahun 86 saya sudah bekerja di sini pak, jadi mereka-mereka itu adalah murid saya, dan saya pastikan pengadaan obat Dinkes Tolitoli sudah sesuai dengan aturan yang ada,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kondisi kekosongan stok obat puskesmas terjadi di 15 PKM dan 1 rumah sakit pratama. Rerata petugas kesehatan yang ada mengaku stok obat kosong, sehingga pelayanan obat hanya diberikan seadanya.

“Ya benar, kondisi obat-obatan di Puskesmas kita sedang kosong, ya kita layani seadanya. Kami juga sudah sampaikan hal ini ke Dinkes namun entah bagaimana mekanismenya kok bisa terlambat. Selain itu, pelayanan kesehatan juga sempat terkendala selama hampir 2 pekan, karena 8 petugas medis terkonfirmasi reaktif, jadi harus isolasi mandiri di rumah, tetapi sekarang berangsur membaik,” beber Darwis saat dikonfirmasi via selulernya belum lama ini.

Asmi, Kepala Puskesmas Bangkir juga menyampaikan hal sama. Selama stok obat kurang bahkan ada pula jenis obat yang kosong, sehingga pihaknya hanya memberikan pelayanan sesuai dengan obat dan gejala yang ada, atau penyesuaian layanan.

“Setiap ada kekurangan atau kosong obat kami laporkan, tinggal bagaimana nanti mekanisme dari Dinas Kesehatan,” ungkapnya Asmi yang menambahkan, untuk stok vitamin bagi warga yang melakukan isolasi mandiri tetap diberikan, karena ketersediaan vitamin di Puskesmas Bangkir masih mencukupi.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Galang, Zunaidi, kepada Radar Sulteng mengaku juga mengalami kekurangan obat. “Lengkapnya kami sudah beritahukan ke Dinas Kesehatan, tidak tahu bagaimana mekanismenya sehingga terjadi keterlambatan pendistribusian obat, ya kami pun memberikan pelayanan seadanya, sesuai kondisi yang ada,” kata Zunaidi yang menambahkan, pelayanan bagi pasien isolasi mandiri tetap diberikan seperti asupan vitamin.

Saat ini, semua pusat layanan kesehatan membutuhkan BBM, Pulse oximeter, masker N95, masker medis, Handscoon S dan M, hand sanitizer, kacamata google, surgical gown, vitamin, obat N Ace, Zink, septi Plastik, hazmat, oximeter, biaya rujukan pasien Covid-19, vitamin, hazmat, sepatu boot, hingga oximeter.

Sedangkan stok obat yang kosong saat ini yakni, Ambroxol tab, Asam Mefenamat tab, Captopril 12,5 mg dan 25 mg, Cetirizin tab, Cetirizin syrup, Ciprofloxacin tab, Chloramphenicol salp kulit, Gentamycin salep kulit, Hidrocortison cream, Ibuprofen tab, Ketoconazole salp kulit, Ketorolac Inj, Metformin 500 mg tab, Methyl prednisolon 4 mg tab, Metronidazole 500 mg, Na. Diklofenak 25 mg, Nifedipin 10 mg, OBH syrup, Oxytetracyclin salp mata, Paracetamol tab 500 mg, Paracetamol syrup, Salbutamol 4 mg, NaCL 0,9 persen cairan infus, Salep 24, Simvastatin tab 20 mg. Sedangkan BMHP yang kosong yakni, Abbocath No.22, Abbocath No.24, Spoit 3 cc, Catheter no.16 atau no.18, Infuset makro, Infuset mikro.

Kemudian, sejumlah obat-oabatan yang akan expired yakni, Afolat (Asam folat) Agust 2021, Allopurinol tab 300 mg Oktober 2021, Amlodipine 5 mg September 2021, Amoxicillin syrup Oktober 2021, Antacida Suspensi September 2021, Antihemoroid suppo November 2021, Azythromycin Oktober 2021, Chloramphenicol Susp Agustus 2021, Furosemida Agustus 2021, Metoclopramid Agustus 2021, Prednison tab September 2021, Vit B12 Inj Oktober 2021, Vit K tab November 2021, Vaksin BCG November 2021, Vaksin Td September 2021, dan Vaksin DPT HB Hib November 2021,

Termasuk pula obat jenis Asam mefenamat, Ambroxol, Ambroxol syrup, Amoxicillin syrup, Antihemoroid suppo, Bethahistine 6 mg, Bisoprolol 5 mg, Captopril, Cotrimoksazole syrup, Ciprofloxacin, Cotrimokzole 480, Cetirizin, Dulcolax, Ibuprofen, Paracetamol 500 mg, Paracetamol syrup, Piroxicam (sejak 2020 tidak ada), hingga vitamin B Compleks.(dni)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.